Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab.9 Masih Adakah Tawarannya?


__ADS_3

"Tuan Re... Edward.... ''


"Kayak lihat setan aja," ucap Edward duduk dengan santai menatap ke depan.


"Bukan setan tapi malaikat penolong."


"Mau ambil obat, Tuan?"tanya Deya.


" Jangan panggil Tuan, nggak enak di dengar," ujar Edward.


"Om?"


"Om?" Berpikir. "Mas, aja. Lagian aku belum tua amat, baru tiga puluhan." ''tambah lima'' ujarnya dalam hati. Menoleh ke arah Deya melihat wajah ayunya yang hanya dipoles sederhana tetapi menambah imutnya.


Deya menyatukan alis mengamati penampilan Edward. Memang belum terlihat tua namun sudah matang. Sudah kelihatan seperti bapak-bapak jadi lebih cocok di panggil 'Om'.


Namun, dia sudah menolong jadi okeylah. Tidak rugi juga membuat orang lain bahagia.


"Mas." Deya tersenyum manis.


"Ya, itu terdengar lebih enak."


"Di mana Ayahmu?" tanya Edward.


"Sedang di ruang perawatan. Bersiap untuk pulang."


"Kau yang bayar biaya operasi ayahmu?"


"Tidak juga ada BPJS yang bayar tetapi ada juga biaya yang harus dikeluarkan, untung Om, eh Mas beri uang tambahan jadi semua bisa teratasi."


"Kau hebat, rela berkorban untuk keluargamu," puji Edward.


"Kukira semua anak akan melakukan apapun untuk orang tuanya."


"Tidak semua De, jarang ada anak sepertimu!"


"Keluarga adalah segalanya, kebahagiaan keluarga adalah kebahagiaan kita juga. Masalah keluarga adalah masalah kita juga jadi kita harus berjuang untuk kebahagiaan keluarga kita." Deya menatap balik Edward, hanya sebentar setelahnya dia kembali melihat ke depan.


"Aku salut padamu! Pemikiran yang dewasa, di usia yang masih sangat muda."


"Aku kira Mas juga akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga juga, bukan begitu?"


Edward menegakkan duduknya lalu menghela nafas. "Kau benar."


"Tuan Seto Aji," panggil operator apotik.


"Nama Ayah sudah dipanggil. Aku pergi dulu, Mas. Oh ya, terimakasih banyak untuk semuanya. Semua tidak akan sebaik ini jika tanpa bantuanmu."


Deya hendak melangkah pergi lagi tapi tangannya dipegang oleh Edward.


"Biar aku antar pulang!"


"Tidak usah, aku bisa pesan taxi online."


"Tuan Seto Aji." Seorang perawat keluar melihat ke seluruh ruang tunggu dengan wajah ditekuk.


"Ya, sebentar," jawab Deya mengangkat satu tangan.

__ADS_1


Edward masih memegang tangan Deya menatapnya intens.


"Baiklah! Kau menang."


Edward lalu melepaskan Deya. Gadis itu lantas mengambil obat ayahnya. Setelah itu kembali duduk di sebelah Edward menunggu pria itu mengambil obatnya juga.


"Dimana Zahra?"


"Dia sudah pulang terlebih dahulu. Zahra benci dengan rumah sakit."


"Lalu?"


"Rumahku tidak jauh dari rumah sakit ini. Sebentar lagi juga mobil sudah sampai lagi kemari."


Deya mengangguk mereka terdiam. Handphone Deya berkali-kali, berbunyi tanda jika ada beberapa pesan yang masuk.


Edward melihat ke arah handphone Deya. "Mungkin dari kekasihmu."


Deya menoleh terkejut. Merasa tidak enak. "Dari teman-teman."


"Teman tapi sayang?"


Deya terdiam. Operator memanggil nama Zahra. Edward mengambil obat itu. Setelahnya, mereka pergi ke ruang administrasi untuk mengurus biaya perawatan ayahnya.


"Ada beberapa obat yang tidak ada dalam daftar obat BPJS dan beberapa hal lain, jadi Mbaknya cuma menambah uang dua juta saja."


Deya hendak mengambil uang dalam dompetnya tetapi Edward sudah memberikan kartunya terlebih dahulu.


"Biar aku saja, kau sudah terlalu banyak membantu," tolak Deya.


"Sudah, anggap saja aku bersedekah untukmu," ledek Edward membuat wajah Deya ditekuk ketika mendengar kata sedekah.


Deya melirik tajam mendengar sindiran Edward. Lalu tertawa kecil.


"Sudah jam satu lewat, aku belum dzuhur," ucap Deya.


"Aku juga belum, sholat bareng, yuk!" ajak Edward. Wah, sudah jarang ada wanita muda yang ingat ibadah. Nilai Deya bertambah plus di mata Edward.


Mereka lantas pergi ke Mushola sholat jamaah bersama. Setelah selesai salam Edward menoleh ke belakang menatap Deya dengan lekat.


"Jangan lihat terus Mas, nanti jatuh cinta."


"Boleh?"


"Tidak, Masnya sudah sudah beristri kan?"


"Ya." Edward menutup mulutnya. Namun, satu tangannya di ulurkan ke arah Deya.


"Ckck, aku bukan istri Mas, jadi nggak harus melakukan itu." Deya melepaskan mukena dan melipat.


"Siapa tahu mau belajar jadi istri yang baik."


"Nggak usah diajari juga nanti bisa melakukan itu sendiri." Deya berjalan menuju ke lemari tempat mukena disimpan. Edward mengikuti.


"Aku jadi menyesal menolakmu tempo hari."


"Menyesal tiada guna, tawaran sudah ditutup." Deya tertawa.

__ADS_1


"Tidak ada lowongan lagi?" goda Edward.


"No!" tegas Deya. Mereka lalu ke ruangan ayah Deya.


Ayah Deya berada di ruangan kelas tiga rumah sakit itu. Ada lima orang pasien lain yang ada di dalam sana.


"Lho, Deya kok bersama Nak...."


"Edward, Pak."


"Nak Edward. Dimana putrinya?"


"Sudah pulang terlebih dahulu tadi." Edward melihat ke arah Deya. "Sebenarnya Deya pernah menolong anak saya dari sebuah kecelakaan yang bisa merenggut nyawanya. Saya berutang budi padanya."


Raihan dan Pak Seto melihat Deya meminta penjelasan lebih.


"Bukan apa-apa, Yah, cuma kecelakaan kecil saja."


"Kebetulan saya mau pulang dan melihat Deya Katanya dia mau pulang juga jadi saya menawarkan diri untuk mengantar kalian pulang."


Pak Seto menganggukkan kepala. "Memang Deya melakukan apa?"


Edward menjelaskan kejadian ketika Zahra hampir terjatuh ke lantai dasar jika Deya tidak menolong. Deya sendiri menata barang ke dalam tas.


"Oh, begitu ceritanya. Anak Bapak tidak pernah bercerita apa-apa."


"Ih, itu bukan hal besar tetapi Mas Edward terlalu membesarkan."


Mendengar kata Mas membuat Ayah Deya mengernyit tetapi dia mencoba berpikir positif. Edward terlihat pria baik dan sudah beristri terlihat dari cincin yang masih melingkar di jari manisnya.


"Sudah, kita pulang!" Deya selesai mengepak barang dan menatap ke arah semuanya.


"Biar aku bantu."


"Tidak usah, Mas," tolak Deya yang hendak membawa tiga tas ransel. Satu diminta oleh Raihan.


Edward mengambil dua tas tadi dari tangan Deya. Mereka lantas pergi dari rumah sakit itu.


Di perjalanan, Ayah Deya bercerita banyak tentang keluarganya. Edward yang duduk di sebelahnya sambil menyopir menimpali dan terkadang mereka tertawa bersama.


Pak Seto memang orang yang mudah bergaul dengan siapapun terkadang sering melucu tetapi semua sifat ayah mulai berubah ketika kecelakaan itu. Dia menjadi pemurung dan pendiam. Kini Ayah mulai bisa tertawa lagi seperti dulu. Hati Deya menghangat seketika.


Mereka sampai di depan rumah Deya. Raihan keluar terlebih dahulu mengambil dua tongkat untuk menyangga tubuh Ayahnya. Lalu, membantu Ayahnya turun dari mobil. Mereka tidak membeli kursi roda karena keterbatasan uang.


Edward juga ikut turun membantu Pak Seto. Di saat itu Ibu Deya muncul.


Dia melihat mobil mewah yang lagi-lagi ada bersama dengan Deya. Lalu melihat pria asing yang membantu suaminya berjalan.


"Alhamdulillah, akhirnya Ayah pulang juga ke rumah."


"Iya, Bu. Ini Nak Edward teman Deya membantu mengantarkan pulang."


Ibu Ratmi hendak mengatakan sesuatu ketika sebuah mobil bermerk sejuta umat berhenti di dekat mereka.


"Wah, Kakak Ratmi makin kece aja nih. Apa ini laki yang bayar Deya dengan harga mahal sehingga bisa buat bayar hutang kalian yang seratus juta itu. Wuih... pinter kamu Ya, milih laki. Mana ganteng pula!" sindir Ibu Melfa yang melihat ke arah Edward.


"Sebentar lagi pasti kamu jadi jutawan, Kak Mi, ha... ha ... ha ... . Tidak perlu pakai endorse lagi." Setelah mengatakan itu mobil Ibu Melfa berjalan lagi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Hei, bibir di jaga kalau mau ngomong. Dasar Tante girang.... nggak ingat kelakuan sendiri!" teriak Deya kesal dan marah. Dia lalu mengusap air mata yang sempat keluar sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan cepat.


__ADS_2