
Ini malam pertama Deya tidur di rumah Edward. Zahra sendiri ikut menginap di apartemen milik ibunya. Jadi Deya dan Edward agak leluasa bersama walau mereka terlihat dingin ketika bertemu.
Deya memilih makan bersama dengan para pelayan lainnya, membiarkan Edward makan sendiri ditemani oleh Mr. Lee. Entah apa tanggapannya Deya tidak peduli, yang dia inginkan hanya ketenangan untuk sementara karena dia sadar dia sudah masuk di lubang neraka tinggal menunggu waktu kapan dirinya akan terbakar bersama Edward dalam masalah rumah tangga pria itu.
"Mbak coba sayur kangkung ala kampung, enak lho," ujar Mak Saroh pelayan lama di rumah ini. Dia menyendokkan sayur itu ke piring Deya.
"Memang enak kok Mbak, gurih karena ada teri medannya dan pedas, pokoknya top markotop deh. Ini mengalahkan masakan Chef Arnold," puji Deya.
"Mbak ini bisa saja. Tapi memang pernah makan masakan Chef yang terkenal itu?"
"He... he... belum sih tapi kalau masakan hotel bintang tujuh pernah," jawab Deya ngawur.
"Mana ada bintang tuju, Mbak?"
"Ada kalau lagi Cenat-cenut itu seperti berada di hotel bintang tuju."
"Itu merek obat, Mba," celetuk Tinah.
"Mbak itu suka melucu, makanya Non Zahra senang dekat dengan Mba."
"Bisa saja."
Handphone Deya berbunyi sebuah notifikasi chat masuk. Deya melihatnya. Chat dari Tuan Recehan.
'De, kok malah pergi, tidak menemaniku makan?' tanya Edward dalam chatnya.
'Jika aku selalu di dekatmu, aku takut hubungan kita akan tercium dengan mudah oleh semua orang. Aku akan merasa tidak nyaman."
'Aku ingin kau ada di sini agar bisa menemaniku bukannya pergi dengan pelayan yang lain.'
Deya membalas dengan Emoji lalu mensilentkan handphonenya agar tidak mengganggunya.
Setelah makan dan berbincang dengan pelayan dalam rumah ini, Deya baru pergi ke kamarnya. Suasana dalam rumah ini berbeda ketika waktu siang hari, apalagi ditambah dengan ketiadaan orang tua Edward di sini. Suasana terasa sunyi sepi. Tidak ada penjaga atau pelayan di rumah ini yang berseliweran. Hanya cahaya remang-remang yang masih menyinari setiap ruangan dan lorong rumah itu. Pak Lee yang sedang berjalan memeriksa setiap sudut rumah berpapasan dengan Deya.
Wajahnya nampak dingin dan tanpa ekspresi seperti biasanya. Bayangan abu-abu di sekitar matanya membuat ekspresinya seperti seorang psikopat yang mencari mangsa membuat bulu kuduk merinding seketika.
__ADS_1
"Selamat malam, Mr Lee," sapa Deya sopan sambil menundukkan wajah.
"Selamat malam. Aku harap kau bisa menjaga sikapmu berada di rumah ini. Ingat jika Tuan Edward sudah menikah dan kau jangan berusaha untuk menggoda dan menjeratnya karena itu akan sia-sia saja. Kau tidak sebanding keluarga mereka!" peringatan keras Mr. Lee dengan tatapan merendahkan dari kedua matanya yang kecil.
"Saya cukup tahu diri darimana saya berasal,," balas Deya.
"Syukurlah karena aku tidak mau ada masalah lagi dalam rumah ini, sudah tiga puluh tahun lebih aku bersama dengan keluarga ini dan selama itu pula aku menjaga ketenangan dalam rumah ini. Jangan pernah menjadi api jika itu kau lakukan maka aku bisa bertindak keras padamu."
"Aku akan mengingatnya."
Mr. Lee lalu melangkah pergi. Deya memegang dadanya sendiri yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia seperti hampir melihat hantu di rumah ini. Wajahnya menjadi pucat.
Sepertinya Mr Lee sudah mulai curiga dengannya padahal ini hari pertamanya menginap di rumah ini. Bagaimanapun tidak curiga, jika pelayan dan pengasuh Zahra di tempatkan di bagian belakang rumah sedangkan dia berada di rumah utama keluarga ini. Itu nampak sekali jika dia terlihat istimewa belum lagi kamar yang dia tempati termasuk kamar yang sering anggota keluarga gunakan bukan seperti kamar pelayan pada umumnya.
Itu tanpa sepengetahuan Mama Claudia karena tadinya Deya ditempatkan di kamar belakang juga. Edward meminta Mr Lee untuk membersihkan kamar samping Zahra setelah ibunya pergi untuk ditempati oleh Deya. Alasannya masuk akal agar Zahra lebih mudah mencarinya. Namun, bagi orang tua itu yang telah menuai banyak pengalaman hidup itu terasa janggal.
Deya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Ia dikejutkan oleh sebuah tangan yang memeluknya erat dari belakang dan memutar tubuhnya dengan cepat.
"Kau!" ucap Deya dengan wajah ditekuk.
"Kau itu hantunya datang tidak bilang-bilang malah mengejutkan. Coba kalau aku berterima keras semua orang pasti akan masuk kemari," omel Deya.
"Aku rindu padamu," kata Edward.
"Bukan rindu pada istrimu?" balik Deya membuat wajah Edward tidak senang. Pria itu melepaskan pelukannya dan melangkah ke tempat tidur.
"Dia tadi kemari, aku kira kalian akan baikan dan kembali mesra sehingga kau tidak lagi butuh aku," ujar Deya ketus. Okey, dia sebenarnya tidak senang melihat istri Edward datang kembali.
Edward mengangkat satu alisnya.
"Ya, sayangnya dia sudah pergi meninggalkan aku, untung ada kau," ledek Edward membuat wajah Deya bertambah masam.
Wanita itu pergi mengambil baju di lemari tidak mengatakan apapun. Batinnya risiko menjadi kedua itu seperti ini, si suami datang jika butuh saja. Dia menyesal menurut pada Edward untuk tinggal di rumah ini. Sama seperti menggali lubang kubur sendiri.
Deya mend*s*h keras. Mengeluarkan beban berat yang menindih dadanya.
__ADS_1
Edward tersenyum tipis. Lalu bergerak berusaha menggapai Deya yang berdiri sedikit jauh darinya lalu menarik bajunya. Hingga wanita itu terjatuh dalam pangkuannya. Memegang dagu wanita itu sehingga dia bisa melihat wajahnya yang ayu. Deya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kau tahu kan sudah beberapa hari ini aku merindukan aroma rambutmu yang selalu bisa membuatku terbang," ujar Edward.
"Gombal."
"Merindukan tatapan nakalmu ketika kau sedang bermanja-manja," lanjut Edward membuat pipi Deya merona. Edward mencium kedua mata Deya.
"Pipimu yang memerah tatkala ku menciumnya," lanjut ke pipinya.
"Suara nafas yang terengah-engah ketika kau terbakar gairah," bergerak menghisap pucuk hidungnya yang kecil.
"Bibirmu yang memanggil namaku dengan suara seximu," bibir Edward bergerak di bibir Deya. "Bukan ketika kau mengomel."
Deya menabok keras lengan Edward.
"Aw! Sakit," teriak Edward. "Belum apa-apa kau sudah KDRT."
"Lebay," ujar Deya dengan bibir manyun.
"Kau marah atau cemburu?" tanya Edward. Mencium leher Deya.
"Entah," jawab Deya jujur.
"Aku suka, itu tandanya kau mulai ada rasa untukku." Edward mulai menurunkan bibirnya ke tempat favoritnya sambil membuka kancing baju Deya satu persatu.
"Aku ingin kembali ke hunianku saja," ucap Deya dengan serak.
"Kenapa?" Edward menghentikan kegiatannya.
"Aku akan tidak nyaman jika istrimu kembali ke rumah ini." Edward menatapnya dengan ekspresi sulit dimengerti.
"Mengertilah...."
***
__ADS_1
Berikan dukungan kalian ke karya ini ya dengan memasukkan ke favorit dan jangan lupa likenya serta beri komentar. Love you semua....