
Dengan tangan gemetar, Deya menurunkan tali baju di bahunya. Tubuhnya yang kecil namun pada berisi terpampang nyata di depan Edward. Kulit tubuhnya mulai memerah karena rasa malu yang dia tahan. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajah, menahan buliran bening yang nyaris saja jatuh dari sudut mata.
Edward sendiri menelan salivanya dalam. Lama dia tidak menyentuh istrinya, hal itu membuat kelakiannya bangkit seketika. Edward langsung merubah posisi duduknya dengan meletakkan satu kaki diatas kaki yang lain.
"Sekarang puaskan aku! Baru aku akan membayarmu dengan harga tinggi."
Deya menaikkan pandangannya, nafasnya terengah-engah karena menahan gemuruh di dada. Perjanjiannya dengan Lia dan Om Arya tidak seperti ini.
"Aku tahu seharusnya aku tidak meminta sesuatu padamu tetapi ini penting untuk kukatakan." Suara Deya terdengar gemetar.
Edward mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya menegang kini agak rileks, satu alisnya dinaikkan ke atas.
"Aku hanya memperlihatkan barang yang akan kau beli, yaitu aku. Tetapi ketika kau membeliku kau harus melakukan transaksi terlebih dahulu."
"Bayar DP maksudmu?"
"Tidak... bukan itu."
"Lalu apa?"
Deya menutup matanya sejenak. Lalu membukanya kembali dan menatap Edward dengan berani.
"Aku gadis baik-baik," ujar Deya.
"Semua wanita sepertimu akan mengatakan hal itu. Nyatanya, kalian sama saja."
"Kau boleh mengatakan hal apapun tentangku. Akan tetapi sebelum berani melakukan ini, aku punya satu perjanjian dengan Om Arya. Aku akan melayani pria yang membeliku dengan sepenuh hati tetapi dengan syarat pria itu akan menikah denganku walau satu hari. Terus terang aku masih takut dengan neraka."
Edward terpaku lalu tertawa hambar. Dia bangkit dan mengelilingi Deya.
"Kau ingin jadi istriku?" bisik Edward di telinga Deya membuat tubuh wanita itu meremang seketika.
"Aku hanya ingin menghalalkan perbuatan buruk ini, tidak ingin melukai kepercayaan ayahku yang telah mendidik ku dengan baik selama ini," tegas Deya.
"Lalu jika kau tahu ini salah mengapa kau melakukan ini?" cecar Edward yang berdiri di depan Deya menatap wajahnya dengan seksama. "Jika bukan karena uang?"
Deya mengepalkan dua tangannya dengan kuat menahan gejolak perasaan yang ada. "Aku punya alasan khusus." Deya memalingkan wajah ke samping. "Tapi kau benar, aku ingin punya banyak uang saat ini."
Edward menghela nafasnya. Dia berjalan mengambil jasnya lalu melemparkan ke arah Deya.
__ADS_1
"Pakai ini!" ucapnya masih memunggungi wanita itu.
Edward mulai penasaran mengapa Deya melakukan ini. Namun, dia salut karena wanita itu punya pendirian kuat tentang agama, sesuatu yang wanita muda masa kini melupakannya.
Dia juga bukan pria yang suka main celap-celup dengan wanita yang bukan menjadi hak miliknya. Dia tidak tertarik untuk melakukan itu pada Deya. Hanya ingin menyelamatkannya dari dunia prostitusi.
Bukannya langsung memakai Deya malah ketakutan. Takut jika uang yang sudah ada di depan mata pergi begitu saja.
"A-pa kau menolakku, tanya Deya memegang erat jas itu, mengesampingkan harga diri yang dia miliki.
Dia menatap penuh harap pada Edward.
Pakai dulu bajumu dan tutupi dengan jas itu.
" Tuan... aku mohon, jangan lakukan ini!"
Edward yang mendengar menarik satu sudut bibirnya.
"Wanita memang aneh. Tadi meminta apa, kini jadi apa!"
"Sekarang aku tanya padamu dan kau harus jawab dengan jelas maumu. Sebenarnya kau itu mau melayani ku atau tidak!"
"Aku sangat butuh sekali uang itu dan aku percaya kau adalah pria baik."
"Aku tidak sebaik itu jika terus melihat kau tanpa pakaian," ucap terus terang Edward. Jiwa lelakinya saat ini meronta untuk dipuaskan.
"Lagi pula tadi Arya hanya tidak mengatakan jika kau boleh ku miliki malam ini, tidak dengan pernikahan."
Deya mulai memakai bajunya.
"Aku pikir kita akan melakukan pernikahan kontrak, jadi aku mau melakukannya. Akan tetapi, jika untuk melakukan hal itu tanpa suatu ikatan, aku tidak mau. Aku menjual, jika pembeli ku tidak seperti yang kuingini, aku juga bisa menolaknya."
"Ya, sudah mungkin kau bukan rejekiku," ujar Deya memakai sepatu yang sempat dia lepas tadi.
Edward, menggelengkan kepala geli dengan kata-kata Deya, suaranya seperti anak manja yang merajuk namun terdengar dewasa.
"Aku sudah menikah, kau lihat cincin di jariku ini kan. Jadi tidak mungkin bagiku untuk menikah lagi dengan wanita lain selama istriku masih menjadi istriku," ucap ambigu Edward.
"Akh,aku tidak mengerti dengan ucapanmu, Tuan. Aku minta ijin pergi."
__ADS_1
"Tunggu," ucap Edward baru membalikkan tubuh.
Dia mengambil sebuah kartu kredit. "Ini biasanya ku berikan pada istriku, tapi ku berikan padamu saja. Nanti akan ku transfer uang untukmu."
"Jangan nanti istrimu mencari kartu itu. Itu bukan hakku tapi tak istrimu." Deya melirik ke arah kartu itu lagi. "Lagipula malam ini aku tidak melakukan apapun denganmu." Satu kakinya bermain-main di lantai.
Edward tersenyum dia mengambil tangan Deya dan meletakkan kartu itu ditangannya. "Kau tahu jika Zahra adalah hidupku dan kau telah menyelamatkan nyawanya. Ini tidak sebanding dengan apa yang kau perbuat."
Deya menatap mata teduh itu. "Aku tidak mengharapkan apapun ketika melakukannya."
"Aku tahu, kau telah menyelamatkan Zahra, maka biarkan aku menyelamatkanmu dari perbuatan salah ini." Tubuh Deya terpaku mendengarnya. Mereka saling beradu pandang sejenak tapi Edward memutuskan pandangan itu, melihat ke arah lain.
"Kau masih muda, masih panjang jalanmu meraih kesuksesan. Jika kau salah dari awal maka akan sulit untuk memperbaikinya, bisa saja nanti kesalahanmu ini menjadi batu sandungan untuk perjalananmu ke depannya."
'Kenapa pria recehan jadi pria sebaik ini, bikin baper aja. Swuer, kalau sugar daddy ku seperti ini, aku nggak bakalan menyesal.'
"Tuan beneran menolak?" tanya Deya sekali lagi.
Sebuah sentilan keras mengenai dahi Deya.
"Aduh!"
''Hilangkan pikiran kotor begitu, jadi wanita baik biar dapat suami baik. Kalau kamu jadi wanita murahan dapatnya suami asal-asalan. Asal mencintaimu padahal kau tidak tahu apa dia mencintaimu atau tidak, asal memberi uang bahkan bisa saja tidak menafkahi, asal memberi perhatian karena sibuk dengan wanita lain, bersikap seenaknya, mau begitu?"
Deya menggelengkan kepala.
"Kalau begitu mulai sekarang kau jadi wanita terhormat yang menjaga diri dengan baik agar suamimu nanti memang berniat menikahimu bukan hanya sebagai pemuas nafsu belaka tetapi karena dia mencintaimu dengan sepenuh hati."
Deya mengangguk seperti anak kecil yang sedang dimarahi orang tuanya.
"Sudah pulang saja sana. Biar sopirku yang mengantarmu pulang ke rumah."
Deya meletakkan kartu pemberian Edward di dalam tasnya.
"Terima kasih Om, eh Tuan." Deya mengambil tangan Edward lalu menciumnya hormat. Edward menyuruh pengawalnya untuk mengantar Deya ke mobilnya agar Deya bisa diantar sampai ke rumah dengan aman. Setelah itu, dia memandang kepergian Deya dengan menggelengkan kepala.
"Untung bertemu dengan ku jika pria lain kau sudah habis malam ini. Dasar gadis kecil, maunya instan saja."
***
__ADS_1
Instan itu enak Pak Edward dan g bikin ribet. wkkk wkkk wkkkk.