Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 44 Bujukan Halus


__ADS_3

"Ibu katanya akan kembali ke rumah, Yah," celetuk Zahra di dalam mobil.


Membuat Deya dan Edward terkejut mereka saling memandang dalam pantulan kaca spion.


"Benarkah?" tanya Edward berusaha untuk tetap tenang.


"Ya, kalau Ayah mengijinkan," ucap Zahra ragu, menatap ke arah Ayahnya.


"Tapi aku bilang Ayah pasti mengijinkan Ibu pulang, ayah pasti senang kan, Yah?" lanjut Zahra dengan bersemangat.


Untuk sesaat Edward terdiam, lalu mengangguk. Dia menatap Deya dari kaca spion yang nampak gusar.


***


Jam istirahat tiba, Zahra keluar dari ruang kelasnya. Di depan sudah ada Deya yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa, kok wajahnya ditekuk seperti itu?"


"Kata bu guru besok Kakak tidak boleh menungguku di luar kelas."


"Kenapa tidak boleh?"


"Karena teman-teman ku pun tidak melakukannya. Aku sudah besar jadi bisa mengurus diriku sendiri," jawab Zahra.


"Oh, Sayang, kalau kau tidak mau biar nanti kakak bicarakan dengan gurunya agar memberimu dispensasi. Jadi jangan cemberut seperti itu."


"Tapi... tapi... kata teman-teman juga seperti itu yang sekolahnya ditunggu ayah dan ibunya itu anak Taman Kanak-kanak."


"Lalu, Kakak harus bagaimana?"


"Aku tidak tahu." Zahra menunduk menangis.


Deya lantas memeluknya.


"Maksud Bu guru itu bagus biar kau mandiri."


"Kalau aku seperti anak lain itu tidak masalah tapi aku... aku pakai kursi roda." Deya yang mendengar ikut sedih.


Zahra lalu diajak oleh Deya duduk di pinggir kelas di bawah pohon.


"Kata teman-teman kursi roda mu keren, jadi kau tidak usah minder atau kurang percaya diri."


"Bukan begitu, Kak. Aku sulit untuk melakukan segala sesuatunya dengan kursi roda ini, gerakan ku terbatas."


"Oh begitu, kalau tidak pakai kursi roda itu lebih mudah."

__ADS_1


"Iya, bisa berjongkok mengambil sesuatu yang jatuh ke lantai terus bisa berjalan tanpa terhalangi sesuatu bisa berlari bersama teman-teman." Zahra menatap temannya yang bermain dengan bebas di luaran.


"Kau juga ingin seperti mereka?"


Zahra mengangguk.


"Kalau begitu ikut terapi biar bisa seperti itu."


"Tapi Kak, itu sakit aku tidak bisa melakukannya."


"Zahra ingat, pernah melihat Ayah kakak yang duduk di kursi roda seperti Zahra?"


"Iya, waktu yang di rumah sakit?"


"Hmm, ayah kakak sekarang sudah bisa berjalan lagi padahal beliau sempat terjatuh di kamar mandi lagi sesudah operasi dan masuk rumah sakit. Namun, ayah kakak tidak putus asa beliau semangat mengikuti terapi hingga pelan-pelan bisa berdiri, berjalan lagi lalu kembali normal seperti dulu."


Zahra mendengarkan nasihat Deya.


"Sakit itu hanya sesaat jika kau bisa mengatasinya, tetapi jika kau tetap di kursi roda kau tetap akan dikatakan sebagai orang tidak normal dan itu lebih menyakitkan kan?"


Zahra mengangguk. "Tapi aku takut."


"Ada Kakak yang akan menemani." Zahra nampak ragu.


"Kita juga bisa berlatih di rumah, setelah pulang sekolah agar kau bisa cepat berjalan. Tapi sesuai dengan saran dokter."


"Jangan takut, ada kakak yang akan selalu menemanimu. Kita bisa lewati ini berdua."


"Tapi katanya kakak akan pergi setelah dua bulan berarti tinggal satu bulan lagi."


"Kakak janji tidak akan pergi sebelum kau bisa berjalan normal."


"Aku tidak ingin kakak pergi," ujar Zahra memeluk erat Deya. "Aku sayang kakak.''


Deya membalas pelukan Zahra dan mengusap punggungnya. Dia pun tidak tahu tentang masa depannya akan seperti apa. Bagaimana jika Soraya kembali pada Edward? Bagaimana pun hubungan mereka lebih kuat karena ada Zahra di antara mereka selain itu, pernikahan mereka sah dan direstui keluarga Edward. Sedangkan dirinya hanya simpanan yang tidak berharga dan layak dibenci oleh semua orang.


***


Deya dan Zahra sampai ke rumah pukul tiga pagi. Mereka masuk ke dalam rumah sambil bercerita tentang keseharian Zahra di sekolah.


"Pelajaran di sekolah itu sangat mudah untukku, dengan memejamkan mata saja sudah bisa kukerjakan dengan mudah."


"Kau harus bersyukur karena diberi otak yang cerdas oleh Tuhan."


"Kau sudah pulang, Sayang?" sapa Soraya mendekat ke arah Zahra.

__ADS_1


"Ibu jadi kembali ke rumah ini?" tanya Zahra.


"Bukankah ini rumah kita tentu saja ibu akan pulang ke rumah ini." Soraya mengambil alih kendali kursi roda Zahra menyingkirkan Deya dengan sedikit kasar.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Soraya.


"Bagus, Bu, aku dapat nilai 100 tetapi ada pelajaran olahraga dan aku tidak bisa ikut karena...." Ibu dan anak itu meninggalkan Deya sendiri. Wanita itu hanya bisa menarik nafas saja.


"Ada baiknya, kau tahu kedudukanmu, jadi kau tidak perlu bertindak di luar dari pekerjaanmu."


Mr. Lee lalu berjalan meninggalkan Deya.


"Tunggu!" cegah Deya yang maju ke depan dan berdiri di depan Mr. Lee.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu maksudku dengan baik, Nona. Jika kau cepat pergi dari sini itu akan lebih baik." Mr Lee meneruskan langkahnya lagi.


Deya tertawa tanpa bersuara, lalu menghembuskan nafas kasar. Ini baru dua hari tapi dia sudah merasa tertekan.


"Menu makan malam kali ini apa Nyonya?" tanya Mak Saroh yang ternyata adalah jebolan dari sekolah chef ternama di Indonesia, hanya saja jika sudah selesai dengan pekerjaannya dia hanya akan memakai daster biasa seperti pelayan yang lain. Pekerjaan sampingannya adalah vlogger, yang sering memposting masakan yang dia buat. Dia hidup sendiri karena keluarganya meninggal dalam suatu kecelakaan. Hal itu membuat dia betah tinggal di sini karena merasa rumah ini sebagai keluarganya.


"Aku ingin menu makanan Korea," ucap Soraya yang sedang membuka majalah fashion.


"Tapi wagyu kita sedang habis Nyonya, saya lupa membelinya."


Soraya membuang majalah yang dia pegang.


"Apa saja memang yang kau kerjakan selama aku tidak ada. Daging itu saja bisa sampai tidak ada. Tidak becus, aku heran mengapa Edward masih memperkerjakan orang stress sepertimu padahal banyak chef yang lebih baik dari pada kau."


Mata Mak Saroh memerah, dia menunduk dalam. Sesekali Deya melihat wanita itu menyeka air matanya.


"Nyonya, biar saya beli dulu di supermarket."


"Ini sudah jam lima apakah cukup waktunya untuk membeli dan memasaknya?"


"Bagaimana kalau menu seafood saja Nyonya, saya kemarin baru membelinya di pasar karena Tuan ingin makan itu."


"Edward ingin menu itu?" tanya Soraya.


"Iya Nyonya," jawab Mr Lee sopan.


"Kalau begitu masakkan menu itu dengan baik dan jangan ada kekurangan dalam bentuk ataupun rasanya."


"Baik, Nyonya," Mr. Lee dan Mak Saroh lalu pergi meninggalkan tempat itu dan Soraya pergi ke kamarnya dengan santai seperti tidak melakukan kesalahan apapun.

__ADS_1


Deya keluar dari balik tembok dan menatap kepergian majikan serta pelayannya. Apakah itu sifat asli Soraya? Kasar. Pantas saja jika Edward mencari wanita lain.


__ADS_2