
Soraya sendiri langsung pulang ke rumahnya bersama jajaran pengacaranya. Dia langsung berteriak memanggil Mr. Lee.
Beberapa orang datang membawa koper dan tas ransel meletakkan ke lantai. Soraya tertegun. Wajahnya merah padam seketika.
"Maaf Nyonya, mulai hari ini saya dan teman-teman saya akan kembali ke rumah Tuan Adam."
"Oh, kalian juga akan berkhianat padaku, hah!" teriak Soraya tidak terima.
"Maaf, Nyonya. Dari awal saya ini adalah karyawan dari Tuan Adam jadi saya berkewajiban untuk merawat dan melayani anggota keluarganya. Berhubung Anda sudah tidak menjadi istri Tuan Edward makan tugas kami selesai sampai di sini. Saya harap Anda faham dan mengerti akan hal ini."
Dada Soraya naik turun tidak beraturan, netranya memerah dan menyala, menatap tajam para karyawan di depannya.
"Ha... ha... ha... apakah setelah ini kalian akan mengabdi pada pela**r itu? Menjijikkan. Apakah kalian juga mau menjilat kotorannya jika Tuan Adam yang menyuruh?" ejeknya.
"Pergilah, aku tidak butuh pegawai yang tidak setia seperti kalian!" usir Soraya. "Satu lagi karena kalian bukan karyawanku maka aku tidak akan mempunyai kewajiban memberikan uang pesangon."
"Tidak perlu Nyonya, kami sudah senang bekerja bersama keluarga Tuan Adam yang telah memperkerjakan kami dengan baik dan menganggap kami keluarganya," balik Mr. Lee tidak suka dengan perkataan Soraya yang menghinanya. Namun, dia sudah tahu karakter Soraya yang buruk itu.
Mr. Lee lantas pergi bersama pegawai yang lain meninggalkan Soraya yang masih terguncang dengan semua yang terjadi. Dia terlihat tegar tapi hatinya sungguh terluka dalam. Dia merasa telah kehilangan semuanya, hidupnya terasa hambar dan tidak berarti.
"Deya, aku sangat membencimu...!" teriak Soraya keras melepaskan tekanan di dadanya. Dia lantas menangis keras.
Para pengacaranya saling memandang memahami situasi yang ada. Mereka lantas memutuskan untuk memberi Soraya waktu baru berbicara lebih dalam lagi mengenai pembayaran yang belum di selesaikan.
"Nyonya sebaiknya kami pergi dahulu. Nyonya butuh ruang dan waktu untuk menenangkan diri."
Soraya hanya diam. Para pengacara itu pergi meninggalkan Soraya sendiri.
Kini wanita itu merasa sepi dan terbuang. Dia menyesali semua yang terjadi pada rumah tangganya. Mengapa semua bisa seperti ini? Lagi-lagi Deya telah menghancurkan dirinya untuk kedua kali.
Soraya lantas melempar semua barang yang dia lihat dan menghancurkannya. Tertawa keras dalam tangis.
"Edward kau dulu berjanji akan mencintaiku selamanya tapi kau mengingkari janjimu hanya karena wanita itu. Hah! Sampai kapanpun aku tidak akan menerimanya," teriak keras Soraya hingga terdengar ke seluruh sudut rumah.
Ayah Paris dan istrinya yang baru pulang dari perjalanan bisnis di luar negeri langsung menemui Soraya di rumahnya. Mereka mendapati anak itu berbaring di lantai, diantara puing-puing isi rumahnya yang tersebar tidak beraturan. Rupa anaknya sudah awut-awutan tidak seperti biasanya yang tampil cantik dan anggun. Dada mereka sesak seketika. Anak yang mereka banggakan harus menderita seperti ini.
"Anak Ayah mengapa terjadi hal ini? Bagaimana bisa kau seperti ini?''
"Edward meninggalkan aku, Pah?'' ujar Soraya menangis tersedu.
"Untuk apa kau menangisi pria yang sudah tidak mencintaimu. Kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari dirinya."
"Tapi aku mencintainya, Pah." Soraya menangis bagai anak kecil dalam pelukan orang tuanya.
"Aku tahu, hanya saja cinta tidak harus memiliki, untuk apa kita bersama jika kalian hanya saling menyakiti."
__ADS_1
"Tidak Pah, Edward harus tetap menjadi milikku. Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Tidak, Pah," ucap Soraya nyalang. Ayah Paris mengangguk lalu menyuruh istrinya untuk memanggil Franda. Hanya dia yang bisa mengatasi Soraya.
***
"Ayo, kita akan berlibur ke Bali. Tempat yang ingin dikunjungi oleh Ibu kalian," kata Edward.
"Ayah mengajak pergi tidak bilang, kita kan tidak ada persiapan," sungut Zahra mengepak barangnya. Dia terkejut ketika baru pulang ke rumah dan diberitahu jika Ayahnya akan mengajak mereka berlibur.
Deya sendiri sibuk mengepak barang milik Dafi yang banyak. Dia sama seperti Zahra yang mengomel ketika Edward memberitahunya barusan.
"Kalian tinggal berangkat tidak usah bawa banyak barang, kita bisa beli di sana keperluan kita nanti."
"Itu malah tambah merepotkan. Harus pesan dulu baru datang kalau dibawa dari rumahkan tinggal mencari."
"Jawaban sama seperti ibumu."
"Sayang, kau lihat kotak perlengkapan bayi milik Dafi, yang berisi pelembab, minyak kayu putih dan bla... bla...," teriak Deya dari kamar samping.
"Sayang, kita langsung pergi saja tidak usah bawa apapun," jawab Edward masih bermain hape dengan Dafi. Dia tidak tahu apapun mengenai barang-barang rumah semua yang mengurus Deya.
Deya langsung melongok dibalik pintu. Menyipitkan mata, menatap tajam ke arah Edward.
"Kau bukannya bantu kami malah bermain!" omel Deya.
"Itu definisi membantu versi Ayah, Bu."
"Lagian sudah kukatakan untuk apa kalian repot membawa banyak barang jika bisa memberikan list yang kita butuhkan pada Satria, dia akan menyiapkannya."
"Ayah!" teriak Deya dan Zahra kesal.
"Apakah aku salah bicara?"
Deya dan Zahra membuang tangan lalu meneruskan pekerjaan mereka menyiapkan barang yang akan mereka bawa nanti ke tempat liburan.
Edward mengangkat bahu dengan wajah polosnya. "Apa aku salah bicara, Dafi?" bisiknya pada sang anak.
"Hmm, Ibu marah."
"Menyeramkan."
"Nanti Ayah tidak buatkan susu oleh Ibu kalau nakal," ucap polos anak itu.
"Wah, tidak dibuatkan susu? Itu berat."
Zahra menggelengkan kepala mendengar pembicaraan ayah dan anak yang absurd.
__ADS_1
***
Edward dan keluarganya masuk ke dalam pesawat, lalu pergi ke ruangan first class. Melihat nomer kursi yang akan dia gunakan. Zahra berjalan terlebih dahulu, dibelakangnya Deya. Sedangkan Edward berjalan paling akhir sambil menggendong Dafi. Seorang pramugari cantik dengan sopan memberitahu dimana letak kursi mereka.
"Aku duduk di sini, dekat jendela, Bu," kata Zahra senang. Deya sendiri menuju kursinya yang bersebelahan dengan Edward.
"Deya!" panggil Angga. Deya langsung mencari sumber suara yang akrab di telinganya.
Ternyata pria itu berada di pesawat yang sama dengannya. Deya langsung menghampiri, Angga hendak memeluknya tapi Edward menarik tangan Deya agar tidak mendekati istrinya.
"Sudah berapa bulan tidak melihatmu, kangen banget rasanya," ungkap Angga mengerti dengan gerakan Edward yang posesif pada Deya. Dia memaklumi nya. Mungkin dia akan berbuat sama jika istrinya bertemu dengan mantan.
"Iya, aku juga rindu." Deya langsung melihat ke arah Edward. "Sebagai teman."
Wajah Edward terlihat menegang. Dia mendengus di telinga Deya. Deya tersenyum kaku.
"Kau juga mau ke Bali?" tanya Deya mengatasi ketegangan yang ada.
"Ke Lombok, aku mau buka cabang toko di sana. Apakah Pak Seto tidak memberitahumu?"
"Sudah sebulan aku tidak mengurusi lagi usahaku. Sudah kuserahkan sepenuhnya pada Ayah dan adikku."
"Iya, aku tahu itu."
"Om Angga," panggil Dafi membuka matanya. Sewaktu mereka melakukan perjalanan ke bandara anak itu tertidur dalam gendongan ayahnya.
"Hallo, Sayang, Om."
Dafi mengulurkan tangan ingin digendong Angga. Edward tidak suka dengan hal itu namun dia tidak bisa mencegah.
"Om rindu sekali padamu," ujar Angga mencium Dafi.
"Dafi kangen, Om."
"Kangen apa?"
"Beli Ice cream."
"Hanya beli Ice cream?"
Dafi mulai berpikir. "Kangen apa, Bu?" balik Dafi bertanya pada ibunya. Deya gugup tidak tahu harus menjawab apa, karena sinar mata menakutkan milik Edward sudah menyorotinya sedari tadi.
***
Nah bambang Edward sudah cemburu nih, Deya ketemu mantannya. Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya?
__ADS_1