Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 124


__ADS_3

Satu jam kemudian kondisi mulai kondusif Mama Claudia sudah mulai tenang. Edward dan semua yang menunggu akhirnya bisa duduk, walau rasa cemas dan was-was masih saja ada dalam pikiran mereka.


Esok nya, Deya meminta pada perawat untuk membersihkan mertua sendiri. Untung saja mereka memperbolehkan. Dengan telaten dia melakukan itu. Edward sendiri mengajak Papa Adam untuk makan. Awalnya mertua tidak mau makan tetapi akhirnya dengan bujukan dia mau melakukannya.


Setelah membersihkan tubuh mertuanya dan mengganti pakaiannya. Deya teringat perkataan Papa Adam semalam.


"Bagaimana jika Mama meninggalkan Papa. Papa rasa tidak sanggup menghadapinya, empat puluh tahun lebih kami bersama, melewati semuanya. Kebahagiaan dan kesukaran kami lewati bersama bahkan makan pun seringnya kami bersama. Papa tidak sanggup untuk sendiri."


"Pa, Papa harus tenang, Mama akan baik-baik saja. Papa harus kuat agar semangat Mama untuk bangun timbul lagi. Kami juga masih butuh Mama dan Papa," jawab Edward menenangkan Ayahnya yang ketakutan melihat istrinya dalam kondisi anfal.


Begitu besar rasa cinta yang dimiliki oleh Papa Edward pada istrinya sehingga dia merasa takut dan khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Terlihat terpukul. Bahkan sampai pagi pun tidak sekalipun mertua lelakinya beranjak dari tempat duduk hanya melihat ke arah pintu kamar istrinya. Seolah dia ingin selalu berada di dekat istrinya.


Deya sebenarnya iri melihat itu dan berharap Edward akan menuruni sifat ayahnya yang penyayang dan sangat sayang pada istrinya. Walau itu sudah terlihat dari awal mereka bersama. Namun, ketakutan masih tetap ada.


Dulu, Deya merebut pria itu dari istrinya walau keadaan rumah tangga mereka saat itu tidak baik-baik saja. Namun, itu membuat dirinya takut jika hal itu akan terjadi padanya. Edward akan jatuh cinta dengan wanita lain dan meninggalkannya.

__ADS_1


Walaupun dia berusaha menepis pikiran itu dari benaknya, tetapi tetap mengendap di hatinya. Deya bersikap sedikit posesif karena takut kehilangan. Merebut itu mudah tetapi mempertahankan itu sulit.


Deya hendak bangkit untuk melihat apakah suaminya sudah kembali dari luar atau tidak, mendadak terasa ada yang memegang jari kelingking dengan lemah.


Deya menoleh menatap ibu mertuanya yang mulai membuka mata menatap ke arahnya.


"Mama sudah sadar?" pekik Deya tertahan. Dia lantas memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat yang berjaga.


Mama Claudia ingin mengatakan sesuatu namun sulit untuk mengeluarkan suara.


"Nanti saja Ma, jangan dipaksa. Edward dan Papa sedang makan sebentar lagi pasti akan kemari," ucap Deya.


"Mama sudah siuman."


"Oh, syukurlah," pekik Edward. Papa sendiri nampak berlinang air mata menatap istrinya sedang mendapatkan pemeriksaan dari Dokter.

__ADS_1


Setelah Dokter memeriksa Dokter keluar kamar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Papa Adam tidak sabar.


"Kondisinya jauh lebih baik hanya saja...."


"Hanya saja apa, Dok?" tanya Papa Adam.


"Kami belum memastikannya namun istri Anda menunjukkan gejala stroke."


"Stroke?" kata tiga orang itu bersamaan.


"Ya, tapi kita lihat nanti seberapa parah stroke itu menyerang Ibu Claudia. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Ibu Claudia akan di pindahkan ke ruang perawatan. Jika kalian ingin bertemu dengannya silahkan."


Papa langsung masuk ke dalam kamar. Memeluk istrinya. Mereka lalu saling menatap dan berbicara dari hati.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan Papa, Ma. Mama tahu sendiri jika Papa tidak bisa hidup tanpa Mama. Papa sangat mencintai Mama karena Mama nafas hidup Papa."


Mama tidak mengatakan apapun hanya air matanya saja yang mengalir. Deya dan Edward saling memeluk menyaksikan itu semua. Mereka ikut merasa terharu.


__ADS_2