
Jantung Edward berdetak keras tatkala menatap ke arah sebuah rumah sederhana dengan dua lantai di depannya. Rumah yang ditinggali oleh Deya dan keluarganya. Netranya tidak bisa lepas dari sosok anak kecil yang bermain dengan bola kecil di kakinya.
Matanya memerah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak yang lama dia harapkan sekarang ada di depannya. Tidak jauh hanya beberapa meter saja. Ingin rasanya dia berlari dan memeluknya namun belum saatnya. Dia akan lakukan semua itu ketika semua masalah yang ada sudah terselesaikan.
Mimpinya setiap malam tentang bocah lelaki memang benar adanya dan itu adalah sebuah kenyataannya. Edward menangis dalam tawa di balik pakaian badut yang dia gunakan.
Edward melambaikan tangan. Dafi yang melihat dari halaman rumah menengok ke arah pagar besi hitam. Dia berjalan ke arah badut itu. Terhalang oleh pintu gerbang. Edward bergerak seperti pinguin memutar membuat Dafi tertawa dan bertepuk tangan. Suara tawanya yang keras membuat Ibu Ratmi keluar dari dalam.
"Dafi, kau katawa dengan siapa?" Bu Ratmi melihat badut di depan rumah. Lalu mendekat ke arah Dafi dan ikut melihat setiap gerakan yang di buat badut itu.
Si badut memberikan Dafi sebuah balon. Tidak mungkin dia memberikan hadiah besar itu akan membuat curiga keluarga Deya. Bukan karena dia takut tapi dia ingin masuk kembali ke sana tanpa membawa masalah yang akan menyulitkan kehidupan keluarga Deya.
Bu Ratmi mulai membuka pintu gerbang, Dafi menerima balon itu. Edward berjongkok memberikan sekotak cokelat pada Dafi. Ibu Ratmi mengangkat kedua alisnya, terkejut dengan pemberian badut itu yang tidak biasanya.
"Wah lihat Dafi, badut nya memberikan cokelat. Bilang apa?"
"Terimakasih," ucap Dafi tersenyum lebar. Senyum mirip Deya dalam wajah bocah lelaki. Itu memang anaknya walau lebih banyak mirip Deya tetapi pancaran matanya mirip dengannya. "Badut lucu sekali, aku suka."
Dengan tangan gemetar Edward menyentuh kepala Dafi. Namanya Dafi. Batin Edward bangga dengan anak lelakinya yang tumbuh sehat dan riang. Dia sangat tampan dan tubuhnya untung tinggi besar sepertinya tidak mirip dengan Deya yang kecil. Rambutnya lurus dan hitam berkilat seperti Deya. Bau tubuhnya harum khas seperti anak-anak.
Netranya di balik topeng badut meneteskan air mata. Mengepalkan tangan sendiri menahan perasaan ingin merengkuh anaknya.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Membunyikan klakson membuat Edward menengok ke belakang.
Dafi berteriak senang melompat-lompat melihat ibunya datang. Edward bangkit dan minggir.
"Wah,Ibumu sudah pulang," ucap Bu Ratmi berjalan membuka pintu gerbang lebar-lebar agar mobil Deya bisa masuk. Mobil Deya masuk ke dalam. Di saat itu Edward berjalan melipir pergi dari rumah itu.
Dafi mendekat ke arah pintu mobil. Deya membukanya dan menggendong Dafi.
"Apa ini?" Deya melihat balon dan cokelat di tangan Dafi.
"Badut lucu, " Dafi melihat ke tempat badut itu namun tidak ada.
"Lho kemana badut nya Ibu belum memberi uang. Deya melihat ke arah badut itu berjalan. Dia lalu mengejarnya.
"Hai, tunggu berhenti," teriak Deya.
__ADS_1
Langkah kaki Edward terhenti. Deya mendekat. Deya mengambil secarik uang lima puluh ribu dan memberikan pada badut itu.
Edward menghela nafas, lalu menerimanya. Dia benar-benar marah dan kecewa pada Deya tapi dia menghargai perjuangan Deya sudah menjaga anaknya dengan baik di balik semua kesulitan yang ada.
Edward pergi kali ini tetapi berjanji pada dirinya sendiri akan membawa pergi Deya dari tempat ini dan membawanya pulang ke rumah mereka secepatnya.
"Dadah," teriak Dafi. Edward berjalan mundur ikut melambaikan tangan pada Dafi.
Mata Deya tidak bisa lepas dari sang badut hingga hilang dibalik jalan yang berkelok. Dia tersenyum melihat Dafi yang senang. Mereka kembali berjalan ke rumah. Edward yang bersembunyi lantas keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat Deya lagi.
Deya sendiri masuk ke dalam rumah. Ibunya membawa teh hangat untuk Deya.
"Ayah dimana, Bu?"
"Menjemput sekolah Roy," jawab ibunya.
"Rai, kau jadi ngekos tidak ingin pindah sekolah saja seperti Roy?" tanya Deya.
"Tidak Kak. Aku sudah besar, sudah bisa mengurus tubuh sendiri. Lagi pula tempat kosnya dekat dengan sekolahku."
"Ya, sudah kalau begitu. Berarti mulai berangkat hari Minggu besok?"
"Ibu dan Ayah akan mengantar Roy ke tempat kos nya kau di rumah atau ikut juga?"
"Kebetulan itu hari minggu ada band terkenal manggung. Jadi stand di buka seperti biasanya, jadi sepertinya aku tidak ikut. Maaf ya Roy," kata Deya.
"Tidak apa-apa, Kak. Kakak juga cari uang untuk kebutuhanku juga, maafkan aku karena membebani hidup kakak."
"Kalian adalah keluargaku tentu saja akan jadi prioritas hidupku. Aku sangat sayang kalian. Satu lagi jangan minta maaf karena ini. Slama kalian belum bekerja kalian akan jadi tanggung jawab kakak."
Bu Ratmi tersenyum. Deya menang jadi anak yang berbakti pada orang tuanya. Dia seperti anak lelaki yang memegang tanggung jawab rumah di pundaknya sendiri. Tidak pernah mengeluh. Oleh karena itu, dia dan suaminya sebisa mungkin membuat pekerjaan Deya ringan. Pak Seto membantu Deya berjualan di online sedangkan dia membantu urusan rumah. Deya juga memberikan uang bulanan pada ibunya yang lebih dari cukup.
"Apakah itu bekal makanan pagi tadi?" Ibu Ratmi membuka tas kain yang ada di atas meja. Dia melihat bekal yang dia buat masih utuh.
"Kau belum makan? "
Deya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kenapa, kau bahkan belum makan sedari pagi."
Deya melirik ke arah Dafi. Ibu Ratmi menyuruh Raihan untuk membawa Dafi ke kamarnya.
"Aku bertemu dengan Mas Edward kemarin, " tutur Deya.
Bu Ratmi tidak terkejut karena tadi Zahra juga datang kemari.
"Itukah yang membuatmu resah?" tanya Bu Ratmi. Deya mengangguk.
Ibu Ratmi duduk di sebelah Deya dan kepala anak itu berada di pangkuan ibunya.
"Deya tidak tahu harus bagaimana, Bu? Deya takut jika Mas Edward tahu jika Deya memiliki Dafi, takut Mas Edward mengambilnya."
"Dia berhak tahu Deya," kata Bu Ratmi.
"Tapi?"
"Ibu percaya Nak Edward orang yang baik. Dia tidak mungkin memisahkan Dafi dari ibunya."
"Tapi.... "
"Katanya kau sudah merasa yakin akan kuat jika suatu hari bertemu dengannya. Yakin seperti apa Deya?"
"Entahlah Bu, semua tidak seperti yang Deya pikirkan. Berat rasanya. Deya pikir Deya bisa dengan lantang meminta cerai darinya tetapi ketika melihat wajah sedih Mas Edward Deya tidak tega."
"Tidak tega atau memang sebenarnya kau masih ingin bersamanya?"
"Itu tidak bisa, Bu. Deya tidak ingin semua yang terjadi akan terulang lagi."
"Bagaimana reaksi Nak Edward ketika bertemu denganmu?"
"Entahlah, terlihat senang pada satu sisi, ada kemarahan dan juga kekecewaan sewaktu Deya melarangnya untuk mendekat."
"Dia mencintaimu, De," ujar Ibu Ratmi.
"Aku tahu, Bu."
__ADS_1
"Kalau begitu kembali saja padanya jika kau masih mencintainya?"