
Tiga malam yang dia lalui bersama dengan Edward begitu luar biasa membuat dia tidak bisa melupakan semuanya dengan mudah. Sudah hampir lima hari ini Deya tidak bertemu dengan pria itu. Rasa rindu seakan terus memaksanya untuk bertemu. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini. Setelah dia mencoba untuk menganggapnya seperti seorang suami seutuhnya.
Deya menangis di apartemen miliknya menatap langit malam. Dia berbalik menatap sajadah yang masih tergelar di lantai. Menengadahkan wajahnya sambil menyeka air mata.
"Ya, Tuhan apa yang harus kulakukan. Aku bukan wanita yang sama seperti yang dulu." Bagaimana dia menjelaskan semua pada orangtuanya.
Deya kembali ke sajadahnya setelah mendengar adzan isya berkumandang. Setelah itu berdoa dan melantunkan ayat suci Al-Quran dari handphonenya sambil bersandar pada pinggiran ranjang. Dia membaca dalam gelap, hingga akhirnya dia mengantuk, tertidur sambil duduk.
Sedangkan tengah malam. Edward sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Deya yang kecewa ketika dia tinggalkan, berputar terus dalam otaknya. Dalam hatinya bertanya apakah yang dilakukan wanita itu? Apakah dia bahagia setelah dilepaskan.
Ya, dia pasti bahagia karena bisa kembali bersama dengan pacarnya. Semua wanita itu sama. Bisa mencintai dua pria disaat yang sama. Namun, hati kecilnya berkata lain. Deya berbeda. Hatinya mulai tersiksa jauh dari wanita itu.
Oleh karena tidak tahan dengan semua perasaan yang mengganjal dalam hatinya entah itu karena rasa rindu yang membuncah, Edward langsung berdiri dari ranjang dan turun ke bawah menyambar kunci mobil dan pergi meninggalkan rumah.
Satu jam kemudian dia sudah berada di dalam apartemen Deya, membuka pintu kamar wanita itu pelan. Ada pemandangan yang terasa menyejukkan hatinya tatkala melihat Deya tertidur di lantai dengan mukena yang dia gunakan.
Edward melangkah tanpa bersuara sedikit pun. Mendekati Deya. Handphone wanita itu masih menyala dengan suara murotal yang masih terdengar kecil serta tulisan ayat suci Al-Quran di dalamnya. Edward menghela nafasnya. Mematikan handphone itu.
Entah sudah berapa lama, dia tidak membaca Al-Quran karena kesibukannya dan karena masalah yang membelit keluarganya. Mungkin karena itu Tuhan memberinya cobaan agar kembali ke jalan-Nya. Dia juga telah baik hati memberikan Deya agar menyinari hatinya yang gelap. Lantas kenapa dia tega membuang Deya yang seperti cahaya surga dalam hidupnya.
Dia bahkan tidak pernah mendengar Soraya mengaji kecuali saat awal mereka bersama Soraya sempat belajar membaca Al-Quran walau untuk sementara. Mungkin itu dia lakukan untuk merebut hati Edward dan kedua orang tuanya. Deya berbeda.
Tubuh Deya ditekuk dengan wajah yang berada di antara kedua lutut. Edward lalu mulai mengangkat tubuh mungil istri simpanannya. Dia terkejut melihat ada titik basah di sudut mata Deya ketika membaringkannya. Hatinya mendesir sakit seketika.
Kelopak mata Deya mulai bergerak dan menatap Edward ada di depannya. Dia diam untuk sejenak. Satu tangannya diangkat menyentuh wajah pria yang sudah menjadi suaminya. Ini memang dia bukan hanya mimpi semata. Tangis Deya memecah kesunyian ruangan itu. Edward merengkuh tubuh Deya memeluknya erat.
"Maafkan aku," ucapnya sesak. Deya tidak mengatakan apapun, suara tangisnya sudah menggambarkan hatinya yang terluka. Sesaat mereka hanya saling memeluk tanpa mengatakan apapun.
Edward menjauhkan tubuhnya dari Deya. Dia menatap dalam mata wanita itu, tersenyum. Lalu mengecup kedua mata Deya dan seluruh wajahnya.
"Aku tidak janji ini, tidak akan membuatmu menangis lagi karena jika kau memilih tetap bersamaku, kau akan menemui banyak kesulitan nantinya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu ini salah karena aku masuk ke kehidupan rumah tangga seseorang dan merusaknya, hanya saja saat ini aku belum siap untuk kau tinggalkan," jujur Deya dengan suara serak.
"Aku pun tidak ingin kehilanganmu," Edward kembali memeluk Deya erat dan mencium pucuk kepala wanita itu.
"Jangan tinggalkan aku," pinta Deya tanpa dia sadari, menghirup aroma yang dia rindukan selama beberapa hari ini.
"Apa kau yakin?" Deya mengangguk.
Edward tersenyum dalam gelap tetapi Deya bisa melihatnya. Pria itu mulai mencium pipi Deya lalu beralih ke bibirnya yang kenyal dan manis sedikit berasa asin karena bercampur dengan air mata.
Deya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang Edward lakukan. Kali ini dengan rasa yang berbeda karena mereka melakukannya dengan rasa yang tidak mereka mengerti apa itu. Rasa ingin memiliki seutuhnya dan rasa takut kehilangan serta rindu yang kini mulai terobati dengan pertemuan ini.
"Hhhh Deya kau wanita paling sempurna yang kumiliki," erang Edward tatkala menemukan puncak dari pertemuan rasa yang ada. Yang membawa mereka pada kenikmatan yang menyatu. Edward tidak tahan untuk menarik miliknya dalam diri Deya sehingga air mani itu tumpah di dalam rahim Deya.
"Maaf, aku tidak tahan," ucapnya sambil melihat wajah Deya terengah-engah.
Deya tidak mampu menjawab hanya menggelengkan kepala dan tertawa. Edward ikut tertawa dan memeluk Deya meletakkan kepala di antara ceruk leher wanita itu dan menciumnya dalam. "Terimakasih." Bisik Edward.
"Hmmm," respon Deya. Membuat Edward bersemangat lagi.
Deya menggeleng malu. "Satu lagi boleh?" Deya membelalakkan matanya yang lentik. Tangan Edward mengusap rambut Deya dengan penuh kasih sayang.
"Mulai kini kau harus rajin minum pil KB agar tidak hamil. Bukan karena aku melarangmu punya anak, hanya saja kita tidak tahu nasib hubungan ini ke depan. Hanya untuk berjaga-jaga. Jika pun ada aku akan bertanggung-jawab sepenuhnya."
"Apakah kau ingin punya anak dariku atau tidak?" tanya Deya balik.
"Tidak adil jika kau tetap menjadi istriku dan aku melarangmu punya anak dariku. Hanya saja sekarang bukan saat yang tepat. Lagipula kau juga harus menyelesaikan kuliahmu. Kau harus menjadi wanita yang punya nilai lebih agar tidak diremehkan oleh siapapun nantinya."
Deya mengangguk setuju dengan pemikiran Edward. Mereka lalu mengulang kembali kegiatan panas mereka hingga lelah dan berbaring saling berpelukan.
"Tidurlah ini hampir pagi besok kau harus berangkat ke kantor untuk menyelesaikan magangmu."
__ADS_1
"Beberapa hari ini aku tidak melihatmu di gedung," tanya Deya.
"Aku pergi keluar kota." Deya kembali membenamkan wajahnya dalam dada Edward. Memejamkan mata. Mendengar detak jantung Edward yang seirama dengan denyut jantungnya.
"Apakah kau akan pergi setelah aku tertidur?" tanyanya. Terdengar helaan suara berat dari Edward.
"Aku tidak bisa menginap di sini Deya. Kau tahukan jika...."
"Ya, aku tahu dengan posisiku. Hanya saja aku merasa kecewa ketika kau pergi tanpa pamit apalagi kau selalu memberiku uang atau barang setelahnya. Aku merasa jika aku adalah wanita bayaran."
"Hush, kau adalah istriku." Edward mengambil dagu Deya dan mengangkatnya agar bisa melihat wajah manis nan ayu milik wanita itu.
"Aku hanya tidak akan tega bila kau melihatku pergi."
"Itu lebih baik daripada pergi diam-diam."
"Bisakah aku tetap memelukmu hingga pagi tiba?" tanya Deya yang dia tahu sendiri jawabannya. "Aku merasa dingin dan kesepian ketika kau tidak ada."
Edward terdiam. Dia mencium Deya cepat dan bangkit. "Aku harus pulang ini sudah hampir pagi. Orang rumah pasti mencariku apalagi Ibu dan Ayah ada di rumah juga."
Setelah mengenakan kembali pakaiannya, dia mendekat ke arah Deya. Mengecup bibir wanita itu yang ditekuk.
"Jangan berwajah masam seperti itu, aku jadi tidak bisa pergi."
"Pergi saja sana..." usir Deya entah mengapa merasa kesal.
"Kita akan kembali ketemu nanti di kantor."
"Makanya sana pergi," tolak Deya. Edward malah menciuminya gemas. "Geli... akh!" Deya tertawa.
"Nah seperti itu aku baru mau pergi." Edward mengulurkan tangannya. Deya mencium punggung tangan pria itu.
__ADS_1
"Apakah istrimu tidak akan curiga kau pergi malam-malam."
"Dia tidak ada di rumah." Edward tidak ingin membicarakan masalah Soraya panjang lebar dengan Deya. Dia langsung keluar dari kamar itu dengan perasaan lega.