Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 116 Tuduhan Pedas


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah setelah lelah mengikuti sidang. Dafi akan menginap di rumah Uti dan Kakungnya jadi rumah terasa sepi. Zahra dengan lemas masuk ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Melamun.


Edward ingin ikut masuk tetapi Deya mencegahnya. Dia mengajak Edward masuk ke kamar mereka. Sesampainya di dalam. Edward memeluk tubuh Deya erat.


"Terimakasih, Sayang, karena telah masuk ke dalam hidupku." Dia mencium pucuk kepala Deya dalam, menghirup aroma khas Deya yang disukainya.


"Mas," panggil Deya memainkan jarinya di kancing baju Edward.


"Hmm," jawab Edward singkat. Dia faham jika sedang seperti ini, pasti ada maunya.


"Aku ingin tinggal di rumah yang ada tetanganya."


"Maksudnya?"


"Rumah betulan, bukan seperti ini."


"Oh, itu soal mudah. Kau ingin kita beli rumah atau ikut saran Papaku untuk tinggal di sana."


"Aku belum tahu mana yang baik." Deya melepaskan diri dari pelukan Edward naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di sana. Dia merasa lelah sekali hari ini setelah mengikuti persidangan yang menguras emosi dan pikiran. Padahal dia baru ikut sekali tetapi batinnya ikut tertekan tadi.


Edward sendiri tidak pernah mengeluh tentang persidangan sedikit pun. Dia selalu pulang dengan ceria sehingga Deya merasa sidang perceraian itu mudah. Tinggal hadir lalu menjelaskan dan selesai. Nyatanya, tidak seperti yang dia pikirkan. Salah berbicara sedikit saja dan salah bertindak maka kekalahan akan berada di pihak Edward.


Sebenarnya, Edward sudah menyiapkan semuanya dari tiga tahun lalu. Itu memudahkan dirinya dalam persidangan kali ini karena banyak bukti yang bisa dia perlihatkan pada Pak Hakim selama sidang.


Soraya sendiri mengira bahwa tipu dayanya akan berhasil dengan menggiring opini publik. Namun, pikiran itu tidak selaras dengan kenyataannya. Edward berhasil memukul balik apa yang Soraya tebar ke media sosial.


Edward melepaskan jas dan dasinya. Lantas naik ke atas tempat tidur meletakkan kepala di paha istrinya.


"Ada apa?" tanya Edward melihat Deya melamun.


Deya menghela nafasnya, menundukkan pandangan menatap wajah suaminya yang selalu memberikan keteduhan pada hatinya.

__ADS_1


"Mas, kalau tinggal di rumah Mama itu enak karena besar dan semua ada. Sampai kebun bunga, binatang serta lapangan serba ada juga ada."


"Hmmm." Edward memejamkan matanya menikmati pijatan lembut jari Deya di kepalanya.


"Tapi sayangnya, aku lebih suka tinggal di rumah kecil seperti ini. Terasa lebih dekat dan akrab."


"Jadi kita beli rumah baru yang minimalis begitu?"


"Aduh aku kok jadi bingung ya? Repotnya jadi orang kaya itu banyak pilihannya. Kalau orang biasa kan tinggal memakai apa yang ada hanya merawatnya saja."


"Kau itu ada saja, De?"


"Kita lihat nanti saja setelah sidang ini selesai."


"Bagaimana kalau kita tinggal di rumah Mama tetapi sengaja membuat satu lantai khusus untuk keluarga kita. Jadi dekat dengan Mama dan Papa serta punya rumah sendiri yang mandiri. Jika kau mau pergi untuk satu urusan dengan mudah kau bisa titipkan Dafi pada Mama akan banyak pelayan juga yang membantu."


Deya ingin menyela tapi Edward menggerakkan jari tengahnya. "Lantai itu seperti rumah kecil kita. Jika kau tidak ingin ada pelayan di sana maka itu tidak masalah. Kita buat kamar kita dan anak-anak saling berdekatan. Buat dapur sendiri dan ruang keluarga sendiri. Seperti ini."


"Sebenarnya keluarga kami punya beberapa rumah lagi yang tidak terpakai. Jika kau ingin kita bisa menempati salah satu rumah itu."


"Kau seperti ingin tinggal bersama dengan orang tuamu?" tanya Deya.


Edward menatap Deya lekat. "Bagaimana kau tahu?"


"Karena kau terlihat bersemangat ketika membahasnya."


"Ya, aku ingin tinggal di sana mengingat orang tuaku sudah berumur dan aku yakin mereka pasti ingin menikmati masa tua bersama dengan anak cucunya. Selama ini aku belum. bisa membahagiakan mereka."


"Tetapi jika kau tidak nyaman tinggal di sana, itu tidak masalah karena kita bisa mengunjungi mereka setiap weekend."


"Itu tidak buruk. Aku setuju, hanya ketika aku merasa tidak nyaman kau tidak masalahkan kita pindah rumah."

__ADS_1


"Kita coba dulu." Deya menunduk mencium bibir Edward. Pria itu menarik wajah Deya lebih dalam dengan meletakkan tangannya di belakang kepala Deya.


Mereka berdua larut di dalamnya. Melupakan sejenak masalah yang ada. Hingga bunyi perut Deya mengakhiri cumbuan.


"Aku lapar. Akhir-akhir ini nafsu makanku bertambah."


"Jangan-jangan kau hamil lagi, De?"


"Aku tidak mau hamil lagi karena kita belum menikah secara resmi."


"Aku janji setelah proses perceraian ini selesai kita akan langsung menikah ulang tidak perlu persiapan apapun. Pokoknya aku ingin mensahkan pernikahan kita di depan semua orang. Agar kau tidak perlu khawatir lagi masa depanmu dan anak kita ke depannya. Aku juga akan mengurus akte Dafi setelahnya agar namaku bisa tercantum sebagai ayahnya," ungkap Edward dengan wajah tegas dan serius.


Deya menatap Edward tanpa kedip lalu memeluknya. "Aku percaya kau akan bertanggung-jawab padaku sepenuhnya, hanya saja aku ingin egois sedikit. Aku ingin segera menjadi Nyonya Edward secara sah bukan untuk kepentinganku sendiri tetapi aku ingin bisa selalu berdiri di sampingmu setiap saat. Ketika itu terjadi, orang akan memanggilku dengan Nyonya Edward, bukan pelakor lagi."


"Sabar ya, Sayang, tinggal sedikit lagi."


"Iya, aku selalu bersabar untukmu."


"Aku hanya takut kau tidak sabar lagi dan pergi jauh dariku untuk kedua kalinya."


"Kali ini aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena berada jauh darimu itu menyiksa diriku sendiri."


"Kau juga tersiksa tanpaku? Aku kira kau baik-baik saja karena ada dia di hidupmu."


Deya bangkit berjalan pergi ke dapur. Edward mengikuti wanita itu. "Kau selalu kabur ketika aku mulai membahas tentangnya kenapa? Apa kau sebenarnya suka padanya, De?"


Deya menepuk dahinya sendiri. "Jika aku suka padanya tidak mungkin aku berada di sini. Kau itu aneh-aneh saja." Deya melihat Zahra sedang berdiri menatap mereka.


"Zahra katakan pada Ayahmu agar jangan cemburuan. Akh, sudahlah, pusing bicara ini. Lebih baik aku mengisi perutku. Sepertinya, mie instan dan telor tambah cabai rawit enak. Zahra kau mau juga?"


Zahra mengangguk senang. "Kalau begitu ikut Ibu tinggalkan Ayahmu dengan segala sifat posesifnya. Lebih baik makan cabai pedas dari pada makan tuduhan pedas Ayahmu." Deya melirik tajam suaminya.

__ADS_1


Entahlah mau aku terusin panjang novel ini atau aku tamatkan akhir bulan ini. Nanti lihat ke depan ya reader tersayang. Aku nggak janji apa2 okey. Ada novel baru terbit bulan besok tentang anak dari pasangan Alehandro dan Dara (Mencintai Calon Kakak Ipar), cinta antara anak mereka. Kaisar dan Rose. Hayo bagaimana jika anak bawaan keduanya saling jatuh cinta dan ingin menikah, lalu datang orang ketiga diantara keduanya yang bernama Dina. Kaisar harus memilih siapa ya? Judulnya Kekasih Bayangan Bos. Tunggu ya, karena mulai up tanggal 1 bulan besok.


__ADS_2