
Deya duduk di depan bersama dengan Soraya. Dia menatap ke jalanan yang padat oleh kendaraan. Suara bising oleh klakson dan mesin kendaraan bukan hal baru baginya. Namun, kali ini terasa membosankan dan membuatnya jengah. Dia ingin pergi dari situasi yang tidak mengenakkan ini.
"Jadi kau tadinya bekerja untuk Edward?" tanya Soraya.
"Aku hanya seorang mahasiswa yang sedang magang di perusahaan Tuan, Nyonya."
"Aku kira kau itu hanya seorang pengasuh. Jika kau sedang magang di perusahaan itu kenapa malah bekerja diletakkan di sini."
"Karena aku butuh seorang pengajar yang bisa menjadi teman. Aku sudah mengenal Kakak sebelum, Kak Deya bekerja di rumah."
"Oh, ya kapan itu?" Soraya nampak terkejut tetapi dia tetap terlihat santai sambil membelokkan mobil ke arah kanan. Tatapannya tetap ke depan.
"Kak Deya pernah menolongku sewaktu aku hampir terjatuh dari lantai enam di mall," jawab Zahra.
Soraya membuka mulutnya. "Kau tidak pernah mengatakan itu pada ibu?"
"Ibu tidak pernah tanya."
Kata-kata Zahra membuat Soraya terdiam.
"Zahra...." Peringat Deya.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Maksudku Ibu tidak tanya jadi aku tidak mengatakannya."
Soraya menanggapinya dengan senyum sedih dan kecewa. Suara helaan nafasnya menyiratkan bahwa suatu beban berat terasa menghimpit dadanya.
"Hanya karena itu?" tanya Soraya lagi setelah meredakan pikiran buruk yang mengisi otaknya. Sedalam apa, Zahra kecewa padanya, hingga dia merasa lebih nyaman bersama dengan wanita yang baru dikenalnya. Pertanyaan itu bergelayut dalam otaknya. Hingga mereka sampai ke sekolah Zahra.
Soraya turun lalu membantu Zahra naik ke kursi rodanya.
"Ya, Tuhan, Soraya, artis film Rahim Sewaan?" (Authornya bayangin novelnya jadi sinetron) pekik seorang ibu yang sedang mengantar anaknya.
"Iya, Bunda," jawab Soraya sopan dan halus.
"Ih, memang seperti yang di televisi cantik dan lembut sekali, " celetuk yang lain. Lalu mulai lah kerumunan itu. Soraya sibuk meladeni pertanyaan dari para penggemarnya.
"Iya, Bu. Ini anak semata wayang saya."
"Oh, kok tidak pernah Ibu beritahu ke publik kalau dia anak Ibu."
"Sudahkan, dulu. Namun, ketika beranjak umurnya, dia sudah enggan untuk di foto," kilah Soraya.
"Kok di sekolahkan di sini, Bun?"
__ADS_1
"Sekolah dimana saja sama saja semua tergantung dengan kemampuan anak masing-masing.
"Benar sih, Bun," jawab semua orang. Memandang hebat sosok Soraya. Cantik, anggun, tidak sombong dan yang pasti terlihat Sayang anak. Sebuah pencitraan yang baik.
"Aku masuk dulu, Mah," ujar Zahra tidak senang lalu melajukan kursi rodanya masuk ke dalam sekolah.
"Maaf, Bu saya antar masuk anak saya dulu ke dalam," ucap Deya meninggalkan Soraya.
"Nanti jika Zahra sudah masuk temui aku di sini ya." Deya mengangguk
Sebagian dari orang-orang itu merasa beruntung bertemu dengan Soraya. Ekspektasi mereka sesuai dengan bayangannya.
Sepuluh menit kemudian Deya keluar dari gerbang sekolah dan melihat mobil Soraya. masih terparkir di pinggir jalan.
Deya mengetuk pintu, lalu kaca mobil turun pelan-pelan. "Duduk di samping ku De, kita bicara di tempat lain, Okey."
Mobil lalu pergi ke taman dekat dengan sekolah.
"Apa Ibu tidak ada jadwal syuting?"
"Aku sedang minta ijin off tiga hari."
__ADS_1
"Edward adalah orang paling realistis yang pernah kutemui. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Dia pasti punya alasan sendiri mengapa mengajakmu datang ke rumah."