
Deya pergi ke rumah Edward lagi. Niat hati ingin pamitan pada Zahra secara pelan, mungkin satu atau dua hari lagi dia akan keluar dari rumah itu.
"Kak Deya, kok pergi nggak bilang-bilang," seru Zahra yang sedang latihan berjalan di halaman rumah.
"Maaf, kakak ada laporan yang harus kakak serahkan ke dosen jadi pergi dan sorenya kakak kembali ke rumah kakak sendiri."
"Memang di mana rumah Kakak?"
"Depok."
"Oh, ya aku lupa. Jauhkah dari sini?" tanya Zahra lagi.
"Ehm lumayan, 20 kilometer jarak rumah kaka dari sini."
"Aku bisa main ke sana dong," kata Zahra.
"Tentu saja jika kau ada waktu, cuma hubungi kakak dulu karena kakak banyak kegiatan di luar rumah."
"Memangnya kakak mau pergi dari rumah ini, kok hubungi kakak?"
"Ehm... kita bicarakan ini di dalam saja yuk," ajak Deya. Deya lantas membantu Zahra melangkah karena anak itu belum bisa berjalan normal. Masih sangat hati-hati dan pelan. Namun, dia kata dokter perkembangannya cepat.
"Aku ingin bisa ikut pelajaran olah raga seperti teman yang lain, makanya aku ingin cepat sembuh." Ingat Deya pada perkataan Zahra tempo hari.
Baru juga mereka melangkah masuk ke rumah, sebuah teriakan terdengar keras hingga bergema ke seluruh sudut rumah.
"Mau apa kau kemari lagi, ja**** murahan!" teriak Soraya dari atas balkon ruangan.
Deya dan Zahra menatap ke atas.
"Ibu...!"
"Kau pulang setelah semalam berbahagia bersama lelaki orang!" maki Soraya dengan mata berapi-api. Mr. Lee masuk ke ruangan itu melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kakak kenapa Ibu marah?" tanya Zahra dengan wajah polosnya.
"Nyonya apa maksud Anda?"
"Jangan sok suci!" Soraya turun ke lantai bawah. Dia lalu berhenti di dekat tangga menghadap Deya.
__ADS_1
"Ini mengapa ada di kamarmu?" tanya Soraya melemparkan sebuah ****** ***** pria berwarna hitam. (authornya ketawa bayanginnya)
Deya terkejut. Mengapa celana ini ada dikamarnya apakah terselip di salah satu sudut kamar dan dia tidak tahu?
"Jangan bilang jika itu punyamu atau ayahmu. Itu kotor dan ada noda bekas percintaan," ucap Soraya sinis.
"Apa Anda menggeledah kamar saya?" tanya Deya.
"Kenapa? Aku punya hak karena aku satu-satunya nyonya rumah ini. Apa kau keberatan?" balik Soraya.
"Tidak hanya saja ini masalah pribadi saya."
Soraya melemparkan sebuah vas yang ada diatas meja sebelah tangga ke arah Deya. Hal itu membuat Deya dan Zahra meloncat kaget menghindari vas bunga itu.
Pecahan vas tersebar di mana-mana. Deya dan Zahra saling memandang.
"Masalah pribadi? Itu akan berbeda jika itu milik pria lain tapi ini milik suamiku aku tahu dari merk yang dia gunakan dan ukurannya sama. Apakah suatu kebetulan?" Tatap tajam dan membunuh Soraya yang sedang kalap.
Wajah Deya memucat. Dia mulai kehilangan ide untuk berkilah. "Itu tidak tertera nama suami Anda. Anda jangan menuduhnya juga dalam hal ini Nyonya?"
"Iya Ibu, Kak Deya baik tidak mungkin akan melakukan itu dan ayah juga tidak akan berbuat tidak baik pada Kak Deya. Zahra percaya Ayah."
"Lalu mengapa jam tangan ini ada di dalam lemari kamarmu?" tanya Soraya membuat Deya tidak bisa berkata-kata. Edward memang meninggalkan jam tangan itu di atas meja dan dia menyimpannya. Matanya sudah mulai memanas melihat tatapan terluka dari Zahra. Deya menggeleng.
"Ibu, Ayah dan Kak Deya tidak mungkin akan berbuat seperti itu, Ibu mungkin salah," ucap Zahra lirih melihat ke arah ibunya. Rasa kecewa dan sakit
"Apakah kau tidak pernah menganggap ibumu penting hingga selalu membela ayahmu dan sekarang wanita murahan ini!" teriak Soraya terluka, mengambil lagi sebuah piring keramik hias dan dilemparkan ke arah dua wanita itu.
"Ibu yang melahirkanmu dan membesarkanmu tapi kau tidak pernah mencintai Ibu!"
Deya yang melihat piring itu melayang ke arah Zahra lalu melindunginya dengan tubuh. Disaat itu Edward yang baru masuk rumah pun melakukan hal sama melindungi dua orang yang sangat dia cintai.
Prank!
Piring mengenai lantai di belakang Edward dan memercik ke semua arah. Soraya belum berhenti. Dia melemparkan lagi semua benda yang ada dua sekitarnya kepada tiga orang itu. Hingga habis. Bagai orang kesurupan.
"Nyonya sudah!" ucap Mr Lee memegang tangan majikannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Deya pada Zahra. Meneliti nya. Memastikan anak itu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terluka fisik.
__ADS_1
Zahra terdiam, anak itu nampak shock menatap kosong ke arah ibunya. Lalu menangis. Deya mendekapnya. "Semua akan baik-baik saja."
"De, kau terluka?" ucap Edward khawatir, memegang kening Deya yang terluka dan berdarah, terkena pecahan keramik.
Deya memegang keningnya dan melihat ada darah di ujung jari.
"Ini hanya luka sedikit." Edward mengusapnya lembut dengan tangan.
"Ha... ha... ha...." tawa Soraya hambar seraya menangis. Menarik rambutnya ke belakang.
"Kalian saling melindungi seperti sebuah keluarga." Kakinya merasa lemas lalu duduk di lantai. Menangis tersedu.
"Kau gila, Aya!" teriak Edward. Namun, tangan Deya memegang tangan Edward dan menggeleng, meminta pria itu untuk tidak bertengkar dengan Soraya.
"Hah!" teriak Edward keras melepaskan kemarahan di dadanya.
"Mr.Lee panggil Dokter Franda datang ke rumah ini dan bawa Soraya masuk ke kamar," perintah Edward.
"Kenapa kau harus memanggil Dokter itu?" tanya Soraya.
Edward menggelengkan kepala. Dia lalu menggendong Zahra pergi ke kamarnya. Deya bingung untuk kemana, keluar dari rumah ini atau ikut Edward.
"Deya!" panggil Edward.
"Lihatkan, kecurigaanku benar jika kau ada affair dengannya. Akh....ha...ha...ha..." Soraya tertawa seperti orang gila. "Kalian bercinta di belakang ku, di rumahku sendiri, itu sangat kejam."
"Kau butuh Dokter Franda, Aya. Sekarang masuk ke kamarmu atau aku akan mengikatmu jika kau keterlaluan."
"Aku bukan orang gila yang akan kau ikat!"
"Kau yang keterlaluan, mengabaikanku karena ada wanita muda, kau sangat jahat Ed!" seru Soraya tidak mau kalah.
Edward ingin membalas kata-kata Soraya namun lagi-lagi Deya mencegahnya.
"Ed, Zahra." Anak itu menatap ke arah ibunya dengan ekspresi sedih. Tetesan air matanya mengalir begitu saja dan tidak dia hapus.
Edward lalu masuk ke dalam lift bersama dengan Deya dan Zahra.
"Ibu...." lirih Zahra menatap ibunya yang menangis tersedu ketika pintu lift mulai tertutup.
__ADS_1
Deya mengecup kepala Zahra. "Semua akan baik-baik saja," ucapnya lagi. Zahra memasukkan kepalanya di leher ayahnya dan memeluknya erat. Tubuhnya bergetar hebat.