
"Aku tidak tahu jika keadaan Zahra seburuk itu. Apakah dia bisa ditemui, Ma?" tanya Deya.
"Sejauh ini Edward selalu menemaninya karena itu dia tidak punya waktu untuk menemuimu."
Deya menghela nafas panjang.
"Aku tahu, Soraya yang bersalah. Aku juga tahu selama ini kau sudah mengurus Edward ku dengan baik. Namun, kita kadang tersudutkan sehingga tidak bisa memilih. Ini berat Deya, tetapi aku hanya bisa menyampaikan ini padamu."
Mama Claudia seperti tidak kuasa untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Dia bisa melihat Deya juga sudah terlihat terluka. Anak itu nampak serius berhubungan dengan Edward. Bukan cuma sekedar main-main atau hanya untuk uang semata.
"Apa kau mencintai Edward?" tanya Mama Claudia. Membuat Deya terkejut. Wanita itu nampak gugup dan bingung.
'Apakah iya, aku mencintai Mas Edward.' pertanyaan itu juga berputar di kepala Deya untuk beberapa hari ini. Dia sangat merindukan Edward walau baru dia hari tidak bertemu. Dia tidak bisa tidur tanpa menghirup aromanya dan dia tidak bisa makan membayangkan pria itu sudah makan atau belum.
"Jika bukan karena cinta aku tidak akan bertahan sampai sekarang," jawab Deya tegas.
"Apakah cinta itu akan membiarkan seorang anak kehilangan nyawanya karena tertekan?" balik Mama Claudia membuat Deya terdiam.
"Zahra itu anakku juga tidak mungkin aku akan bahagia diatas penderitaannya. Aku bisa menahan semuanya tetapi anak itu terlalu rapuh untuk tahu konflik yang terjadi antara kedua orang tuanya. Kita tidak bisa mengorbankan kebahagiaan seorang anak demi kebahagiaan diri kita sendiri. Aku wanita suatu saat akan melahirkan seorang anak juga." Deya menelan salivanya dengan sulit. Mencari kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya.
"Intinya, Zahra atau anakku suatu hari nanti harus mendapatkan kebahagiaannya. Jadi aku tidak bisa menghalangi kebahagian Zahra untuk memiliki kedua orang tuanya. Selama ini dia sudah cukup menderita karena semua yang terjadi. Sakit yang menyerangnya, perlakuan ibunya yang cuek pada masanya membuat Zahra merasa rindu akan kasih sayang itu. Kini, dia telah mendapatkannya, akankah aku menghalanginya untuk mendapatkan cinta kasih ibunya? Tidak mungkin."
"Mengapa aku mengatakan seperti itu karena jika aku mau, aku meminta Mas Edward untuk. mengambil Zahra dari Mba Soraya tetapi aku tidak mau melihat kebahagiaan yang baru Zahra dapatkan hilang seketika. Sedangkan, untuk bisa bersama dengan ibunya, Zahra harus kehilangan ayahnya karena Mas Edward tidak bisa bersama dengan Mba Soraya."
"Aku tahu itu. Edward sudah terlalu kecewa dengan Soraya," timpal Mama Claudia
"Apakah jika aku pergi Mas Edward mau kembali bersama dengan Mba Aya?"
"Mama tidak tahu tetapi hanya itu pilihannya."
"Jika itu pikiran Mama maka akan Deya lakukan karena percuma saja Deya bertahan jika Mas Edward kehilangan segalanya. Dukungan dari orang tuanya, kehilangan anaknya juga kehilangan perusahaannya. Mas Edward juga tidak akan bahagia jika semua itu terjadi padanya walau dia bersamaku."
Mama Claudia terkejut dengan pemikiran Deya yang dewasa dan bijaksana. Dia sangat takjub dan kagum disaat yang bersamaan.
"Deya...." lirih Mama Claudia
__ADS_1
Dia bangkit dan berjalan mendekat ke arah Deya lalu memeluknya dari samping. "Maafkan Mama."
"Tidak ada apa-apa, Ma. Mungkin ini jalan hidup Deya. Kata orang jika jodoh tidak akan kemana. Jika Mas Edward jodohku kami akan bersama lagi walau semua dunia menentang. Namun, kali ini aku memilih untuk menenangkan situasi dengan pergi dari kehidupan kalian semua."
"Tadinya Mama menganggapmu remeh, mengira kau hanya wanita muda ambisius yang butuh uang Edward saja. Tetapi setelah mengenalmu lebih dekat ternyata kau wanita hebat. Pantas saja Edward sangat memujamu dan selalu mempertahankan mu walau semua orang menentang dan menghina hubungan kalian."
"Awalnya kami memang menikah hanya karena saling membutuhkan namun kedekatan kami tercipta oleh waktu." Air mata yang sejak tadi Deya tahan akhirnya luluh lantah juga.
"Tolong jangan benci Mama karena melakukan ini padamu."
"Deya tidak membenci siapapun. Tapi benci pada diri Deya sendiri yang merasa lelah dan menyerah untuk bertahan. Semua terasa sulit jika dipertahankan pun percuma."
Hati Deya merasa hancur kini. Saat perpisahan dengan Edward mulai dihitung dari sekarang.
"Namun, sebelum itu terjadi aku ingin bertemu dengan Mas Edward untuk yang terakhir kali. Biarkan Deya sendiri yang mengatakan perpisahan ini. Mama jangan mengatakan apapun pada Mas Edward."
"Maafkan, Mama, Nak. Kau memang menantu terbaikku tapi sayang Mama harus melepaskanmu ketika kita baru bertemu sebagai mertua dan menantu untuk pertama kalinya."
"Hubungan menantu dan mertua tidak akan pernah putus walau hubungan suami istri telah putus," ucap Deya dingin. Dia sudah tidak bisa merasakan sakit lagi.
Deya tersenyum kecut.
"Ma, pintaku hanya Mama bantu aku untuk bisa bersama Mas Edward untuk terakhir kalinya."
"Kapan?"
"Besok juga boleh."
"Secepat itu?"
"Semakin lama malah akan semakin sulit untuk melakukannya."
"Baiklah besok biar Mama yang menunggu Zahra."
"Deya juga ingin bertemu dengan Zahra untuk terakhir kalinya sebelum Deya pergi."
__ADS_1
"Kau bisa meminta bantuan Mama kapan pun. Hubungi saja nomer Mama, biar nanti Mama yang akan menghubungimu terlebih dahulu."
Deya mengangguk. Dia kini sudah tidak menangis lagi.
"Ma, maaf. Deya lelah. Deya mau masuk ke dalam kamar." Deya bangkit tapi tangan Mama Claudia menahannya.
"Tunggu dulu." Mama Claudia membuka tasnya dan memberikan Deya kartu kredit berwarna hitam padanya.
"Kau bisa memakainya untuk penuhi semua kebutuhanmu selama tidak bersama dengan Edward.
" Jangan menghinaku Ma dengan uang itu. Aku tidak membutuhkannya. Uang yang selalu Mas Edward berikan selama ini juga masih utuh tidak pernah Edward Deya gunakan."
Mama Claudia membuka mulutnya. Dia semakin kagum pada Deya setelah berbicara dengannya.
"Sudah Ma? Kalau sudah Deya mau ke kamar dulu untuk istirahat."
Dengan langkah gontai, Deya meninggalkan ruang tamu itu. Berpapasan dengan Ayah dan Ibunya namun Deya hanya diam saja. Mengatakan semua kesedihan lewat pandangan mata.
Deya melewati keduanya, berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kak Deya ini rujaknya, nanti tidak enak lagi," seru Royhan.
Ayah dan Ibu Deya menemui Mama Claudia lagi. Mereka melihat wanita itu sedang menyeka air matanya.
"Bagaimana kalian bisa mendidik putri sebaik itu?" ucapnya. Membuat Ibu Ratmi ikut meneteskan air mata.
"Aku juga tidak sampai hati untuk melakukan ini tetapi ini demi kebaikan semua. Zahra adalah satu-satunya cucuku dan aku tidak tahan melihat dia terpukul seperti itu. Aku ingin Zahra bisa hidup normal lagi seperti dulu."
"Kami mengerti."
"Sejatinya aku merasa merugi jika harus kehilangan menantu sebaik itu dan mengganti nya dengan menantu lain. Namun, aku tidak punya pilihan."
"Ibu yang sabar suatu hari semua akan kembali menemui jalan yang terang. Kita hanya sedang dicoba saja. Agar semua terasa mudah kita harus berpikir dengan kepala dingin."
"Kami ikhlas dengan apa yang terjadi. Yang penting semua akan membaik. Satu pinta saya, Bu. Doakan Deya agar bisa meraih cita-citanya dan hidup tenang dan bahagia setelah ini."
__ADS_1
"Pasti, Pak. Doaku akan selalu ada untuk Deya."