
"Seperti itu keadaannya. Tapi bagaimana kau tahu kalau Mama sakit?"
"Aku kangen pada Zahra dan ingin mengunjunginya. Sesampainya di sana aku dapat kabar jika Mama Claudia baru saja di bawa ke rumah sakit, jadi aku langsung datang kemari." Soraya memegang tangan Edward membuat Deya menatap cemburu.
"Apa yang terjadi, Ed."
"Entahlah, aku juga bingung. Dari mulut dan hidung mama mengalir darah segar. Dokter katakan itu karena pembuluh darah yang pecah."
Soraya mulai menangis.
"Ya, Tuhan. Kau harus sabar Ed. Mama pasti kuat untuk melewati semuanya."
Edward menganggukkan kepala. Soraya lantas memeluk Edward.
"Aku juga merasa sedih." Edward melepaskan pelukan Soraya.
"Terimakasih atas perhatianmu," sela Deya bersikap posesif menarik lengan Edward mendekat ke arahnya.
"Tuan duduklah, Anda sudah lelah berdiri sedari tadi," ucap Mr. Lee agar Edward menjauh dari Soraya.
Edward lantas duduk berjejer dengan Deya. Soraya sendiri memilih duduk sedikit menjauh.
"De, Zahra di mana? Biar ikut bersamaku selama Mama sakit."
"Zahra bersama dengan Dafi di rumah Kakung."
"Apakah tidak akan merepotkan mereka?Sedangkan merawat satu balita saja sudah sangat merepotkan."
Deya menghela nafas dalam dan mencoba untuk tersenyum. "Aku rasa jika sesuatu dilakukan dari hati tidak akan merasa sulit atau repot. Zahra juga senang tinggal di sana. Keluargaku dari awal selalu memperlakukan Zahra dengan baik layaknya cucu mereka sendiri. Mereka adalah orang yang paling marah jika aku membedakan antara Dari dan Zahra. Jadi kau jangan khawatir dengan keadaan Zahra."
Jawaban Deya seperti pukulan telak buat Soraya.
Edward memegang erat tangan Deya. Seorang dokter datang dan masuk ke ruang ICU bersama dengan dua orang perawat. Mereka melihat Dokter itu memeriksa Mama Claudia. Edward dan Deya bangkit melihat orang tua mereka dari balik kaca pintu ruang ICU.
__ADS_1
Setelah selesai memeriksa Dokter keluar ruangan.
"Bagaimana keadaan Ibu saya Pak Dokter?" tanya Edward tidak sabar menunggu kabar baik dari Dokter.
"Kondisi Nyonya Xavier sudah stabil. Darah juga sudah mampat tidak mengalir lagi dari hidung. Kita hanya menunggu beliau siuman."
"Apakah saya bisa masuk dan menemuinya?" tanya Edward.
"Boleh tapi mengikuti prosedur dengan menggunakan pakaian yang kami siapkan. Juga dibatasi waktunya."
"Baik Dokter."
"Satu atau dua orang saja jangan terlalu banyak juga yang mengunjungi."
Edward mengangguk. Lima belas menit kemudian Edward masuk ke dalam ruangan bersama dengan Deya.
Edward duduk di kursi mencium tangan ibunya.
"Ma, bangunlah jangan membuat Ed takut. Bagi Ed, Mama adalah wanita yang paling penting dalam hidup Ed. Selalu ada untuk Ed setiap Ed butuh. Kami masih butuh Mama untuk menemani kami. Aku, Deya dan anak-anak ku membutuhkan Mama."
"Mama pasti bangun dan sembuh untuk kita."
"Ma maafkan Ed yang belum bisa memenuhi impian Mama untuk tinggal bersama dalam satu rumah..., tetapi Ed janji kita akan tinggal satu rumah, jadi Mama harus bangun untuk membantu Ed mengurus anak Ed. Membantu Deya jika kami punya anak lagi. Mama tahu itu pasti akan repot. Mama harus bangun buat bisa menggendong bayi Ed lainnya." Edward mencium tangan ibunya yang mulai basah karena air mata Edward.
Deya meletakkan kepala di punggung Edward ikut menangis terharu sedih.
Edward dan keluar setelah puas berbicara dengan ibunya. Soraya masih menunggu di pintu luar. Wanita itu langsung mendekati Edward dan memegang tangannya.
"Ed aku akan pulang ke rumah. Ini sudah malam, sebenarnya aku ingin menginap di sini menemanimu. Bagaimana pun aku masih menganggap Mama sebagai ibuku walau kita telah terpisah."
Deya melirik tidak senang dengan ucapan dan tingkah Soraya yang sok caper.
"Jika kau lelah dan ingin gantian menunggu Mama kalian bisa bicara denganku dengan senang hati aku akan menunggu Mama di sini menggantikan kalian."
__ADS_1
"Jika kau tidak keberatan aku juga ingin membawa Zahra ke rumah kami. Kami sangat merindukannya," pinta Ibu Soraya.
Edward dan Deya saling memandang. Zahra memang beberapa kali bertemu dengan Soraya tetapi anak itu tidak pernah mau untuk menginap bersama ibunya.
"Jika Zahra mau. Jika tidak jangan paksa," jawab Edward.
"Kalian bisa ke rumah orang tuaku, aku akan mengirimkan alamatku pada kalian," kata Deya.
Soraya lantas pergi dari rumah sakit untuk menjemput Zahra. Deya duduk di kursi dengan lemas. Kepergian Soraya bisa membuat nafasnya kembali lega.
Kenapa Deya merasa ada yang janggal dengan Soraya. Sepertinya wanita itu ingin merencanakan sesuatu atau ini hanya pikirannya dan rasa cemburu yang menggelayut di otak ketika dia melihat Soraya dan Edward dekat.
Ketakutan sebagai wanita tentu saja ada. Bagaimana pun dulu mereka ada rasa cinta bisa saja itu tumbuh kembali ketika sudah berpisah. Deya mulai marah pada diri sendiri karena berpikir negatif pada suaminya.
"Kau kenapa De?" tanya Edward.
"Tidak apa-apa."
"Mas belum makan sedari siang tadi. Sebaiknya kita cari makan di kantin sambil sholat berdoa agar Ibu segera bangun dan bisa pulih kembali."
"Kau benar. Aku bahkan melupakan dzuhur dan asar karena begitu bingung dan kalut. Terimakasih untuk mengingatkan."
Mereka berdua lantas pergi ke Musholla da melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Edward nampak khusu dengan ibadahnya. Deya mendengar isak kecil pria itu ketika memanjatkan doa.
Dia merasa bersalah pada Edward karena selalu menunda rencana mereka untuk hidup bersama mertuanya. Bukan karena dia tidak suka dengan mertuanya, tetapi Deya ingin merasakan menjadi ibu rumah tangga pada umumnya yang masak, membersihkan rumah dan mengurus anak sendiri. Jika di rumah mertuanya dia tidak akan sebebas itu mengurus urusan rumah. Semua sudah di handle oleh pelayan dan dia cuma harus duduk memerintah. Sedangkan dia tidak terbiasa dengan itu. Hal itu yang membuat Deya sedikit keberatan.
Kini itu hanya jadi penyesalan jika dia lebih cepat pindah mungkin dia bisa mengawasi mertuanya dan ikut menjaga kesehatan wanita patuh baya itu. Sehingga ini tidak akan terjadi.
Deya menghela nafas. Setelah itu, mereka lantas ke kantin untuk makan. Edward makan dengan tidak nafsu hanya dua suap saja lalu menyingkirkannya. Deya faham dengan perasaan Edward. Dia pernah mengalaminya ketika Ayahnya dirawat di rumah sakit dulu.
Mereka kembali ke ruangan Mama Cludia terkejut ketika melihat Papa Adam menangis. Beberapa Dokter dan perawat nampak berlari dan hilir mudik dari ruangan ICU.
Edward mendekat ke arah Ayahnya.
__ADS_1
"Ada apa Papa?" tanya Edward cemas dengan dada uang berdebar keras.
"Papa tidak tahu," ucap Papa Adam serak memeluk anaknya. Nafas Edward sesak menatap ke arah pintu ruang ICU.