
Ibu Ratmi begitu terperangah ketika melihat Edward ada di depan pintu ruangan perawatan sebuah rumah sakit. Suaminya yang sedang memakan buah anggur bawaan Deya ikut terkejut namun untuk sesaat.
"Silahkan Nak Edward, silahkan masuk. Wah, kok tahu bapak ada di sini?" tanya Pak Seto yang belum mendengar apapun tentang hubungan Deya dan pria ini.
"Dari Deya. Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Edward duduk di sebelah Pak Seto.
"Baik... hanya terpeleset sedikit tapi kok harus masuk rumah sakit. Sepertinya rumah sakitnya belum move on ku tinggalkan jadi memanggil lagi.
"Bapak kalau ngomong hati-hati bisa jadi doa lho."
"Hanya bergurau, Bu," ujar Pak Seto.
"Ini Bu ada sedikit buah-buahan dan entah apa ini untuk kalian," Edward mengulurkan bingkisan itu pada Ibu Ratmi.
"Tidak usah repot-repot, Nak." Ibu Ratmi mengambil bingkisan dari tangan Edward.
"Tidak akan pernah merepotkan."
"Nak Edward bisa saja."
Sebelumnya Edward sudah menanyakan keadaan Pak Seto pada Dokter yang mengurusnya. Dokter mengatakan jika hanya kaki Pak Seto yang bermasalah dan organ tubuh lain sehat walau belum stabil benar. Namun, secara keseluruhan baik-baik saja.
Edward sendiri takut jika ketika dia mengatakan ingin melamar Deya akan jadi boomerang bagi dirinya sendiri karena keadaan Ayah Deya akan memburuk.
"Dimana Deya Bu, tadi saya tanya dia sedang ada di rumah sakit?"
"Dia sedang membeli pampers di swalayan."
Edward dan Pak Seto lantas bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Terdengar gelak tawa dari keduanya membuat Ibu Ratmi ikut tersenyum pula. Hingga sampai Edward memperlihatkan wajahnya serius.
"Pak saya kemari ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja, Nak Edward, jangan sungkan."
Edward tersenyum kaku. "Saya kemari ingin melamar Deya."
Pak Seto menarik nafas dalam saat mendengarnya. Di saat yang sama Deya masuk ke dalam dan semua mata menatap ke arahnya. Suasana terlihat tegang membuat Deya tidak nyaman.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Deya.
Pak Seto melambaikan tangan agar Deya mendekat. Deya menuruti ayahnya.
"Nak Edward ingin melamarmu?" ucap Ayahnya merangkul bahu Deya dengan satu tangannya. Deya yang sedang menunduk menaikkan pandangannya menatap Edward. Deya mulai gelisah. Ayahnya memang pendiam dan jarang terlihat emosi bahkan nyaris tidak pernah marah sama sekali.
"Apa kau menerimanya?" tanya Pak Seto. Ibu Ratmi ingin bicara tapi tangan Pak Seto mencegah.
"Jika ayah setuju."
"Ayah tanya padamu apa kau setuju atau tidak. Apa kau menikah dengannya hanya karena uang atau kau memang mencintainya?" tegas Pak Seto langsung ke pokok masalah.
"Aku.... aku mencintainya," jawab Deya sambil memejamkan mata.
"Bukan karena hal lain? Bukan karena kondisi kita Deya?"
"Kami saling mencintai Pak," sela Edward.
"Nak Edward bersabar dulu. Aku hanya ingin meluruskan hati Deya." Pak Seto menatap Deya dengan tajam membuat dada Deya merasa sesak.
"Aku menghormatinya, menyanjungnya dan nyaman berada di dekatnya. Apakah itu cinta Ayah?"
"Om eh Mas Edward memang dekat denganku dan dia selalu tahu keinginan dan kebutuhanku tanpa harus aku mengatakan sesuatu. Aku tidak pernah meminta apapun padanya tetapi dia menawari ku semua hal yang aku butuhkan. Bahkan sebelum kami mengenal baik, dia sudah banyak menolongku."
"Ayah benar jika aku melakukannya bukan karena cinta semata tetapi karena hutang balas budi yang teramat banyak padanya tetapi jangan pernah bilang jika Mas Edward itu memaksaku karena aku yang menawarkan diri untuk membalas semua kebaikannya padaku."
"Mungkin aku mencintai Angga tetapi rasa hormat dan kagum ku pada Mas Edward lebih besar daripada rasa cinta itu."
Edward yang mendengar hanya bisa tersenyum sinis sambil menunduk dan memegang dagu yang berbulu halus.
"Dan satu lagi Ayah, ini terdengar materialistis tetapi aku bisa melihat jika Mas Edward lebih memperjuangkan aku daripada Angga. Buktinya aku tidak pernah bisa bercerita tentang masalahku pada pacarku tetapi jika pada Mas Edward aku menjadi diriku apa adanya," terang Deya panjang lebar hanya untuk dapat meyakinkan Ayahnya. Pada dasarnya hal yang paling dia cintai adalah keluarganya. Angga adalah cintanya tetapi tidak sebesar itu hingga mampu membuatnya menutup mata pada masalah keluarga.
"Ayah sudah mendengar tentang perasaanmu, sekarang giliran Nak Edward. Apakah kau benar-benar mencintai anakku?" tanya Pak Seto tenang namun memancarkan ketegasan.
Deya takut akan satu hal, yaitu ayahnya tidak percaya dengan kata-kata Edward dan membuat pernikahan sementara ini akan batal. Jika itu terjadi makan bagaimana bisa dia membayar semua biaya rumah sakit ayahnya. Dadanya mulai berdegub dengan keras.
Edward terdiam, menghela nafasnya. Dia menatap ke arah Deya.
__ADS_1
"Aku hanya akan berjanji satu hal jika aku tidak akan melukai hati Deya, itu artinya aku akan menjaganya sebaik mungkin dengan sepenuh hatiku. Aku juga punya anak perempuan, tidak ingin melihat dia sedih dan tersakiti karena itu aku selalu menghormati wanita karena penghormatanku itu suatu saat mungkin akan berimbas karma baik pada nasib Zahra kelak."
"Apa kau sudah punya istri?"
"Sudah. Namanya Soraya Larasati."
"Oh, artis sinetron itu?" pekik Ibu Ratmi lalu menoleh ke arah Deya.
"Jika kau punya istri yang cantik mengapa kau ingin menikah dengan Deya yang kalah cantiknya dengan istrimu?" tanya Ibu Ratmi gatal.
"Karena ingin melindunginya dari perbuatan salah," jawab singkat Edward tanpa kebohongan ataupun tendeng aling-aling.
"Kau tidak mencintainya?" tanya Ibu Ratmi dengan sesak.
"Aku tidak ingin ada kebohongan, jadi aku jawab semua dengan jujur dan apa adanya."
Deya yang mendengar meringis dan menutup mulut dengan kesal. Dia sudah susah payah merangkai cerita yang bagus agar ayah dan ibunya menerima pria itu malah Edward membongkar semua kebohongannya.
"Aku tidak mencintai Deya... saat ini. Namun, aku tertarik dengan kedewasaannya, sifat rela berkorban untuk keluarga, juga nilai agama yang ada dalam dirinya mengakar begitu kuat. Sehingga tidak membuatnya lewat dari batas-batas yang ada. Hal yang susah kudapatkan dari wanita di luaran sana, sekarang ini. Itu pasti karena didikan kalian kuat melekat dalam dirinya."
Kedua orang tua Deya menatap Deya dengan penuh haru. Ibu Ratmi lalu memeluk anaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini dia meragukan Deya. Kali ini dia percaya pada anaknya setelah apa yang Edward katakan.
"Jadi kau ingin menjadikan Deya istri kedua?"
"Itu jika kalian merestui karena Deya yang ingin sendiri melakukan itu. Saya tidak pernah mengajak atau memaksanya."
"Benar apa yang Nak Edward katakan?"
Deya mengangguk pelan. Pak Seto menghembuskan nafas keras. Dia terdiam untuk berpikir.
"Jika kau telah menikah dengan Deya apa kau akan mencari istri lagi untuk kau jadikan yang ketiga dan keempat?"
"Ayah...?"
"Biasanya pria memang seperti itu Deya tidak pernah akan puas pada apa yang telah dia dapatkan. Mencari suami yang setia seperti ayah itu sangat sulit," sindir Pak Seto terang-terangan.
***
__ADS_1
Sepi banget kayak nggak ada yang baca... like komennya dong biar authornya senang dan semangat. Jangan lupa kasih vote dan masukkan ke favorit. Ngarep banget tahu... dengan perhatian kalian... love you much...