
"Dafi jangan lari-lari Uti capai," ujar Ibu Ratmi yang terus mengejar seorang anak kecil yang sedang ber lari-lari di jalanan kompleks perumahan.
"Aduh, nanti kalau ada mobil bagaimana ini," gumam sang Nenek.
"Roy, tangkap Dafi. Dia cepat banget larinya, ibu sudah tidak kuat lagi."
Royhan yang melihat langsung berlari membantu ibunya, namun kaki mungil Dafi terantuk polisi tidur dan hampir terjatuh.
"Hap," seseorang menangkap tubuh gempal itu dan mengangkatnya tinggi ke udara.
"Mbul Ndut, mau kemana?" tanya Angga.
"Mau beli es krim," kata Dafi dengan suara cadel.
"Mana penjualnya nggak ada?" ujar Angga melihat ke kanan kiri.
"Oh, sudah pegi, kemana ya?" balik Dafi.
"Untung ada Nak Angga kalau tidak, habis nafas Ibu karena mengejar anak nakal ini." Ibu Ratmi membungkuk sambil memegang dadanya yang naik turun. Nafasnya terdengar tersengal-sengal.
"Dafi tidak nakal, hanya pintel," jawab Dafi menunjuk ke dadanya.
"Dafi memang pinter, Om jadi tambah sayang ma Dafi." Angga mencium pipi gempal Dafi. Mereka berempat lantas berjalan kembali ke rumah.
"Dimana Deya, Bu," tanya Angga.
"Sedang mencari barang-barang keperluan untuk rumah ini bersama dengan Rai, serta Ayah."
"Bagaimana rumahnya? Apakah sudah cocok sesuai dengan keinginan kalian? Maaf jika kecil hanya ini yang bisa kudapatkan sesuai dengan budget yang ada."
"Tidak apa-apa Nak Angga. Ibu sudah bersyukur Nak Angga mau membantu dan membayar separuh DP rumah ini."
"Ini bonus atas hasil kerja keras Deya."
"Bonus kok banyak banget."
"Berkat bantuan Deya yang menjual pakaian dan kain dari toko saya, kini usaha kami membesar. Kami juga sampai bisa membeli pabrik garmen."
__ADS_1
"Semua saling membantu dan menguntungkan dengan kerjasama yang kalian jalani. Deya mendapatkan barang murah dari tokomu dan kau dapat menjual banyak barang dengan bantuan Deya."
"Toko online Deya berkembang pesat bahkan omsetnya kini ratusan juta setiap bulan. Bahkan untuk bulan tertentu sampai milyaran."
"Ya, seperti hari lebaran atau tahun baru, penjualannya meningkat drastis. Jika begitu dia sampai lupa makan. Tapi tidak pernah melupakan anaknya."
"Selain sebagai pembisnis wanita yang hebat, dia juga hebat sebagai seorang ibu."
"Kok nggak beli es kim?" tanya Dafi ketika mulai melewati pintu gerbang rumah Deya.
"Nanti, Ibu pasti belikan untukmu jika pulang," ucap Angga. "Om punya hadiah untukmu di mobil. Tapi kau tunggu di sini, Om ambil dulu."
Mobil Angga diparkir di depan rumah Deya.
Sebuah mobil mulai terlihat mendekat dan membunyikan klakson.
"Lihat, itu Ibu pulang," tunjuk Angga pada sebuah mobil Avanza. Kepala Deya menjulur keluar, tersenyum.
Royhan yang melihat segera membuka pintu gerbang lebar-lebar. Setelah memasukkan mobilnya Deya keluar mobil.
"Kalau Ayah lelah biar nanti Rai dan Roy yang memasukkan semua barang itu ke rumah."
"Wah... mainan buat Dafi," pekik anak itu senang.
"Ya, bagus kan?" kata Deya. Dafi berlari ke arah Kakeknya yang sedang sibuk. Ibu Ratmi membantu anak dan suaminya membawa masuk barang belanjaan.
"Ayah beli mainan buat Dafi?" tanya anak itu pada Pak Seto. Dafi memanggil Pak Seto dengan sebutan Ayah karena semua orang dalam rumahnya memanggil kakeknya dengan sebutan itu.
"Ya, lihat, sebuah kereta mainan yang besar, kau suka?" Angga mengangguk.
"Sudah lama, Ngga?" tanya Deya.
"Baru saja datang." Mereka lantas menuju ke balkon lantai dua dan berbicara di sana.
"Tadi aku pergi ke toko yang kita beli kemarin. Tadi pekerja lelaki dan tukang cat sedang mengecat tempat itu sekalian menatanya agar bisa digunakan secepatnya. Yang utama bagian atasnya agar bisa menjual barang di media sosial dengan cepat. Sedangkan yang bawah menunggu bagian atas selesai terlebih dahulu."
"Kau benar. Kita harus membuka toko online terlebih dahulu. Jika toko itu selesai maka toko yang ada di rumah lamamu bisa dipindah ke sana dengan cepat."
__ADS_1
"Sulit meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi kesulitan hidup dan yang menjadi saksi ku bangkit dari keterpurukan."
"Rumah yang penuh kenangan?"
"Ya. Pemilik rumah kontrakan itu juga keberatan aku meninggalkan ruko miliknya."
"Ya, karena kau menjadikannya bagus lagi dari yang tadinya tidak terawat. Kau bawa hoki bagi yang dekat denganmu," kata Angga.
'Tapi tidak dengan keluarga Mas Ed," batin Deya sedih. Dia masih saja memikirkan pria itu walau dua tahun telah berlalu. Dia turut bahagia karena Edward mencabut berkas gugatan cerai. Itu artinya rumah tangga mereka kini baik-baik saja. Walau kabar kebersamaan keluarga itu tidak terlihat lagi di media sosial milik Soraya. Deya tidak mau memikirkannya. Dia sudah tenang hidup damai seperti ini.
"Mamaku sudah membuka gerai di Mall yang ku tunjuk tempo hari. Cabang dari toko di tanah Abang."
"Oh, ya syukurlah."
"Niatnya aku ingin membawamu kesana, tetapi kelihatannya kau lelah dan mungkin sedang sibuk karena harus menata barang yang baru kau beli."
"Kapan-kapan saja ya," kata Deya.
"Tidak masalah hanya saja aku ingin membawa Dafi ikut ke sana. Itu kalau kau perbolehkan. Mama juga rindu pada anak itu. Kalian sudah lama tidak main ke rumah."
"Kau tahu, aku sedang sibuk, tidak punya waktu lebih."
"Tidak masalah. Aku tahu kesibukanmu karena itu aku hanya ingin mengajak Dafi saja."
"Tapi bersama dengan Royhan?" ujar Deya yang tidak ingin Dafi merepotkan Angga walau dia tahu Angga dan keluarganya memang menyayangi Dafi.
Semenjak Deya bekerjasama dengan Angga untuk memasarkan baju milik tokonya, orang tua Angga sedikit demi sedikit bersikap baik padanya. Sejatinya, orang tua Angga saat itu sedang mengalami resesi dan hampir bangkrut karena pernah ditipu oleh seseorang. Mereka sampai menjual saham yang mereka miliki di perusahaan Edward untuk membangkitkan lagu usaha mereka di Tanah Abang. Hadirnya Deya menberikan kesejukan bagi usaha mereka. Kini mereka sama-sama diuntungkan dalam kerja sama ini.
Di tambah lagi dengan kedekatan Angga dan Deya mempererat hubungan kerja sama ini. Orang tua Angga juga sudah merestui hubungan mereka dan berencana melamar Deya dalam waktu dekat. Deya merasa dilema. Dia tahu statusnya dalam agama belum di cerai oleh Edward walau dalam negara dia berstatus sebagai ibu tanpa suami.
"Ya, kau belum memberikan jawabanmu," kata Angga.
"Aku tidak tahu Ngga, statusku belum jelas."
"Kalau kau mau, aku akan mengantarkanmu padanya? Kalian selesaikan segera." ujar Angga.
"Ngga, tidak semudah itu. Jika Mas Ed melihatku apakah dia akan melepaskanku? Apalagi jika dia tahu aku punya seorang putra yang dia inginkan."
__ADS_1
"Apa hatimu yang masih tertawan dalam cintanya sehingga tidak mau melepaskan statusmu dan terus hidup dalam kenangan pria itu?''
Deya menatap lekat Angga.