
Deya sengaja mematikan lampu lantai bawah. Dia memasang beberapa lilin untuk memberi kesan romantis serta bau-bauan segar bunga mawar serta buket mawar merah yang segar pula.
"Wow, ini kejutan?"
"Bukan hanya pria saja yang harus memberi kejutan wanita juga bisa kan?" kata Deya menyerahkan buket bunga dengan tujuh tangkai bunga mawar di dalamnya.
"Tangkai ini melambangkan tuju bulan hubungan yang kita jalin." Edward menerima pemberian itu, memeluk pinggang Deya, menatapnya.
"Semakin hari kau semakin membuatku kagum dengan semua perhatian yang kau berikan."
"Kau juga membuatku kagum dengan ketampanan yang kau punyai," kata Deya.
"Hanya itu?"
"Uang juga," imbuhnya menaikkan kedua alis ke atas.
"Kau nakal." Edward menyatukan kening mereka.
"Cintamu yang membuatku merasa dihargai dan dimiliki."
__ADS_1
"Apakah aku telah berhasil membuatmu jatuh cinta?"
"Mungkin. Hmm hanya saja aku belum menyadarinya," kata Deya dengan suara meledek.
"Aku akan membuatmu sadar jika hanya aku pria yang kau cintai di dunia ini. Tidak boleh ada pria lain yang ada di hati dan pikiranmu. Sampai kapan pun."
"Lalu kau? Apakah kau boleh melakukannya?''
" Tidak, hanya kau yang ada di hatiku, De?" bisik Edward di bibir Deya. Lalu mengulum lembut bibir wanita itu. Deya yang sudah belajar banyak menyambutnya dan melingkarkan tangannya di leher Edward. Lama mereka terhanyut dalam ciuman yang memabukkan itu. Hingga suara perut Deya terdengar keras. Membuat Edward berhenti melakukannya.
"Kau lapar?"
Mereka akhirnya mulai makan malam bersama. "Aku sedang malas masak jadi hanya buat ini."
"Ini sangat lezat De," ungkap Edward.
"Kapan kau pernah mengatakan masakanku tidak enak. Walau keasinan pun kau bilang enak."
"Semua masakan istri terasa enak di lidah, De.'' Dulu ini sebagian dari mimpinya mempunyai istri yang mengurus kebutuhannya sendiri tanpa di bantu pelayan. Itu seperti menggambarkan takdimnya seorang wanita pada suaminya.
__ADS_1
"Kau rela mengorbankan tanganmu demi memasakkan aku. Terkadang wanita lain enggan melakukannya karena akan merusak wajah dan kuku mereka.Lalu bagaimana bisa aku mencelanya?"
Deya mengambil. tangan suaminya dan menciumnya. Kau juga bekerja keras dengan tangan ini agar aku bisa hidup dengan layak. Hakekatnya, kehidupan wanita ada di tangan suami. Jika sang suami memberikan kehidupan rohani dan batin seimbang maka istri akan bahagia. Apabila suami mengabaikan istrinya bahkan enggan untuk memberi nafkah lahir dan batinnya maka kehidupan seorang wanita akan hancur. Karena itu, terimakasih karena telah memberikan semuanya untukku."
"Surga rumah kuncinya ada di diri istri. Jika dia pandai menjaga semuanya maka penghuni di dalamnya akan merasa damai dan tenang," imbuh Edward.
"Dan kau adalah surgaku Deya."
Hati Deya terasa berbunga-bunga. Entah mengapa dia merasa terpana pada pandangan suaminya kali ini. Terasa berbeda, membuat detak jantung dadanya semakin bertambah keras. Dia juga merasakan hasrat yang sama dengan Edward. Ingin selalu bersama pria itu dan bercinta dengannya. Hal. gila yang sekarang memenuhi otaknya. Pikiran polosnya sudah tercemar oleh otak mesum suaminya.
Deya membetulkan baju bagian depannya dan hal itu tidak luput dari pengamatan Edward.
"Apakah kau coba memancingku?" tanya pria itu.
"Aku tidak sedang memancing hanya saja entah mengapa aku sedang ingin menghabiskan malam yang panas dengan mu."
Edward tersenyum nakal. Pikirannya tentang pekerjaan dan skandal. itu lantas menguap begitu saja ketika mendengar Deya sedang menginginkannya saat ini.
"Dimana?"
__ADS_1
"Dimana pun tempat yang kau inginkan."