Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 56 Statusnya


__ADS_3

Edward lalu menenangkan Zahra yang menangis di kamar.


"Di sini ada Ayah, kau tidak perlu takut." Edward memeluk Zahra dengan erat memastikan anaknya akan baik-baik saja.


"Ayah, Ibu?" ujar Zahra tidak tahu harus mengatakan apalagi.


"Ibumu, dia hanya butuh waktu untuk menangkan diri."


"Kenapa Ibu marah-marah mengapa dia mengatakan jika kalian punya hubungan?"


"Ibumu hanya salah faham Sayang. Ayahmu tidak punya hubungan apapun dengan Kakak." Deya berusaha menenangkan Zahra tetapi mendapat tatapan tidak senang dari Edward.


"Tapi kata Ibu?" Zahra kembali menangis keras.


Deya meminta memangku Zahra dan Edward mengijinkan. Kini Zahra sudah berpindah tangN memeluk Dia meminta Edward keluar dari kamar setelahnya dengan tatapan matanya.


Edward keberatan tapi Deya menatapnya tajam.


"Aku akan mengambilkan kamu plester." Edward mengalah dan keluar dari kamar itu membiarkan Zahra berbicara dengan Deya.


Dia keluar dari ruangan itu menuju ke arah Soraya yang sedang dipapah oleh Mr Lee ke kamar.


"Bawakan air putih kemari," perintah Mr. Lee pada bawahannya.


Para bawahannya dengan cepat pergi. Mr Lee membawa masuk Soraya dan mendudukkan nya di pinggir ranjang.


Pelayan yang tadi disuruh Mr. Lee mengambil air minum datang dan menyerahkannya pada pria tua itu. Soraya memegang gelas dengan gemetar, meminumnya. Mr. Lee menyuruh pelayan wanita untuk membersihkan rok majikannya.


"Apakah kau tahu tentang hubungan mereka?" tanya Soraya setelah menghabiskan minumnya. Wajahnya nampak tertekan dan frustasi.


"Nyonya Anda harus tenang dulu. Apakah perlu saya memanggil Tuan Paris dan Nyonya Ana kemari?"


"Kau tidak perlu memanggil orang tuaku. Ini masalah keluargaku, tidak harus memanggil mereka." Soraya menghela nafasnya, titik air mata kembali membasahi pipinya. Mr. Lee mengambilkan tissue dan menyerahkannya pada Soraya.


"Nyonya sebaiknya Anda beristirahat saya akan memanggil Dokter Franda kemari."


"Jangan, aku hanya butuh penjelasan dari Ed? Panggil dia kemari."


"Saya...." Ucapan Mr. Lee terpotong ketika melihat Edward masuk ke dalam ruangan itu. Dia lantas mengajak pelayan lain untuk pergi dari ruangan itu.


"Ed? Aku... aku butuh penjelasan darimu. Kau selalu menyalahkanku jika aku tidak setia nyatanya?" Soraya kembali menyeka cairan dari hidungnya.


"Kenapa kau kecewa marah? Itu yang sama kurasakan ketika tahu kau berselingkuh di belakangku tapi apa aku pernah melakukan seperti yang kau lakukan? Tidak aku selalu bersabar padamu."


"Bersabar? Nyatanya kau melakukan hal yang sama denganku!" teriak Edward. Suara pertengkaran suami istri itu menggema sampai ke setiap sudut rumah.


Deya yang mendengarnya lantas menggendong tubuh besar Zahra yang kembali menangis hebat tanpa suara hanya isak kecil yang terdengar. Dia membawa Zahra keluar rumah.


"Kakak..."

__ADS_1


"Deya, kau mau bawa kemana Non Zahra."


"Tuan tahu kemana harus mencariku. Aku tidak ingin Zahra mendengar pertengkaran mereka setiap saat. Dia butuh ketenangan!" Deya melewati Mr Lee yang terdiam.


"Pak Tarno, bawa aku ke rumah orang tuaku!" teriak Deya pada sopir Edward yang sering membawanya dan Edward berdua.


"Baik, Non," jawab Pak Tarno mengambil mobil lalu membukakan pintu mobil baru Deya.


Pak Tarno lalu menuruti perintah Deya membuat Mr. Lee semakin yakin jika Deya dan Edward memang punya hubungan khusus jika tidak wanita muda itu tidak akan berani memerintah sopir Tuan. Namun, jika sebatas wanita panggilan, Pak Tarno tidak akan menghormati Deya seperti itu.


"Aku pergi dulu, katakan pada Tuan, Zahra bersamaku," ucap Deya sebelum menutup kaca jendela mobil.


"Kakak kita akan kemana?" tanya Zahra.


"Ke rumah Kakak, kalau ayah dan ibu sudah tidak bertengkar nanti Zahra bisa pulang."


Zahra terdiam dalam dekapan Deya.


Mobil sampai di rumah orang tua Deya. Zahra yang lelah menangis tertidur dalam pangkuan Deya. Pak Tarno membantu Deya dengan menggendong membawanya masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," salam Deya pada orang di rumah yang sedang menonton televisi di ruang serba guna. (Sebagai ruang tamu dan ruang keluarga)


"De?" panggil Ayah Seto bangkit dari tempat duduk.


"Bawa ke kamar sini, Pak," ucap Deya.


"Deya itu siapa?" tanya Bu Ratmi. Deya memberi isyarat pada ibunya agar bertanya nanti saja.


"Saya akan pulang saja ke rumah takut jika Tuan Edward mencari."


"Oh, ya sudah."


"Saya pamit dulu, Non," ucap Pak Tarno pergi meninggalkan rumah.


Sepeninggal Pak Tarno, Deya lantas meminta Raihan mengambilkan minum untuknya.


"Kamarnya Kakak pakai sementara waktu, ya," pamit Deya pada Raihan ketika adiknya menyerahkan air minum pada Deya.


"Tidak apa-apa, bukannya itu juga kamar kakak dulu," kata Raihan.


"Sekarangkan sudah dipakai olehmu."


"Deya, ada apa?" tanya Bu Ratmi duduk di depan Deya yang sedang membenarkan posisi tidur Zahra.


"Di rumah Mas, sedang kacau. Mas dan istrinya bertengkar hebat setelah tahu siapa aku. Aku tidak ingin melihat Zahra tertekan dengan pertengkaran kedua orang tuanya jadi aku membawa kemari," tutur Zahra.


"Kenapa tidak rumahmu?"


"Karena aku yakin, Ayah dan Ibu bisa menciptakan suasana yang tenang pada Zahra. "

__ADS_1


Pak Seto dan Bu Ratmi saling memandang.


"Jadi dia anak suamimu?" tanya Ratmi. Deya mengangguk.


"Kau mau bersusah payah membawanya kemari dan menenangkannya padahal dia punya ibu kandung."


"Dia anaknya, Mas. Lagipula aku menyayanginya."


"Ayah bangga padamu," ungkap Pak Seto. Dia merasa senang telah mendidik putrinya menjadi wanita yang baik.


"Setelah ketahuan lalu bagaimana?" tanya Pak Seto tidak bisa membayangkan keadaan yang terjadi di rumah itu. Deya nampak biasa saja tidak tertekan.


"Kita serahkan semua pada Alloh bagaimana nantinya ke depan." Deya juga tidak mengira akan secepat ini ketahuan. Deya mengusap pelan rambut Zahra.


"Kalau begitu Ibu siapkan makanan dulu, untuk anakmu ini dan suamimu," ucap Bu Ratmi.


"Anak," gumam Deya.


"Dia anakmu juga, De, walau bukan kau yang melahirkan."


Deya menatap ke arah Zahra. Kata anak terasa menggelitik dada. Dia masih sangat muda untuk tahu rasanya punya anak sebesar ini. Selama ini Deya hanya menganggap Zahra sebagai anak didik yang harus disayangi, tidak lebih. Namun, kenyataannya adalah Zahra memang anaknya karena dia anak dari suaminya. Dia tahu itu, tetapi Ibunya menyadarkannya agar dia lebih menganggap Zahra sebagai putrinya.


"Anak ini butuh ruang lebih, kita keluar."


Ayah Deya dan Ibunya keluar ruangan di iringi oleh kedua adiknya.


"Rai, belikan Ibu roti di ujung jalan sana ya, buat kakak iparmu kalau datang," teriak ibunya.


Zahra terbangun ketika Deya baru selesai mandi.


"Kau tidur sangat lama," ucap Deya mendekat. Zahra nampak bingung dengan suasana asing dalam kamar sederhana itu.


"Aku ada dimana?"


"Di rumah Kakak," kata Deya mendekat mengusap kepala Zahra.


"Rumah Kakak?" Zahra melihat ke sekeliling lalu tatapannya berada keluar kamar ke arah dua orang anak lelaki yang bercanda dan tertawa.


"Mereka adik-adik kakak, satu namanya Raihan satu namanya Royhan. Panggil saja Rai dan Roy."


"Kakak, Ayah dan Ibu?"


"Eh adik cantik sudah bangun, namanya siapa?" tanya Roy yang masuk ke dalam kamar.


"Adik, dia seumuran denganmu," terang Deya.


"Iyalah? Kelas berapa memangnya, Kak?"


"Kelas 4 Sekolah Dasar."

__ADS_1


"Berarti sama dong kita."


"Kalau aku satu tahun lebih tua," sela Raihan tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Seperti perkiraan Deya, dua adiknya itu pandai membuat suasana menjadi ceria dengan candaannya. Setidaknya Zahra tidak akan terpaku dengan kesedihannya untuk sementara waktu.


__ADS_2