
Deya merasa lega karena ayahnya mau melakukan operasi pelepasan pen di kakinya. Kemungkinan ayahnya bisa berdiri dan berjalan dengan normal kini mulai ada. Asalkan dia tetap mengikuti terapi yang disarankan oleh Dokter.
Kali ini, Deya menemani ayah memeriksakan kakinya di ruang dokter ahli tulang. Hal itu perlu dilakukan sebelum mereka pulang ke rumah. Untuk melihat kondisi kaki ayahnya pasca operasi.
"Kondisi kaki ayahmu sudah semakin baik. Hanya saja jangan banyak dipakai untuk berdiri dulu. Setelah satu bulan baru bisa melakukan aktivitas normal itu pun lihat kondisinya. Jika masih sakit jangan dipaksa karena biasanya waktu yang diperlukan itu antara 1-3 bulan lamanya. Bahkan bisa lebih tergantung asupan kalsium yang diserap oleh tubuh serta banyak faktor lainnya, disarankan dalam masa pemulihan melakukan latihan otot sebaiknya dibantu oleh ahli kesehatan, selain itu anda memenuhi kebutuhan gizi tumbuh anda mengonsumsi karbohidrat dan protein serta gizi dan mineral untuk seperti vitamin D kalsium dan fosfor, selain itu hindari aktivitas berlebih atau angkat beban yang berlebihan pada area yang mengalami patah."
"Baik Dokter saya akan memastikan Ayah saya melakukan semua yang dokter sarankan," ucap Deya.
Tiba-tiba handphonenya berdering. Semua menatap ke arah Deya. Deya melihat siapa yang menelfon, ternyata dari Angga, kekasih Deya selama tiga tahun ini. Deya lalu meminta ijin keluar dari ruangan itu untuk menjawab telepon di tempat sepi.
"Hallo, Ngga?"
"Ya, kamu dicari anak-anak tadi waktu rapat."
"Duh, aku masih di rumah sakit menemani Ayah. Ibu sedang tidak bisa menemani Ayah, ada pesanan kue tadi."
"Aku juga bilang seperti itu tadi sama anak-anak. Mereka ngerti kok."
"Aku jadi nggak enak. Tapi mungkin mulai besok aku sudah bisa aktif seperti biasa."
"Baguslah karena kita kebagian urusan dekor untuk seminar besok."
"Siap... Boss!"
"Kok Boss, Ayang darling dong!"
"Ih, genit." Deya menunduk memainkan kukunya.
"Sudah ya... Ayah menungguku di ruang dokter."
"Tunggu, jangan tutup. Aku cuma mau bilang aku cinta kamu."
"Love you too, sudah ya... nanti Ayah nyari lagi."
"Salam buat Ayah ya De? Tanyakan kapan aku boleh meminangmu."
"Belum juga lulus minta nikah. Nanti jika sudah sukses baru ngajak nikah," ujar Deya.
"Ya deh aku sabar."
"Udah dulu ya... bye...," ucap Deya memutuskan panggilan jika tidak Angga pasti akan mengajaknya bicara terus. Deya menghembuskan nafas keras sambil tersenyum lebar, lalu menggelengkan kepala.
"Kak Deya," panggil Zahra.
Deya lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Zahra duduk di kursi roda di belakangnya Edward yang sedang memegang pegangan kursi roda. Pria itu menatapnya aneh dan dingin. Deya menjadi canggung sendiri. Dia lalu melihat ke arah Zahra dan tersenyum.
__ADS_1
"Hai! Aku lupa siapa namamu?" tanya Deya pada Zahra sembari melirik lagi ke arah Edward tatapan mereka bertemu tetapi Deya segera memutuskan. Bersikap biasa saja walau dalam. hati dag dig dug tidak menentu.
"Zahra Kakak," jawab Zahra manis.
"Oh, ya. Maaf kakak lupa."
"Tidak apa-apa."
"Kau mau terapi juga?" Zahra terdiam hanya jarinya yang bertautan bergerak-gerak.
"Hanya melakukan pemeriksaan rutin setiap bulannya," jawab Edward dingin berbeda dengan sewaktu mereka bertemu terakhir kali.
"Kak Deya sendiri sedang apa?"
"Aku eh... ," Deya yang sedang larut memikirkan Edward terkejut.
"Mbak, Ayahnya sudah selesai," ujar perawat memberitahu Deya.
"Oh, ya Sus." balas Deya.
"Permisi ayah saya sedang menunggu di dalam," pamit Deya masuk ke dalam ruang Dokter. Dia memegang dadanya yang hampir copot karena bertemu dengan Edward.
"Sudah Dok? Terima kasih atas bantuannya. Saya pamit pulang Dok."
"Ya, jaga ayahmu dengan baik. Jangan bolehkan dia banyak beraktivitas dulu apalagi memaksakan kondisinya," nasihat sangat Dokter lagi yang terus dia ulang.
"Kau kenapa, De? Sakit apa? " tanya Ayahnya pelan, melihat wajah Deya yang memucat.
"Tidak ada apa-apa, Yah," jawab Deya. Mendorong kursi ayahnya keluar dari ruangan itu.
"Sungguh?" tanya Pak Seto.
"Ih... Ayah kok tidak percaya Deya sih."
"Kak Deya," panggil Zahra yang masih ada di ruang tunggu. Dia melihat ke arah Pak Seto.
"Ayah kenalkan ini Zahra, kami pernah bertemu di mall dan itu Ayahnya Zahra, Tuan Edward."
Mereka bertiga lalu saling menjabat tangan dan berkenalan.
"Adek sedang menjalani terapi?" tanya Pak Seto.
"Tidak, hanya sedang pemeriksaan rutin saja. Zahra masih takut menjalani terapi," terang Edward. Zahra menoleh ke arah Ayahnya menekuk wajah karena tidak suka Ayahnya bercerita tentang ini.
"Lho, seharusnya ikut terapi agar bisa berjalan normal lagi."
__ADS_1
"Dulu sudah tetapi sekarang tidak."
"Kalau Bapak sendiri?"
"Saya baru melakukan operasi lepas pen beberapa hari lalu. Ini mau pulang jadi diperiksa dulu oleh dokternya."
"Oh, begitu." Edward menatap ke arah Deya sebentar.
"Ayah, Raihan pasti sudah menunggu. Aku juga belum menebus obat dari dokter."
Deya tidak ingin berlama-lama bersama Edward karena hatinya merasa nano-nano tidak jelas. Antara rasa malu, berdebar, dan kacau. Deya dan Ayahnya lalu pergi dari sana. Setelah mengantar Ayahnya ke ruangannya untuk bersiap pulang, Deya pergi ke apotik untuk mengambil obat.
Dia meletakkan resep itu di loket. Lalu duduk di kursi tunggu bersama dengan banyak orang. Sembari menunggu obatnya diracik Deya duduk dengan membalas satu persatu pesan dari Angga juga teman-temannya. Terkadang dia senyum sendiri.
Seseorang duduk di sebelah Deya dan bersandar. Dia yang sedang asik tidak memperhatikan.
'Ya, malam minggu besok nonton yuk!' chat Angga.
'Bosan, nonton. Maunya jalan-jalan.' balas Deya
'Kalau jalan-jalan saja nggak asik dong!'
'Lalu maunya? emoticon.'
'Maunya lebih.'
'Ih, belum halal.'
'Lebihnya kita makan romantis sekali-kali di restoran.'
'Memang punya duit?Mahal lho sayang duitnya.'
'InsyaAllah ada. Kamu aja yang nggak pernah mau kuajak pergi alasannya selalu mahal.'
'Satu kali makan bisa buat beli handphone sayang kan?'
'Tidak ada yang mahal untukmu. Jika kamu mau handphone pun akan kubelikan tapi kamu selalu menolak.'
'Nanti jika kamu sudah kerja sendiri baru aku mau terima.'
'Ya, sudah mulai besok aku kerja biar nanti uangnya bisa dipegang ama kamu.'
Deya tersenyum lebar membaca chat dari Angga.
"Serius amat, Ya!" Deya terkejut mendengar suara Edward di telinganya, sampai handphone ditangannya hampir terjatuh. Dia menoleh dan mendapati wajah pria itu tepat di depannya. Hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
__ADS_1
"Tuan Re... Edward, disini," ucap Deya gugup ketika tubuh mereka sudah dalam posisi normal. Deya memegang jantungnya yang hampir keluar. Berada di dekat pria itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya.