
"Soraya!" teriak Edward keras ketika melihat Deya terjatuh setelah didorong wanita itu. Wajah Soraya memucat seketika.
Edward langsung mendekat ke arah Deya membantunya bangkit. "Kau tidak apa-apa Sayang? Tidak terluka?" Edward memeriksa tubuh Deya takut ada luka padanya. Deya menggelengkan kepala.
Setelah mendapatkan pemberitahuan dari resepsionis Deya menelfon Edward memberitahu jika Soraya akan datang. Waktu sepuluh menit dia gunakan untuk mengulur waktu agar Edward tidak terlambat datang. Dia sudah memperkirakan jika Soraya akan membuat keributan.
"Aku tidak apa-apa."
Edward lantas maju ke depan Soraya yang terlihat takut.
"Kau mau apa kemari?"
"Aku hanya ingin menemui anakku, tapi istrimu melarangnya."
"Aku minta dia minta ijin dulu padamu. Namun, dia malah ... kau lihat sendiri kan," tandas Deya membuat Soraya bungkam.
"Aku tidak akan ijin kan kau bertemu dengan Zahra sampai kau sadar pada apa yang kau lakukan atau setidaknya proses perceraian kita telah selesai!"
"Kau tidak bisa melakukan itu, aku juga punya hak sama denganmu untuk bersama dengan Zahra."
"Ya, jika kau Ibu yang baik, kenyataannya kau sendiri tidak bisa mengurus dirimu sendiri!"
"Tuan Edward, kami hanya ingin bertemu dengan Zahra memastikan keadaannya baik-baik saja. Anda tidak bisa menghalangi kami, jika iya, kami bisa melaporkan ini ke pihak komnas anak."
"Hei kau jangan sok buta tidak bisa melihat bagaimana istriku ini. Kau tahu jika dia peminum berat apakah aku harus menitipkan anakku padanya?" Edward mengipas hidungnya. "Kau minum ketika ke sini?"
Soraya tertegun sejenak. "Ed, aku ingin Zahra bersamaku, ku mohon. Bukankah kau sudah bersama dengan dia dan anakmu, itu sudah cukup untukmu kan? Jangan kau tambah penderitaanku dengan memisahkan aku dengan Zahra." Soraya bersimpuh di kaki Edward, menangis.
"Sudahlah, aku sudah tidak percaya lagi dengan tangismu, Aya. Hei, kau sebaiknya bawa mantan istriku pergi dari sini." Sarkas Edward yang sangat kesal.
"Ed, aku masih jadi istrimu," kata Soraya emosi.
"Bagiku kita sudah tidak punya ikatan apapun semenjak tiga tahun lalu. Aku sudah mengatakan ingin cerai darimu sudah lama kan? Jadi secara agama kau sudah bukan istriku lagi."
__ADS_1
Edward memeluk bahu Deya dengan satu tangannya. "Walau dia bukan istri sahku, secara agama dia istriku. Kau faham, siapa yang mantan dan siapa yang statusnya istriku!"
Soraya menatap nanar pada pasangan itu. Air matanya luluh lantah.
"Aku tetap akan mengambil Zahra," ujar Soraya berusaha naik ke atas tapi dihalangi Edward.
Pengacara Soraya hendak maju membantu tetapi Satria dan dua orang lainnya menghalangi.
"Kau ingin dibuang seperti sampah dari sini atau pergi dengan cara terhormat!" usir Edward dengan tatapan tajam. Mereka beradu pandang untuk beberapa saat. Soraya terlihat mengepalkan tangan ingin marah mengeluarkan emosinya.
"Nyonya, jangan buat masalah. Lebih baik kita pergi sekarang," bisik pengacaranya.
Soraya menghela nafas panjang. Membuang wajah ke samping lalu membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan tempat itu. Kaki Deya melemas setelah melihat wanita itu meninggalkan rumah. Dia memeluk Edward dan menangis.
"Kalian semua pastikan mereka pergi dari sini. Satria, kau handle pertemuan ku dengan Mr. Arnold."
"Baik, Tuan."
"Tenanglah, semua masih terkendali," bisik Edward mencoba menenangkan Deya.
Edward mengusap punggung istrinya lembut. Setelah tangis Deya mereda, bertanya soal anak-anak. Mereka lantas melihat ke lantai atas.
Zahra langsung memeluk ayahnya ketika melihat Edward datang. Dia menangis. "Aku takut Ayah."
"Semua akan baik-baik saja kau tidak perlu takut lagi."
***
Benar saja, kedatangan Soraya adalah salah satu upaya menjatuhkan pihak Edward. Berkembang berita cuplikan peristiwa dimana kehadiran Soraya yang ingin bertemu dengan anaknya dihalangi oleh Edward serta anak buahnya.
Timbul simpati dari para netizen untuk Soraya. Mereka merasa iba dengan apa yang telah terjadi. Berbagai dukungan pun timbul. Saat ini dari kedua belah pihak tidak ada yang memberikan statemen apapun untuk meluruskan hal itu.
Kini Zahra pulang dan pergi sekolah dengan kawalan penuh dari anak buah Edward karena tidak ingin anaknya diambil paksa oleh Soraya.
__ADS_1
Sidang mediasi telah berlangsung. Soraya masih dengan drama sama, ingin tetap bersama dengan Edward tetapi Edward tidak menghadiri sidang itu. Sidang kelanjutan dilakukan di lain hari.
Berita tentang perceraian mereka menjadi trending topik dan selalu menjadi incaran wartawan. Hal itu juga berimbas pada lapak jualan Deya. Banyak yang mengomentari miring dan melakukan pembatalan pemesanan karena masalah ini. Untung saja pemesanan dari luar negeri masih ada sehingga walau terjadi masalah usahanya masih bisa tetap berjalan dengan omset yang menurun drastis.
Untungnya kali ini tidak ada yang tahu dengan letak rumah keluarga Deya karena terletak di perumahan yang dijaga dan antara satu warga dengan warga lainnya tidak saling mengenal.
"Aku juga kesal dengan tingkah Soraya ini. Mengapa dia membuat berita seolah keluarga kita adalah seorang penjahat dan kau seperti tidak punya hati, Ed?" omel Mama Claudia. Mereka berbincang di ruang tamu Edward. Wanita itu datang untuk melihat keadaan kedua cucunya.
"Biarkan saja dia berbuat semaunya yang penting adalah di sidang kita berikan semua bukti yang ada dari kedatangan Soraya dan kesaksian semua orang yang melihat. Jika kita bisa mengungkap siapa Soraya maka percepatan akan terjadi dan hak asuh Zahra akan berada di tangan Edward. Kita tidak perlu membuktikan apapun pada netizen. Mereka itu pandai pasti nanti akan tahu sendiri," ucap Edward santai sambil menyesap kopinya.
"Kau nampak santai dengan semua ini, Ed?"
"Pria melakukan segala sesuatunya dengan otak sedangkan wanita dengan emosi. Kita hanya perlu akal cerdik untuk membuka tabir diri Soraya. Percuma jika berkoar-koar tidak akan ada yang mendengarkan. Mereka pasti akan membela Soraya yang terlihat seperti korban. Berikan bukti biar mereka menilai sendiri, nanti."
Mereka terdiam menatap ke layar televisi. Ini hari Minggu dan Edward sengaja mengosongkan jadwalnya. Dulu ketika Deya tidak ada, tidak ada hari libur untuknya. Jadwal pekerjaannya yang padat bisa mengalihkannya dari pikiran tentang Deya. Kini, dia seakan ingin membayar kerinduannya dengan senantiasa berada di dekat wanita itu. Namun, Deya ingin semua berjalan seperti biasanya. Edward dengan pekerjaannya dan Deya dengan kesibukannya mengurus rumah juga sesekali menengok perkembangan usaha yang dirintisnya
"Ini dipasang di sini," kata Mama Claudia pada Dafi yang sedang memasang puzle. "Dia sepertimu Ed, suka main pasang-pasangan."
"Sampai hari ini," jawab Edward santai. Mama Claudia tertegun menatap anaknya. Lalu tertawa dan menggelengkan kepala.
Terdengar suara tawa dan ramai dari arah dapur padahal disana hanya ada Deya dan Zahra saja.
"Mereka terlihat akrab seperti anak dan ibu."
"Memang seperti itu kan?"
"Deya pandai mengambil hati Zahra, anak itu seperti nyaman padanya."
"Dari awal ketika aku melihat Deya, aku sudah punya feeling jika Deya itu berbeda dari kebanyakan wanita Ma. Dia yang tidak kenal Zahra, menyelamatkan nyawanya. Secara naluri, hubungan erat keduanya sudah dimulai dari awal mereka bertemu. Mama lihatkan hasilnya, feeling ku tidak salah dengan membawa Deya masuk ke dalam hidupku."
"Kau sangat mencintainya Ed?"
"Bukan hanya cinta, aku juga sangat menghormatinya. Bagiku dia adalah wanita paling hebat yang pernah ada, anugerah terindah yang Tuhan ciptakan untukku."
__ADS_1
"Mama harap dan berdoa semoga kalian tetap bersama hingga akhir hayat."
"Bukan hanya sampai akhir hayat, aku berharap sampai akherat pun Deya akan tetap berada di sisiku. Dia bidadari surgaku, Ma."