
Deya sedang pergi keluar dengan adiknya mencari makanan di pinggir jalan sekalian cari udara segar. Hal yang lama tidak dia lakukan dan dia rindukan. Dia menikmati jalan-jalan malam dengan mengendarai sepeda motor ayahnya yang sudah buntut. Melihat kelap kelip lampu ibukota dan kemacetannya.
Dia dan dua saudaranya memakai masker dan topi agar tidak ada yang bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Bagaimana pun mereka takut kehadirannya akan menimbulkan keributan di wilayah ini yang berakibat buruk pada mereka.
"Kau ingin membeli apa?" tanya Deya ketika menyusuri trotoar yang penuh dengan deretan penjual makanan.
"Aku ingin membeli nasi goreng itu," tunjuk Raihan.
"Kalau aku ingin membeli apa ya? Ikut kakak saja," ujar Roy.
"Lihat dulu, nanti jika ada yang kau inginkan tinggal katakan saja."
"Iya, Kak."
Mereka lantas pergi ke gerai penjual nasi goreng. Memesan lima bungkus nasi goreng. Entah mengapa ketika Deya mencium aroma bawang yang menyengat rasa pusing melanda kepalanya dan perutnya mulai terasa mual.
"Empat saja, Pak, tidak jadi lima," ujar Deya keluar menutup hidung dan mulutnya agar tidak mencium aroma bawang.
"Kakak keluar dulu cari makanan lain."
"Tidak menunggu dulu nasi gorengnya matang? "
"Tidak, kalian tunggu di sini ya sampai kakak datang."
Raihan mengangguk sedangkan Royhan mau ikut Deya berkeliling tempat itu. Deya melihat satu penjual ketoprak seketika perutnya mulai berbunyi kencang. Dia ingin sekali makan di tempat itu tapi takut jika ada yang faham dengan wajahnya. Akhirnya dia memutuskan untuk memesan makanan itu dan membawa pulang. Dia juga memesan beberapa jus buah dan lucunya dia meminta dibuatkan jus mangga yang asam. Hal itu membuat penjual serta Roy mengernyitkan dahi.
"Mbak sedang ngidam apa? Kalau iya sebaiknya Mbak juga beli rujak buah di ujung sana. Di situ ada mangga muda khusus untuk orang yang sedang ngidam."
"Iyakah ada yang jual buah itu? Tetapi saya sedang tidak hamil kok," ujar Deya.
"Kali aja kalau Mbaknya ingin karena biasanya orang ngidam ingin makanan asam dan sepertinya Mbaknya itu sedang ngidam tapi tidak sadar. Waktu istri saya hamil anak pertama dia juga tidak tahu sedang hamil tapi inginnya rujakan setiap hari. Lantas saya ajak ke rumah sakit dan ternyata memang sedang hamil."
"Iyakah?"
"Mbaknya sudah menikah belum?" tanya penjual.
"Sudah."
__ADS_1
"Nah jadi kemungkinan besarnya Mbak sedang hamil."
Deya mulai berpikir, mungkin saja dia sedang hamil karena sudah satu bulan ini dia telah terlambat datang bulan. Namun, biasanya juga sering terlambat datang bulan.
"Memang Mba sedang hamil?" tanya Royhan.
"Tidak tahu."
"Kalau iya, aku akan punya keponakan kecil dong."
"Stts jangan bilang masalah ini pada siapapun termasuk ayah dan ibu."
"Ada bayarannya, Kak?"
"Kau mau perhitungan dengan Kakakmu?"
"Bukan begitu, hanya saja mengambil keuntungan dari kebahagiaan kakak. Kakak ipar jika mendengar pasti akan senang dan berika hadiah padaku."
"Eh... malah mau bilang pada Kakak iparmu, awas kau kalau mengatakannya nanti jatah uang jajanmu kakak potong."
"Eh itukan dari Kak Edward jadi Kakak tidak bisa melakukannya."
Deya membeli beberapa kue dan makanannya lainnya yang dia dan adiknya inginkan. Setelah itu mereka pulang ke rumah, tetapi sebelum itu mereka mampir ke apotik. Diam-diam Deya membeli testpack di sana.
Ketika kembali Deya melihat sebuah mobil mewah parkir di jalan depan rumahnya. Itu bukan mobil Edward lalu siapa yang datang. Deya memasukkan motornya ke garasi lalu masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Deya ketika masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab semua orang menoleh ke arah Deya.
"Bu Claudia," seru Deya tertahan.
"Iya, aku kemari untuk menemuimu." Deya melihat ke arah Ayah dan ibunya yang menampilkan wajah sedih.
Deya lantas mengambil tangan Mama Claudia dan mengecup punggungnya.
"Sudah lama, Bu?" tanya Deya duduk di antara ibu dan ayahnya.
__ADS_1
"Lumayan, tadi ketika kau baru saja pergi membeli makanan." Mama Claudia melihat ke arah tas plastik yang dibawa oleh Raihan dam Royhan masuk ke dalam rumah.
"Berarti sudah lama dong. Ibu tidak mengabariku terlebih dahulu. Jika iya pasti aku akan menunggu. Tapi bagaimana Ibu tahu jika aku ada di sini?"
Mama Claudia tersenyum. ''Apa yang tidak ku ketahui jika itu mengenai putra tunggalku."
"Deya Bapak dan Ibu mau ke dalam dahulu agar kalian bisa berbicara dengan lebih nyaman." Ayah dan Ibu Deya lantas masuk ke dalam rumah.
"Deya, mama langsung bicara ke inti permasalahan yang ada." Deya mengangguk dadanya berdegub kencang memikirkan apa yang akan dikatakan Ibu Edward.
"Kau itu telah menikah dengan Ed, jadi kau adalah menantuku walau secara tidak resmi." Deya menelan salivanya dengan sulit.
"Kalian sudah menikah beberapa bulan ini. Bolehkah Mama bertanya satu hal padamu. Ini tentang hal pribadi. Apakah kau saat ini sedang hamil?"
Deya dilema harus berkata jujur ataukah berbohong pada mertuanya. Dia memang tidak tahu apakah dia sedang hamil atau tidak tetapi dia sedang terlambat datang bulan dan kemungkinan ini karena dia sedang hamil.
"Sepertinya tidak Bu," jawab Deya.
"Panggil Mama saja seperti Ed dan Aya," ucap Claudia. Deya tersenyum kecut.
"Mama, aku sepertinya tidak hamil. Jikapun iya, Mas Ed adalah orang pertama yang akan ku beritahu dan dia pasti memberi tahu masalah ini pada Mama. Memang ada apa ya?" tanya Deya.
Raut wajah Mama Claudia mulai berubah serius.
"Sebenarnya bukan Mama bermaksud buruk padamu tetapi mengingat semua yang terjadi Mama harus membuat keputusan. Walau ini pasti berat untuk dijalani oleh semuanya."
"Keputusan apa, Ma?" Deya semakin penasaran. Hatinya sudah mulai terasa tidak menentu. Instingnya mengatakan bahwa ini adalah berita buruk yang akan terjadi.
Mama Claudia menghela nafas. Melihat ke arah sekitar. Sedangkan Ibu dan Ayah Deya bersandar di tembok mendengar pembicaraan anak dan besannya dengan perasaan yang tidak menentu. Walau mereka sudah mengurangi ini akan terjadi, tetapi ketika menjalaninya terasa tidak semudah apa yang mereka pikirkan.
"Mama harap engkau akan mengerti dengan apa yang Mama inginkan. Mengingat banyak yang dipertaruhkan dalam hubunganmu dan Edward. Mama tahu jika Ed sangat mencintaimu dia berkerja keras untuk menyelesaikan semua masalah yang ada. Agar bisa tetap bersamamu."
Deya mengangguk.
"Tapi perusahaan terguncang dengan semua pemberitaan ini. Langkah Edward sedang dijegal oleh Ayah Soraya dan Mario. Di sini Ed mungkin bisa mengatasinya."
Deya yakin suaminya bisa mengatasi hal itu.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Zahra? Apakah Edward bisa mengatasi kondisi Zahra yang semakin lama semakin memburuk. Anak itu bahkan tidak mau makan beberapa hari ini. Padahal kau tahu sendiri jika Edward sangat menyayangi dan mencintai Zahra. Dia adalah prioritas hidup Edward."
Deya mengerjapkan matanya cepat karena sudah merasa panas dan berembun. Dia mencoba tersenyum walau itu terasa sangat sulit. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan mertuanya ini.