
Edward memeluk anaknya ketika menuruni tangga. Soraya menatap ke arah mereka dengan mata nanar.
"Kau akan bawa pergi Zahra?" tanya Soraya keras meminta penjelasan.
"Ya, dia ingin ikut bersamaku," jawab Edward santai. Soraya mendekat ketika mereka telah sampai di ujung tangga memegang tangan Zahra.
"Zahra kau mau meninggalkan Ibu?" Soraya mengoyak keras bahu Zahra.
"Bu, aku ikut Ayah bukan berarti aku meninggalkan Ibu," ucap Zahra.
"Tidak, kau tidak boleh meninggalkan Ibu sendiri di sini!" teriak Soraya menarik keras tangan Zahra sehingga anak itu meringis kesakitan.
"Bu, sakit," liriknya dengan mata memerah.
"Ibu tidak akan membiarkan kau pergi meninggalkan Ibu sendiri. Kau harus tetap di sini," ucap Soraya mulai panik genggaman tangannya semakin keras sehingga kukunya melukai kulit Zahra yang lembut.
"Aya, lepaskan. Kau menyakiti Zahra," bentak Edward sambil membantu Zahra melepaskan tarikan tangan Aya. Setelah terlepas, Edward melihat tangan Aya yang kemerahan dan lecet terkena kuku runcing Soraya.
"Kau gila karena telah menyakiti anak kita." Wajah Edward menggelap, menatap tajam Soraya.
"Aku gila karena kau selalu menyakitiku. Kau ingin meninggalkan aku sendiri, pergi bersama Zahra untuk kembali pada wanita murahan itu!" seru Soraya dengan mata penuh luka.
"Aku pergi karena sudah tidak tahan lagi hidup bersama denganmu, jadi jangan salahkan dia terus. Kau yang memulai masalah dengan berkhianat dariku jadi jangan salahkan dia. Bercerminlah! Tanya pada dirimu sendiri apakah kau lebih baik darinya yang kau anggap murahan?" Edward berusaha meredam emosinya sekuat tenaga berbicara dari hati. Dia ingat kata Deya untuk tidak bertengkar di depan Zahra demi kondisi mental anaknya.
"Jangan memaksaku untuk mengatakan hal yang lebih menyakitkan untukmu. Sudah cukup semuanya. Sudah kukatakan tadi, jika bersama kita bagai musuh, alangkah baiknya jika kita berpisah lalu menjadi sahabat atau saudara."
"Kau dan aku tetap bisa menjaga Zahra bersama. Tidak ada batas selama Zahra merasa nyaman. Jika dia ingin bersamamu itu tidak masalah bagiku."
Tubuh Aya luruh ke lantai menangis keras. Zahra berjongkok di depan ibunya.
"Ibu, aku pergi bukan berarti aku meninggalkan Ibu. Ibu bisa menemuiku kapan pun Ibu mau."
Aya tidak bisa menjawab hanya raungan tangisnya saja yang terdengar keras. Edward melihat ke arah Mr. Lee yang berdiri di bawah tangga.
"Mr.Lee tolong jaga Aya, hubungi mertuaku untuk datang kemari. Jangan lupa Dokter Franda."
"Aku tidak gila, Ed!"
__ADS_1
"Kau tidak gila, tapi aku takut kau menyakiti diri sendiri nanti."
Edward menggenggam tangan Zahra mengajaknya pergi.
"Aku pergi Aya, jaga dirimu baik-baik. Maaf aku tidak bisa menjadi suami yang kau harapkan selama ini. Semuanya memang karena kesalahan dan keteledoran ku sehingga semua ini terjadi. Namun, semua yang terjadi tidak bisa diulang kembali, kita hanya bisa menata hidup kita kembali ke depan. Kembalilah hidup bahagia, Aya tanpa diriku. Assalamu'alaikum."
Sepeninggal Edward, Aya tertawa sambil menyeka wajahnya yang basah. "Jika aku menangis, kau harus ikut menangis. Jika aku tidak bisa bahagia, kau juga harus menderita. Jika kau meninggalkan, aku maka akan kubuat dia meninggalkanmu selamanya."
"Apa sakit, Sayang?" tanya Edward melihat luka di tangan Zahra. Anak itu menggelengkan kepala. Tanpa Edward tahu, terkadang Soraya melakukan kekerasan padanya jika tidak mengikuti perintah ibunya. Walau tidak parah tetapi mencubit atau memukul itu sudah biasa dilakukan. Seperti kemarin ketika Zahra enggan untuk ikut ibunya memilih baju di butik. Ibunya menyeret Zahra begitu saja dan memaksanya untuk ikut walau Zahra sudah terjatuh ke lantai.
Namun, ada saatnya ketika pikiran ibunya normal. Dia akan meminta maaf dan menangis di depan Zahra. Meminta anaknya agar jangan mengatakan ini pada Ayahnya.
Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder) adalah penyakit yang diderita oleh Soraya, itu yang pernah Dokter Franda katakan pada Zahra ketika dokter itu main ke rumah. Awalnya Zahra bertanya mengapa Ibunya suka marah-marah, lain waktu menjadi Ibu yang baik sekali. Dokter Franda lantas menjelaskan penyakit yang di derita ibunya pada Zahra. Meminta agar Zahra bersikap baik dan tenang agar tidak memancing emosi ibunya. Namun, lama kelamaan Zahra lelah sendiri dengan semua itu. Apalagi jika ayahnya lama tidak pulang, Soraya sering kali marah-marah pada semua orang, tidak terkecuali Zahra.
"Ibumu sangat keterlaluan." Edward menghela nafasnya lantas memeluk anaknya sejenak sebelum menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Ayah akan pergi ke luar provinsi, besok. Apakah kau mau ikut Ayah? Atau mau berada di rumah Opa saja?"
"Aku di rumah Opa saja."
"Kalau begitu kau tidak sekolah dulu beberapa hari karena jarak rumah Opa dan sekolahmu jauh."
"Jika Kak Deya tidak mengajakku pergi ke sekolah sampai saat ini aku masih ada di rumah." Mendadak Zahra mengatakan itu. Edward menoleh menatap Zahra sejenak lantas kembali melihat ke arah jalan yang sedang mereka lalui.
"Aku juga mungkin masih duduk di kursi roda." Zahra mende**#, menunduk.
"Dia pasti senang jika melihat kau seperti ini dan bangga dengan pencapaian anak Ayah di sekolah." Zahra menatap ke arah Edward.
"Apa Kak Deya akan membenciku karena...."
"Ayah rasa tidak," jawab Edward. Tangan satunya mengusap rambut Zahra.
"Mungkin saja karena...." Zahra nampak ragu mengatakannya.
"Karena apa Sayang?"
"Tidak apa-apa." Zahra berniat meminta maaf dulu pada Deya sebelum mengatakan pada Ayahnya jika dia sudah menemukan istri muda Ayahnya dan adiknya. Ayahnya pasti akan sangat senang.
__ADS_1
"Yah, Pak Slamet tetap jadi sopirku, ya," pinta Zahra lagi.
"Kau boleh minta apapun selama itu untuk. kebaikan."
***
Hari ini Deya merasa bosan. Edward tidak terlihat tiga hari ini. Mungkin dia banyak pekerjaan di kantornya pikir Deya. Atau mungkin pria itu sedang bersama keluarganya sehingga tidak bisa datang kemari.
Keluarga, huft, dia memang sudah punya anak dan istri yang cantik, tidak sepantasnya dia masih berharap pada Edward karena pria itu sudah hidup bahagia bersama keluarganya.
Pikiran tentang Edward membuat nya tidak bisa tenang. Netranya yang berhias bulu mata tebal selalu menunggu sosok Edward datang dan duduk di kursinya. Hal itu meyakinkannya jika sebenarnya cinta itu masih ada di dada Deya walau waktu telah memisahkan mereka berdua sekian lama dan walau dia juga kembali dekat dengan Angga. Namun, itu tetap saja tidak bisa menghalau kehadiran Edward dalam pikirannya setiap saat.
Deya menjatuhkan kepalanya ke meja. Dia melihat Satria berjalan masuk ke stand. Deya lantas bangkit berjalan mendekati pria itu.
"Dimana Tuan Edward, kenapa dia tidak terlihat beberapa hari ini?" tanya Deya menyingkirkan gengsinya.
Satria menaikkan kedua alisnya ke atas. Tuannya baru tiba dari Sulawesi dini hari tadi. Dia mengatakan akan ke kantor siang hari karena ada rapat penting. Namun, sebelum itu. Dia ingin beristirahat sejenak di apartemen.
"Tuan sedang sakit di apartementnya. Ehm... condonium kalian yang dulu. Dia sendiri yang sana."
"Sakit... Sakit apa?"
"Dadanya terasa sesak," terang Satria 'karena memikirkan nyonya,' batinnya.
"Apakah dia menderita penyakit parah?" tanya Deya semakin panik.
"Ya, dia menderita penyakit dalam yang dirahasiakan nya. Dia tidak ingin semua tahu dengan apa yang dia rasakan. Saya sebenarnya ikut sedih tapi tidak bisa berbuat apapun hanya ikut menemani di apartemennya takut jika Tuan membutuhkan sesuatu tidak ada yang akan membantunya."
"Lalu istrinya?"
"Mereka sudah berpisah lama hanya saja surat cerai masih diurus pihak pengadilan."
Satria menahan tawanya melihat ekspresi Deya yang kebingungan.
"Saya kemari juga sebentar untuk mengecek penjualan hari ini. Sebenarnya saya tidak tega meninggalkan Tuan sendiri, tapi kalau tidak ada yang mengurus pekerjaan Tuan maka dia sendiri yang akan turun tangan padahal kondisinya...." Satria tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah, untuk apa aku membicarakan tentang masalah Tuan pada Nyonya. Bukankah kalian sudah berpisah?" Satria lantas kembali pergi setelah berbicara dengan bawahannya di stand milik Edward.
__ADS_1
Deya mulai berpikir. "Sakit parah? Sakit apa? Sendiri?"