
Mak Saroh masih menangis tersedu di pojok dapur. Ingatannya akan suami dan anaknya kembali lagi. Tidak bisa mengerjakan apapun hanya berdiri memegang pisau tanpa melakukan apapun.
"Sabar Nak Saroh, Nyonya memang seperti itu."
Mak Saroh tidak mengatakan. Membuat semua pelayan ikut merasa sedih dan memeluk Mak Saroh. Tiba-tiba wanita itu pingsan, untung saja langsung direngkuh oleh Mr. Lee.
Deya yang melihat ikut terkejut tetapi dia orang baru tidak bisa berbuat apapun.
"Ini yang kutakutkan," ujar Mr. Lee. "Cepat bawa dia ke kamarnya."
Mak Saroh lalu dibawa ke kamarnya.
"Siapa ini yang masak menu sea food, hanya Mak Saroh yang bisa."
"Haruskah aku turun tangan sendiri." Ketika Mr Lee hendak mengambil sayuran di freezer seseorang mendekat ke arahnya.
"Mr.Lee, Nyonya mencari Anda di kamarnya."
"Haduh, bagaimana ini?" ucap Mr. Lee pusing.
"Biar aku saja. Aku bisa memasaknya."
Mr. Lee memicingkan matanya menatap Deya. "Kau, memang lulusan masak darimana sehingga berani masak di dapur keluarga Xavier?"
"Aku memang tidak pernah sekolah masak tetapi aku sudah terbiasa masak sedari kecil. Ibuku buka warung makan dan terbiasa masak untuk catering dan aku adalah asistennya."
"Ho... ho... ho... kau tidak sedang bercanda kan? Ini dapur keluarga terhormat, terkadang Tuan atau Nyonya saja memanggil chef dari luar negeri hanya untuk memasakkan hidangan spesial untuk mereka. Kau yang pernah memasak di hajatan 'orang kampung' berani sekali mau memasak makanan untuk keluarga ini."
Deya lalu menirukan gaya Mr Lee yang menggerakkan dua jari tengahnya bersamaan. "Tukang masak kampung ini bisa menghasilkan masakan yang akan membuat orang terbuai dan larut dalam rasanya. Anda tidak percaya?"
Mr. Lee mencebik sambil mengangkat bahunya. Dia berjalan melewati Deya.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan jika masakkan ku bisa diterima di lidah Tuan Xavier maka kau jangan pernah merendahkanku lagi tetapi jika tidak aku akan keluar dari rumah ini."
Mr. Lee menghentikan langkahnya. "Untuk apa aku bertaruh dengan orang rendahan sepertimu?"
"Karena kau takut kalah jadi menolaknya." Ego Mr.Lee terluka dengan kata-kata Deya.
"Hah! Aku takut? Takut dengan anak kecil yang masih bau ingusan sepertimu?"
"Kau takut salah menilai seseorang betulkan?"
__ADS_1
"Penilaianku tidak pernah salah. Baiklah kau boleh masak tetapi jika makananmu tidak layak dimakan kau jangan menangis ketika keluar dari rumah ini."
"Baiklah, deal."
Mr. Lee melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Waktumu hanya tinggal satu jam lagi. Kau harus memasak tiga macam makanan dalam waktu sesempit itu. Appetizer, makanan berat lalu dessert."
"Tidak ada yang boleh membantu anak ini."
Mr Lee melangkah pergi.
"Matilah kau Deya, berani sekali kau menantang pria tua itu," gumam Deya sendiri melangkah menuju ke lemari pendingin. Dia lalu menghubungi ibunya lewat panggilan video.
"Ayolah, Bu. Cepat angkat."
"Hallo De, ada apa?" tanya Ibu Ratmi.
"Ibu aku harus masak seafood dalam waktu satu jam dengan tiga menu, menu pembuka, menu berat, dan dessert. Aku tidak tahu harus masak apa yang cepat."
"Coba di sana ada apa saja?"
"Udang, Cumi, sayuran mentah, jeruk. Daging ayam, tahu, .... " Deya memperlihatkan apa saja dalam lemari pendingin itu.
"Oh ya, ada lembar pangsit nya."
"Lalu masak cumi pedas dengan sapo tahu. Ibu kira kau bisa memasaknya."
"Dessertnya buat puding saja yang mudah. Puding jeruk, lihat di youtube cara buatnya."
"Okey, Bu. Aku tidak akan mematikan videonya. Ibu bantu aku ya...." Deya mendekatkan bibirnya ke handphone lalu berbisik. "Ini di rumah mas Edward, perdanaku masak di sini."
"Memang...." Bu Ratmi ingin bertanya lebih dalam tetapi malah Deya memotong.
"Nanti aku akan ceritakan semuanya pada Ibu sekarang bantu aku masak dulu ya, Bu."
Deya lalu mulai masak dengan semua interuksi dari ibunya. Dia masak dengan tenang dan malah tertawa ketika ibunya atau ayah yang tiba-tiba ikut berkomunikasi mengajak bercanda.
Satu persatu bahan di cuci bersih di potong dan di masak. Hingga bau harum terasa hingga keluar dapur memenuhi setiap ruangan dalam rumah itu.
Edward yang baru kembali ke rumah. Seperti biasa Mr. Lee membukakan pintu dan menyambut kedatangannya. Dia langsung mencari sosok yang dia rindukan selama seharian ini.
__ADS_1
"Wah, bau seafood sepertinya enak membuat perutku lapar saja."
"Anda benar menu makan hari ini adalah seafood."
"Ed, kau sudah pulang?" sapa Soraya.
Edward hanya mengangkat kedua alisnya berjalan melewati Soraya. Wanita itu mengikutinya hingga ke kamar.
"Ed, kita harus bicara," kata Soraya.
"Apa yang harus dibicarakan bukankah kau ingin agar kita berpisah?"
"Aku minta maaf, saat itu aku mabuk dan tidak tahu apa yang telah kukatakan."
"Setelah dua bulan berlalu? Kau kira aku bodoh!" ucap Edward dingin dan ketus.
"Ku mohon, aku telah terjerumus hal yang tidak benar dan aku sudah sadar jika aku salah." Soraya mengatakannya dengan wajah penuh penyesalan.
Edward melepaskan dasinya dengan kesal. Dia enggan untuk melihat acting Soraya yang terkenal terlihat natural.
"Tidak usah pura-pura menyesal di depanku karena aku tahu siapa kau dan sifatmu itu." Soraya lalu bersimpuh memegang kaki Edward.
"Ed, aku sungguh menyesal, maafkan aku."
"Sungguh, Aya, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu dengan mudah. Kau sudah mengkhianatiku dan itu melukai hatiku yang terdalam."
"Kalau kesalahan lainnya masih bisa ku maafkan tapi itu terasa menjijikkan."
"Ed, aku mencintaimu, aku hanya sedang galau dan tertekan saat itu, dan aku dengan bodohnya melakukan kesalahan itu dan aku sadar jika aku telah membuang kehidupanku yang sesungguhnya yaitu kau dan Zahra," ucap Soraya tidak teratur karena kalut. Dia menunduk menangis masih bersimpuh di depan Edward.
"Aku tidak bisa memaafkanmu Aya, tetapi Zahra bisa memaafkanmu. Jika kau mau tetap di sini karena Zahra silahkan tetapi jangan berharap aku akan bisa mencintaimu seperti dulu lagi."
"Ed, tidak maukah kau memberikan aku satu kesempatan lagi."
"Satu kesempatan? Aku bahkan sudah memberimu banyak kesempatan waktu itu tapi kau menolak semua kesempatan itu. Kesempatan untukmu hanya satu kali ini menjadi ibu yang baik untuk Zahra."
"Aku mau pindah kamar. Kau bisa menempati kamar ini semaumu."
"Ed," ucap lemah Soraya bangkit, tetapi Edward tidak peduli terus berjalan keluar tanpa menoleh.
"Mr. Lee, ambilkan semua bajuku di kamar dan masukkan ke kamar tamu, aku akan tinggal di sana mulai sekarang," perintah Edward pada pria tua itu.
__ADS_1
Mr Lee yang berdiri di depan kamar Edward langsung siap sigap melaksanakan perintah majikannya. Dia memanggil dua pelayan lainnya untuk mengeluarkan baju Edward dari kamarnya. Selanjutnya, pergi mengikuti Tuannya.