Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 61 Gundah


__ADS_3

"Kenapa tidak tahu? Bukankah Ayah yang akan memutuskan hal itu? Jika iya, maka aku akan ikut siapa? Apa hidupku akan kalian perebutkan nantinya seperti temanku lainnya, yang orang tuanya berpisah?"


Nada bicara Zahra nampak sedang menyalahkan Edward.


"Ayah marah ketika Ibu pulang malam dan mengatakan jika Ibu berselingkuh?" Zahra sebenarnya anak kecil tetapi dia biasa disuguhi pertengkaran yang membuatnya faham dengan pembicaraan orang dewasa.


"Sekarang, Ayah malah menikahi Kak Deya? Tidak bisakah Ayah memaafkan Ibu?" desak Zahra membuat Edward terdiam.


"Kita masuk dulu, yuk lihat keadaan ibumu," bujuk Edward.


"Ayah harus jawab pertanyaanku. Ibu sudah minta maaf dan Ayah pun sudah membalasnya apakah masih ada kesempatan untuk Ayah kembali bersama Ibu? Aku butuh kalian bersama!" suara parau Zahra tersedu-sedu.


Edward mengusap punggung Zahra, tetapi anak itu menepis dan pergi keluar dari mobil. Di saat yang sama Mr. Lee berada di sebelah Zahra membantu anak itu berjalan masuk ke rumah. Edward meninju mobilnya dengan kesal.

__ADS_1


Zahra langsung mencari ibunya. Dengan takut dia mulai membuka pintu kamar, melongok ke dalam. Suasana kamar masih temaram. Hanya ada cahaya dari lampu luar saja yang masuk ke dalam. Terlihat siluet ibunya berbaring di tempat tidur. Terlihat titik air mata di sudut mata ibunya. Zahra lantas berbaring di sisi ibunya dan meneteskan air mata.


Ya, dia rindu momen ini. Momen ketika dia bisa tidur satu ranjang dengan ibunya. Soraya telah menjadi ibu yang baik selama beberapa bulan ini. Hal itu, membuat Zahra merasakan kehangatan kasih sayang ibunya yang selama ini hilang dibawa oleh angin.


"Bu, aku sayang Ibu." Zahra seperti anak lainnya yang kecewa pada ibunya tetapi di satu sisi sangat menyayanginya.


Dia merasa terluka ketika menatap ibunya yang berharap agar tidak meninggalkannya dan pergi bersama Ayah serta Deya ketika tempo hari dalam lift. Ibunya pasti sangat sedih.


Zahra mengusap air mata di pipinya dengan


Dia merasakan kehadiran ayahnya dalam kamar ini. Namun, Zahra pura-pura tertidur. Tidak lama kemudian terdengar derap langkah lainnya masuk.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Edward.

__ADS_1


"Nyonya sudah diberi obat penenang kemarin. Emosinya sudah terlihat stabil kembali. Tadi dokter Franda datang lagi dan Nyonya nampak emosional. Dia marah-marah meluapkan kekesalannya pada barang-barang di sekitarnya. Dokter Franda mencoba untuk meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Nyonya mulai tenang setelah diberi obat anti depresan."


"Syukurlah, besok aku akan bicara lagi dengannya."


"Nona, bagaimana Tuan?"


"Biarkan dia tidur bersama ibunya. Sudah lama mereka tidak bersama seperti ini."


Edward lantas pergi dari kamar itu diiringi oleh Mr. Lee. Di saat itu pula Zahra membuka matanya lebar. Mulai memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku akan pergi, jaga anakku dan Soraya. Jika ada apa-apa, cepat hubungi aku!" perintah pria itu melangkah pergi menuruni anak tangga satu demi satu. Mr Lee mengikutinya sampai ke depan mobil.


Mobil mulai berjalan pergi, Zahra melihat dinding kamar ibunya yang terlihat cahaya melintas dari mobil ayahnya.

__ADS_1


Edward sendiri pergi lagi ke apartemen Zahra meninggalkan Zahra dan Soraya. Dia perlu Deya untuk menenangkan hatinya yang gundah.


__ADS_2