
Setiap hari Deya mendapat peran menjemput Zahra sekolah bersama Dafi. Kalau mengantar itu menjadi bagian suaminya sekalian berangkat ke kantor.
Kesepakatan dia dengan Edward, jika semua bisa dilakukan sendiri tidak perlu meminta bantuan pada pelayan atau sopir. Jadi semua pekerjaan rumah dikerjakan bersama, termasuk antar jemput anak ke sekolah. Di sini anak merasakan peran orang tua secara langsung.
Deya menunggu Zahra di deretan paling pojok antrian ibu-ibu menunggu anaknya di depan sebuah SMP di kota Jakarta. Deya melihat ke sekitar dan belum tampak anaknya itu terlihat padahal sudah tiga puluh menit yang lalu jam sekolah telah usai. Deya memakai maskernya keluar dari mobil menggendong Dafi mencari keberadaan Zahra.
Dia mulai masuk ke dalam sekolah. Kepalanya celingukan ke sana kemari, melihat ke setiap arah. Delapan belas menit lalu Zahra mengatakan akan keluar dari kelasnya. Seharusnya anak itu sudah ada di depan gerbang sekolah. Deya mencoba menelfon Zahra. Tersambung tapi tidak diangkat. Dia mendengar suara anak berbicara di sudut lapangan di balik pohon.
"Nggak usah sok lagak deh loe, sok jadi seleb padahal cuma numpang tenar ibu loe doang."
"Eh, orang tuanya kan lagi cere. Bapaknya kawin lagi, ha... ha... cari bini muda yang lebih cantik kali," timpal seseorang lagi.
"Makanya itu, di sini itu kita yang kuasa jadi loe jangan sok bergaya mentang-mentang anak dari orang kaya dan artis tukang nangis."
"Noh, dia mulai nangis kan, kayak ibunya kalau lagi akting di televisi."
"Nggak mempan!" salah seorang menarik rambut Zahra keras.
"Sakit...."
"Sakit hati gue yang cowoknya elo embat tahu!"
"Aku nggak melakukan apapun Kak Nico yang mendekat," imbuh Deya meringis memegang rambutnya yang sedang ditarik keras. Dia tidak bisa berbuat macam-macam karena dua orang anak lainnya memegang bahu Zahra.
"Nggak usah sok suci deh, gue tahu orang kayak loe itu cuma bisa akting doang. Tapi harus busuk kayak telor kadaluarsa."
Sebuah tangan menarik rambut anak yang berbuat kasar pada Zahra.
"Loe mau apain anak gue, hah!" seru Deya geram dengan gigi gemeletuk. Gadis itu langsung kecil hati melepaskan tarikan rambutnya pada Zahra. Dua temannya juga mundur takut karena ketahuan.
"Ampun, Bu. Ini sakit!"
"Sakit, anak gue juga sakit elo perlakukan begini. Kalian mau saya laporin ke kantor polisi atas tuduhan perundungan?" ancam Deya. Zahra langsung memeluk Deya dan menangis.
"Kamu nggak apa-apa kan Zahra?" tanya Deya sambil menurunkan maskernya. Sejenak ketiga anak yang membully Zahra terkejut karena Ibu Zahra terlihat berbeda dengan yang ada di televisi. Ini seperti kakaknya.
"Jangan, Bu saya mohon," pinta salah satu anak memegang kaki Deya.
"Eh, saya punya video cara kalian memperlakukan anak saya ya, jangan macam-macam padanya."
__ADS_1
"Jangan sebar, Bu."
"Ampun, Bu." Mereka bertiga bersimpuh di depan Deya.
"Sekarang minta maaf ama anak gue," perintah Deya galak.
Mereka bertiga lantas meminta maaf pada Zahra.
"Sekarang kalian saya lepaskan. Awas jika saya lihat atau dengar anak saya kalian bully atau kalian lukai lagi. Masalah ini akan saya bawa ke pengadilan."
"Tidak lagi, Bu. Maaf," pinta mereka mengiba sambil menyatukan tangan di dada. "Zahra, tolong bilang sama ibumu untuk tidak melaporkan kami."
"Ibu biarkan saja mereka."
"Eh kalau dibiarkan mereka tidak akan jera. Ibu yakin korbannya bukan hanya kau. Jika tadi Ibu tidak lihat kau diperlakukan buruk oleh mereka, entah akhirnya seperti apa."
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya.''
" Aku tidak percaya."
"Ibu, sudah, lepaskan saja mereka," bujuk Zahra.
Ketiga orang itu langsung pergi cepat dari sana. Zahra memeluk Deya.
"Terimakasih, Bu."
"Kalau ada anak begitu tuh kamu harus lawan. Jangan cuma menangis nanti jadi kebiasaan karena mengira kamu anak lemah."
"Iya, Bu. Tapi Ibu hebat bisa bikin tiga anak itu ketakutan, padahal sama guru pun Anya yang tadi jambak rambutku tidak takut. Dia itu anak dari seorang Polisi pangkat jenderal.
"Ibu tidak takut jika benar, apalagi kau anak ibu yang harus Ibu lindungi dan bela." Hati Zahra terasa berbunga.
Deya lantas memanggil Dafi yang bersembunyi di belakang pohon.
"Sudah Ibu?" tanya anak itu masih menutup telinganya.
"Anak baik."
"Tadi Kakak yang besar-besar itu nakal pada Kakak? Akan aku tendang jika aku besar nanti."
__ADS_1
Zahra tertawa. Mereka akhirnya keluar dari sekolah itu bergandengan tangan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju pergi.
"Zahra apa mereka membuat kau kesulitan karena masalah orang tuamu. Maksud Ibu anak-anak lain di sekolahmu."
"Sudah banyak anak yang broken home karena perceraian orang tuanya. Hal ini biasa, Bu, yang tidak biasa adalah posisi Ibu Aya sebagai artis terkenal membuat namaku ikut tertarik dalam pusaran masalah itu."
"Ibu takut kau tertekan seperti dulu karena masalah ini."
"Sudah hal biasa melewati hari buruk, jadi ini bukan hal berarti. Ini sesuatu yang biasa karena tiga tahun yang lalu malah lebih berat ujiannya."
Mereka lantas terdiam menatap ke arah jalan raya.
"Kakak mau lolipop," tawar Dafi pada kakaknya.
"Tidak mau karena itu bekas gigitanmu. Ada air liurmu di permen itu. Kakak nggak mau. Lagi pula, kuman suka yang manis-manis. Jadi mulutmu penuh dengan kuman jahat."
"Kumannya gak ada di mulut Dafi. Aku rajin sikat gigi ya, Bu."
"Kalau makan permen nanti giginya bolong karena dimakan kuman," imbuh Zahra lagi. "Pertama-tama kuman nempel di gigi, nanti gigi jadi hitam, lalu kuman makan gigi sedikit demi sedikit sampai habis."
"Hi...hi... ga mau...." Dafi langsung membuang permennya keluar jendela saat mobil berhenti karena lampu merah.
Zahra tertawa keras melihat kelakuan adiknya, dia memeluknya erat.
"Adik Kakak yang paling lucu, Kakak sayang sekali," ucapnya mencium Dafi.
Deya mengusap kepala Zahra dengan lembut.
"Habis ini kita mampir ke rumah makan ya, Ibu belum masak. Tadi Dafi hanya makan telur ceplok saja dengan kecap."
"Aku makan itu saja tidak apa-apa, Bu. Tidak usah beli makanan di luar."
Deya menoleh dan tersenyum. "Benar nggak apa-apa? Tadi Ibu pergi ke tempat jualan Ibu jadi belum sempat masak."
"Nggak apa-apa, telor dadar yang Ibu buat kemarin juga enak kok. Yang diberi cabai sama daun bawang. Ehm, juga sosis."
"Ya, nanti Ibu buatkan yang seperti itu."
Sedangkan di sebelah mobil Deya, ada seseorang yang sedang mengamati kebersamaan ketiga orang itu dengan mata nanar. Ada kecemburuan besar yang tersirat. Soraya melihat semuanya dengan rasa marah.
__ADS_1