Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Tamat


__ADS_3

Butuh waktu lama bagi Deya untuk bisa pulih kembali. Dia menjalani perawatan dan juga terapi agar bisa beraktivitas seperti biasa. Seperti kali ini, Zahra yang menemaninya pergi terapi ke rumah sakit.


"Ayo, Bunda. Semangat!" seru Zahra memberi dukungan pada Deya.


Deya yang sedang memegang pilar besi untuk menyangga tubuhnya agar bisa berdiri berjalan tersenyum menatap ke arah Zahra.


"Anak Anda terlihat sangat antusias menemani Anda. Nampak sangat menyayangi Anda," kata Dokter.


Deya mengangguk. Dia lantas mulai mengeluarkan tenaganya untuk kembali melangkahkan kaki ke depan. Kini dia mengerti betapa kesehatan itu adalah hal paling wajib kita syukuri. Jika salah satu nikmat itu diambil sedikit saja maka semua terlihat tidak berarti.


Deya akhirnya sampai ke penghujung dan Zahra memeluk Deya, Membantunya duduk di kursi roda.


"Latihan kali ini sungguh menyenangkan. Kau bekerja dengan baik sehingga perkembangannya begitu cepat. Kau yakin tidak sampai tiga bulan Anda bisa berjalan seperti orang normal lagi."


"Semua ini tidak bisa terjadi jika aku tidak mendapatkan dukungan dari keluargaku terutama putriku ini."


"Bunda ini bisa saja," kata Zahra memeluk Deya sayang. ''Ini karena Bunda telah berusaha dengan baik."


Semua yang melihat dan tidak tahu tentang cerita mereka mengira jika mereka adalah ibu dan anak kandung karena kedekatan mereka serta perhatian Zahra yang tidak kurang pada Deya.


Zahra memang menyayangi Deya dan dia juga merasa bertanggungjawab pada situasi Deya sekarang. Oleh karena ibu kandungnya nya yang egois, Soraya, Deya menjadi seperti ini serta kehilangan buah hati yang dikandungnya. Semua orang terpukul terutama ayahnya.


Untuk itu, Zahra telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Deya dengan baik seperti seorang anak kandung yang berbakti pada orang tuanya. Dia ingin membayar semua kesalahan yang dibuat ibu kandungnya.


Hal yang membuat Zahra takjub adalah Deya samasekali tidak pernah membahas masalah kecelakaan ini. Tetap tersenyum seperti biasa dan tidak mengurangi perhatiannya pada Zahra apalagi membenci Zahra. Hal itu, membuat Zahra terharu.


"Hei kenapa kau menangis?" tanya Deya ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Zahra memeluk Deya dan meletakkan kepala di dadanya, terisak.


Deya mengangkat wajah Zahra. "Katakan pada Bunda, apa yang buat kau menangis? Bunda lihat dari tadi kau banyak melamun?"


"Zahra sayang Bunda," kata Zahra.


"Bunda tahu itu dan Bunda pun sayang Zahra."


"Apakah Bunda tidak benci pada Zahra karena Ibu yang telah membuat adek, tiada? Bunda jadi tidak bisa punya adek lagi."


Deya mengusap pipi Zahra yang basah. "Bunda sudah punya Zahra dan Dafi yang menyayangi dan mencintai Bunda, itu cukup buat Bunda. Satu lagi, untuk apa Bunda benci Zahra, Bunda malah merasa bersalah karena Bunda, Ibu Zahra jadi tiada."


Zahra tambah erat memeluk Deya dan menangis keras. Deya mengusap lembut rambut Zahra.


"Zahra malu pada Bunda. Malu karena punya Ibu yang jahat."


"Seburuknya Ibu, dia tetap ibumu tidak boleh menghujatnya. Lupakan keburukannya dan jangan pernah melihat lagi ke belakang. Lihat kebahagiaan yang ada di depan mata."


Zahra terdiam. "Bunda tidak mengajarimu untuk melupakan ibumu tetapi kau masih punya ayah yang baik dan bertanggung jawab, serta seorang ayah yang sempurna jadi untuk apa malu. Jadi mulai kini lihat, ayahmu dan belajar dari dia. Lupakan yang buruk-buruk, okey!"

__ADS_1


"Zahra juga punya Bunda yang baik, yang menyayangi Zahra padahal Zahra bukan anak kandung Bunda."


"Jangan pernah bilang seperti itu lagi, jika tidak Bunda marah. Walau kau bukan lahir dari rahim Bunda, tapi bagi Bunda kau tetap anak pertama Bunda. Anak Bunda yang selalu perhatian pada Bundanya. Bunda sangat menyayangimu." Deya mencubit gemas pipi Zahra.


Zahra mengangguk, terharu dengan mata yang berkilat karena bahagia. "Iya, Zahra anak Bunda."


"Putri kesayangan Bunda," tandas Deya.


***


Tiga bulan kemudian. Di sebuah villa di sebuah pantai pulau Bali. Deya dan Edward berdiri di depan sebuah kue yang menjulang tinggi ke atas.


Mereka sedang merayakan ulang tahun perkawinan mereka keempat. Tangan mereka bersatu untuk mengiris kue itu. Sebuah senyuman mengembang dari semua yang hadir di ruangan itu yaitu seluruh keluarga besar Deya dan Edward karena acara ini adalah privat.


Mereka memakan kue itu bersama lalu mengambil kue lain untuk diberikan pada orang teristimewa.


Zahra mundur satu langkah karena tahu Dafi yang akan mendapatkan kue itu. Dafi adalah anak Deya dan Edward.


Deya dan Edward yang melihat saling menatap. Lalu keduanya membagi kue itu jadi dua. Deya menyuapkan pada Zahra. Zahra terkejut. Menerimanya dengan mata mengembun.


"Bunda itu lebih sayang pada Kak Zahra," protes kecil Dafi yang cemburu.


"Dafi kan dapat dari Ayah, anak lelaki diberi oleh Ayahnya sedangkan anak perempuan oleh ibunya." Edward berjongkok menyuapi Dafi. Dafi sekarang merasa sudah besar tidak mau digendong lagi seperti anak kecil.


"Oh, seperti itu?" kata Dafi.


"Semua sama bagi Ayah dan Bunda, kau ataupun kakakmu." Deya menunduk mencium Dafi. Dia lantas berdiri lagi memeluk bahu Zahra.


"Selamat Deya, Mama dan Papa senang kau bisa selamat dan bangkit kembali dari keterpurukan. Edward jaga istrimu sepenuh jiwa. Dan Mama serta Papa berharap kalian bisa langgeng dan bahagia dunia dan akhirat," ucap Papa Adam.


Deya dan Edward bergantian mendapat pelukan kedua orang tua itu. Mama Claudia masih berada di kursi roda dan keadaannya membaik walau masih terkena penyakit stroke.


Terakhir, pelayan yang mereka curigai mengaku jika Soraya memang memberi Mama Claudia obat yang bisa meracuni tubuh sedikit demi sedikit agar Mama Claudia menderita. Alasannya karena Soraya sakit hati pada Mama Claudia yang lebih memilih Deya dari pada dia. Serta kata kasar Mama Claudia yang ingin agar Soraya pergi jauh dari kehidupan mereka.


"Do-a Ma-ma un-tuk ka-lian," ucap Mama Claudia tidak jelas karena setengah tubuhnya telah mati tapi masih dimengerti oleh semua orang.


Kini giliran Ayah Seto dan Ibu Ratmi yang maju.


"Bapak dan Ibu mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun perkawinan kalian yang keempat. Kami bangga kalian bisa melewati semua ujian yang sulit itu dengan baik. Kami pun berharap ke depannya kalian akan tetap saling berpegangan tangan dan bersatu dalam menghadapi semua rintangan yang ada nantinya. Hidup itu adalah perjuangan dan kita akan beruntung jika punya rekan perjuangan yang baik dan satu visi dengan kita. Jadi jaga pasangan kalian dengan baik dan cintai dengan sepenuh hati. Ayah sih berharap Nak Edward jangan cari pasangan lagi, cukup Deya saja," ledek Ayah Seto.


"Mana mungkin Ayah, sudah punya Deya saja sudah suatu anugerah terbesar, tidak mungkin Ed akan mengkhianatinya dengan memilih wanita lain lagi." Edward makin mengeratkan pelukannya di pinggang Deya


"Janji lho, cukup Deya yang jadi simpanan jangan ada simpanan lainnya."


"Bapak ini ...," rajuk Deya manja. Semua tertawa.

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya janji hanya Deya yang terakhir untuk saya," tandas Edward penuh keyakinan.


Setelah itu acara diteruskan dengan makan-makan.


Deya sendiri diajak oleh Edward ke sebuah tebing di pinggir pantai melihat villa yang ada dibelakang mereka dan luasnya laut di malam hari di yang ada di depan mereka. Duduk dibawah terangnya sinar bulan.


"Kau dulu bilang ingin bulan madu ke Bali, jadi aku membawamu kemari."


Deya bersandar di bahu Edward. Memeluk lengannya dengan erat.


"Ini seperti mimpi yang indah dan aku takut terbangun lantas kehilangan dirimu."


"Ini bukan mimpi, Sayang, ini semua adalah kenyataan. Kau dan aku ada di sini bersama untuk merayakan pernikahan kita."


Edward mencium pucuk kepala Deya.


Deya mengangkat wajah dan menatap ke arah Edward.


"Aku sangat mencintaimu," katanya.


"Aku tahu."


"Hanya itu?"


"Lalu?"


Deya mencebik, melepaskan pelukannya dan memalingkan wajah ke samping.


Edward tersenyum, dia mengambil sebuah kalung emas dengan liontin berlian berbentuk hati. Menyematkan di leher Deya. Membuat Deya terkejut memegang kalung itu.


"Ini hadiah untukmu," bisik Edward.


"Ini indah sekali." Deya mengamati liontin itu yang bersinar terkena sinar bulan yang terang.


"Tidak seindah dirimu."


Mata Deya berkaca. Edward mengangkat dagu Deya dan menciumnya lembut. Deya melingkarkan tangan ke leher Edward dan membalas pagutan itu.


Di saat itu, atas sebuah perintah dari Edward lewat remote yang dia pencet, beberapa kembang api raksasa terbang ke atas langit di atas villa. Membentuk tulisan I Love You Deya raksasa.


Deya menoleh dan melihatnya, terpana.


"I love you, Deya. Maukah kau menemaniku hingga akhir hayatku?" tanya Edward. Deya mengangguk lantas memeluk Edward erat.


Kini dia merasa bahagia karena telah mempunyai keluarga yang utuh serta mempunyai status istri sah dan satu-satunya dari Edward. Sesuatu yang dia impikan dulu, kini telah menjadi kenyataan, menyandang status menjadi Nyonya Edward Xavier.

__ADS_1


---tamat----


__ADS_2