Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 97 Penyesalan Terdalam


__ADS_3

"Aya, aku sudah teramat lelah dengan semua ini. Aku ingin mengakhiri semuanya dari tiga tahun yang lalu tapi kau buat drama besar. Aku mengalah bahkan harus kehilangan orang yang ku sayangi dan ku cinta karena dia pergi meninggalkan aku."


"Deya lagi, apakah dia sudah kau temukan hingga ingin membuangku lagi? Tidak cukupkah semua yang kulakukan untuk membayar semua kesalahanku?" ucap Soraya bergetar.


"Maaf, Aya. Kita hanya akan saling menyakiti jika terus bersama."


"Tidak, Ed, aku tidak mau berpisah denganmu, kumohon."


"Semua akan mengatakan tidak siap jika belum menjalaninya. Nyatanya, kita jarang bertemu pun kau merasa biasa saja. Kita bersama hanya demi Zahra. Kini dia sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Dia tinggal bersama denganmu atau aku itu sama saja karena kasih sayang dan cinta kita tetap ada untuknya."


"Ed...," panggil Soraya putus asa dan frustasi. Air matanya luruh, mengalir deras.


"Aku sudah memberi kesempatan bagi hubungan ini. Nyatanya, aku tidak bisa melupakan pengkhianatanmu dan aku juga tidak bisa menyingkirkan bayangan Deya dari dalam hatiku. Sekali lagi, maaf. Aku akan mengakhirinya. Aku kemari hanya ingin pamit dengan Zahra saja."


Edward meninggalkan Soraya yang meraung keras menangisi semua yang terjadi.


Zahra sendiri duduk di pinggir tempat tidur setelah sebelumnya mendengar pertengkaran ayah dan ibunya di lantai bawah.


Edward mengetuk pintu, menatap ke arah Zahra yang duduk menunduk.


"Kau belum tidur?" tanya Edward. Zahra menggelengkan kepala.


"Aku rindu tidur dengan Ayah."


Edward tersenyum lalu berjalan mendekat. Duduk di sebelah Zahra. Anak itu menyandarkan kepala pada Ayahnya.


"Sudah berapa lama aku tidak melakukan ini?" ucap Zahra. Edward menghela nafasnya.


"Ayah... maaf jika terdengar egois, hanya saja berada di rumah ini terasa seperti neraka untuk Ayah. Jadi kau tahu, Ayah tidak bisa tinggal di rumah ini dalam waktu yang lama."


"Aku mengerti, aku yang membuat Ayah tetap di sini kan?" Edward tersenyum memandang anaknya. Dia tumbuh lebih dewasa dari umurnya setelah semua yang terjadi dalam hidupnya.

__ADS_1


"Bagaimana pun kau adalah prioritas Ayah sampai kapan pun."


Zahra menatap Ayahnya dan memeluk Edward erat. "Apakah jika Ayah punya anak lagi, Ayah akan melupakan aku?"


"Tentu saja tidak. Kau adalah yang pertama dalam hidup Ayah karena kau yang mengajari Ayah menjadi seorang Ayah yang baik. Kau yang pertama memanggil Ayah dengan sebutan Ayah, kau yang membuat dunia Ayah lebih berwarna, tahu rasanya menjadi Ayah, tahu rasanya dicintai dan dibutuhkan oleh anaknya, lalu bagaimana semua hal yang pertama Ayah rasakan membuat Ayah lupa padamu."


Zahra menangis dalam dada Edward. "Aku sayang Ayah."


"Ayah juga sayang, Zahra. Ayah akan selalu ada untuk Zahra di saat Zahra membutuhkan Ayah."


Edward mencium kepala Zahra dalam. Dia sebenarnya tidak tega melakukan ini hanya saja kehidupan rumah tangganya yang tidak bahagia malah akan membuat pertumbuhan psikis dan mental anak itu tidak baik. Orang tua yang bahagia akan membuat anak ikut bahagia juga. Kebersamaan tidak selalu membuat kebahagiaan, mungkin perpisahan malah membuat hubungan yang telah memburuk akan membaik. Pikir Edward.


"Aku ingin Ayah membacakan aku dongeng lagi sebelum tidur," pinta Zahra. Edward mengangguk. Mereka lantas berbaring, Edward mengambil sebuah buku yang terletak di laci sudut ruangan. Buku itu sudah usang. Buku lama yang dulu sering dia bacakan untuk putri kecilnya.


Edward ikut berbaring di sisi Zahra. Dia mulai membaca dongeng itu, baru sebentar saja, Zahra kembali menangis terisak memeluk Ayahnya. Edward meletakkan buku itu dan mengusap punggung anaknya. Sesekali mengecup pucuk kepalanya. Mereka diam. Hanya bicara dalam hati saja.


Pelukan Zahra menggambarkan kesedihan dan ketakutannya berpisah dengan Edward yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Kali ini dia tidak ingin egois. Dulu dia pikirk jika Ayahnya tidak bersama lagi dengan Kak Deya, maka dia, Ayah dan ibunya bisa hidup bahagia lagi. Sekarang dia tahu, bukan Kak Deya yang salah dalam hal ini. Tetapi, sudah tidak ada kecocokan dalam hubungan Ayah dan ibunya. Walau diperbaiki tetap tidak akan menyatu.


"Apakah aku boleh tinggal bersama dengan Ayah?" tanya Zahra membuat Edward terkejut.


"Tapi jika Ayah keberatan tidak apa-apa?" Zahra pikir Ayahnya akan kembali bersama dengan Deya dan putranya sehingga tidak ingin diganggu dengan kehadiran Zahra. Hati anak itu menjadi sakit seketika dia ingin faham tentang hal itu tetapi tetap terasa sakit.


"Tentu saja kau boleh ikut Ayah kemanapun Ayah pergi. Hanya saja apakah Zahra akan menerima kehidupan baru Ayah?" tanya Edward.


"Asal Ayah selalu menyayangi dan mencintaiku," jawab Zahra.


"Kalau kau ingin seperti itu, kau boleh ikut tinggal bersama Ayah. Hanya saja kita akan tinggal di sebuah apartemen kecil."


"Milik Kak Deya yang dulu?"


Edward mengangguk, membaca pikiran anaknya. Zahra menunduk.

__ADS_1


"Kalau Kak Deya kembali apa dia menerima aku?"


"Tentu saja kenapa tidak? Bukankah dia sangat menyayangimu?"


Zahra kembali mengucurkan air matanya. Edward merasa ada yang salah di sini.


"Ada apa? Katakan pada Ayah apapun yang kau rasakan."


Zahra menghela nafasnya. Dia sebenarnya takut menceritakan kejadian dulu pada Ayahnya takut jika Ayahnya marah. Namun, rasa bersalah karena membuat Ayahnya sedih terus membayangi jiwa Zahra.


"Janji Ayah tidak akan marah pada Zahra jika Zahra katakan semuanya?" tanyanya.


"Tidak akan, tapi kau harus jujur dan meminta maaf jika salah."


"Sebenarnya waktu Zahra di rumah sakit dulu sewaktu kejadian ibu terluka oleh Ayah, Kak Deya mendatangi Zahra." Wajah Edward mendadak pucat.


"Dia meminta maaf pada Zahra, tetapi Zahra sangat marah karena Kak Deya mengambil Ayah dari Zahra sehingga Zahra meminta Kak Deya untuk pergi jauh dari Ayah," ungkap Zahra.


Edward mengepalkan tangannya keras. Menahan gemuruh dalam dadanya. Memejamkan dada untuk meredakan amarah yang mulai muncul.


"Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?" tanya Edward.


"Karena... karena Ayah selalu bersama dengan Kak Deya dan... melupakan aku," ucap Zahra tersengal-sengal.


"Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu. Ayah memang selalu pulang malam ketika bekerja dan sedang menghindari bertemu dengan ibumu. Kau tahu kan jika Ayah dan Ibu bertemu selalu bertengkar? Jadi Ayah tidur di rumah Kak Deya-mu. Permasalahan orang tua sangat rumit kau tidak harus tahu dengan semua yang terjadi. Namun, memang salah Ayah yang tidak pernah menemuimu ketika semua itu terjadi. Jadi jangan salahkan Kak Deya karena dia tidak pernah menghalangi Ayah untuk bertemu denganmu." Zahra mengerang keras, menangis, dan merasa menyesal.


"Ayah tahu perasaanmu, kau masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini. Ayah tidak akan memaksamu untuk memahaminya. Hanya saja Kak Deya sudah membuktikan jika dia lebih memilih kebahagiaanmu dari pada dirinya sendiri. Itu artinya dia sangat menyayangimu."


Perkataan Edward membuat tangis Zahra semakin keras. "Jika kau mau, kau harus meminta maaf padanya jika bertemu. Namun, itu jika ingin kau lakukan dari dasar hatimu karena Ayah tidak akan pernah memaksakan suatu hal padamu jika kau tidak ingin melakukannya."


"Tapi satu pesan Ayah. Kau harus tahu apa yang kau kerjakan agar kau bisa bertanggung jawab untuk semua yang sudah kau lakukan."

__ADS_1


__ADS_2