
"Tahu apa kau dengan diriku. Edward yang egois. Dia hanya punya waktu untuk dirinya sendiri. Selalu bekerja, pulang malam bahkan nyaris tidak ada waktu untukku. Dia memang manis di awal, tetapi jika dia sudah bosan kau hanya akan memperlakukanmu seperti robot saja. Memakaimu seperti barang lalu melupakannya seperti barang tak berharga. Aku wanita normal yang masih butuh perhatian dan cinta. Aku pergi mencari kebahagiaanku di tempat lain, dimana mereka menawari ku kesenangan walau aku tahu itu hanya sesaat, tetapi aku menikmatinya. Aku yakin suatu hari kau akan tahu apa yang kurasakan karena sifat orang tidak akan pernah berubah hanya ditutupi saja sebentar."
"Itulah kau, bukannya membuat suamimu betah di sisimu malah mencari pria lain."
"Pegang kata-kata ku kalau saat ini Edward sedang jatuh cinta padamu jadi dia merasa kau barang baru yang menarik karena dulu pun aku pernah merasakannya. Namun, jika dia telah bosan dia akan mencari penggantimu, wanita muda yang cantik dan tidak membosankan. Apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi? Edward tidak sebaik yang kau pikirkan. Jika dia baik dia selesaikan masalah denganku terlebih dahulu baru memutuskan bersamamu. Nyatanya, kau tahu sendiri, jika Edward hanya menjadikanmu alat untuk membalas dendam padaku awalnya. Dia hanya ingin menunjukkan padaku jika dia bisa melakukan hal sama denganku. Hal ini mungkin tidak kau ketahui karena kau sangat bodoh Deya."
Mata Deya terbelalak. Namun, sedetik kemudian dia mencoba untuk bersikap tenang tidak terpengaruh dengan omongan Soraya.
"Terserah apa katamu, kenyataannya Edward telah memilihku dan jatuh cinta padaku setelah mengenalku. Dia tidak menyesal menikah denganmu, tetapi dia menyesal mengapa tidak langsung menceraikanmu setelah kami bertemu. Dulu dia menikah denganmu karena kau cantik, tetapi setelah tahu sifat burukmu, dia muak hingga tidak ingin melihat wajahmu lagi. Wajah bidadari tapi hati iblis. Itu yang kutahu."
Wajah Soraya merah padam. "Kau!" Perempuan itu mulai mempercepat laju kendaraannya.
__ADS_1
"Soraya kau gila! Hentikan kendaraannya kita bisa mati!" seru Deya.
"Ha... ha... ha... kau tahu kan jika aku gila dari dulu. Edward adalah hidupku dan nafasku kau malah mengambilnya. Sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya, jika aku tidak bisa memilikinya kau pun tidak bisa."
Mobil melaju dengan cepat terdengar suara klakson berbunyi dari seluruh pengendara yang berpapasan. Deya memegang erat pegangan pintu. Menggumamkan doa semoga dirinya bisa selamat kali ini.
"Soraya tidakkah kau akan kasihan dengan putrimu Zahra jika kau tidak ada. Dia masih membutuhkanmu." Hati Deya berdebar keras, matanya menatap ke arah jalanan yang mereka lewati dengan wajah pucat. Dia merasa ini sudah akhir dari hidupnya.
Tiba-tiba terdengar suara Helicopters di atas mobil mereka.
"Aya, ini aku Edward. Ed mu, ku mohon hentikan mobilnya," kata Edward dari suara pengeras.
__ADS_1
"Ed-ku," ulang Aya, mulai menurunkan laju kendaraannya. Membuat Deya sedikit tenang.
"Aya, kita bicarakan semua dengan tenang. Aku tahu kamu kecewa padaku. Maka maafkan aku, tapi ini bukan cara yang baik mengakhiri segalanya," lanjut Ed dari atas Helicoptersnya.
Aya mendengarkan dengan seksama.
"Aya, Zahra menunggumu di rumah. Kita pulang yuk," bujuk Edward. Aya menutup mulutnya terharu.
"Kau dengar Ed mengajakku pulang, aku tahu dia masih mencintaiku."
"Aya, jika kau melakukan perbuatan ini malah akan membahayakan nyawamu sendiri dan nyawa Deya, dia juga sedang hamil. Hentikan mobilnya dan kita pulang bersama."
__ADS_1
Kepala Aya miring, pandangan matanya kosong. Deya memukul kepalanya sendiri. "Mas Ed kenapa kau katakan itu?" gumamnya telah ikhlas dengan apa yang akan terjadi. Memejamkan matanya dan mengucapkan doa. Deya mulai merasakan laju mobil semakin cepat, entah apa yang akan ditemuinya nanti.