Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 112


__ADS_3

Pulang ke hunian mereka, Deya langsung ke dapur. Sedangkan Dafi lebih senang mengikuti Zahra. Terdengar suara kedua anak itu bercanda dan rengekan manja Dafi dari atas.


Deya sendiri menyiapkan telur yang diminta Zahra dan membuat satu telur dadar lagi yang tidak pedas untuk Dafi jika anak itu ingin ikut makan.


Bau harum menyeruak ke seluruh ruangan. Membuat perut kedua anaknya tambah keroncongan. Derap langkah keduanya yang sedang berlari terdengar.


"Jangan lari, nanti jatuh," teriak Deya dari bawah. Namanya anak tidak selalu melakukan apa yang orang tuanya perintahkan.


"Ayo, Dafi, nanti telurnya Kakak habiskan."


"Jangan!"


Kedua anak itu langsung masuk ke ruang makan. Zahra mengambil piring berisi telur goreng.


"Huwa... buat aku mana, Bu," teriak Dafi membuat Zahra semakin senang karena bisa membuat anak itu menangis.


"Zahra, bisa tidak, tidak membuat adikmu menangis." Deya meletakkan piring berisi telur yang tidak pedas di depan Dafi. Anak itu langsung duduk menunggu ibunya memberi nasi ke atas piringnya.


"Rumah tidak ramai kalau Dafi tidak menangis." Bahu Zahra dipukul pelan oleh Deya.


"Kebiasaan kau dan Rai sama saja!"


Deya duduk. Tiba-tiba terdengar suara dari intercom. Deya lantas mengangkatnya.


"Nyonya, saya adalah resepsionis yang bertugas. Kali ini ada tamu yang datang dan ingin bertemu dengan Anda."


"Siapa?" tanya Deya santai. Mungkin itu keluarganya.


"Dia bilang keluarga Nyonya, ehm Nyonya Edward Xavier, Soraya dan pengacarnya."


Deya langsung melihat ke arah anak-anak. Mulai mempertimbangkan akan menerima kunjungan Soraya atau tidak.


"Baiklah, biarkan dia naik sepuluh menit lagi."


"Baik, Nyonya akan saya sampaikan."


Ini adalah apartemen kalangan atas yang tidak memperbolehkan tamu datang kecuali diijinkan oleh pemilik unit.

__ADS_1


Baru juga anak-anak selesai makan, bel pintu unit apartemennya berbunyi. Deya langsung bangkit.


"Zahra naik ke atas bersama Dafi. Ingat jangan turun sebelum Ibu panggil."


"Memang siapa yang datang, Bu?" Deya memegang bahu Zahra. Menatapnya dalam.


"Ibumu. Ibu tidak ingin mencegah kau bertemu dengannya tapi kita lihat apa yang dia inginkan Ibu tidak ingin ada keributan di rumah ini. Aku harap kau mengerti. Kau bisa menemui Ibumu jika Ayah yang mengantarkan atau mengijinkan kau bertemu dengannya."


"Ibu...." Bukan raut wajah senang tapi tegang yang Zahra perlihatkan. Itu membuat Deya semakin yakin untuk melindungi Zahra.


"Pakai air phone di telinga kalian berdua, terutama adikmu, Ibu tidak ingin dia mendengar pertengkaran. Ibu harap itu tidak terjadi, tetapi Ibu mengantisipasi jika itu ada."


Zahra lantas mengajak adiknya ke atas. Dia sempat melihat ke arah pintu utama ketika menaiki tangga. Entah apa yang anak itu pikirkan, Deya tidak tahu. Dia hanya melakukan yang menurut instingnya harus dilakukan.


Setelah terdengar pintu kamar ditutup, Deya baru membuka pintu utama.


"Huft, kau lama sekali." Kalimat itu yang keluar pertama kali ketika Deya membuka pintu.


"Assalamu'alaikum," kata Deya.


"Wa'alaikumsalam," jawab pengacara Soraya.


Dia netranya menyapu ke seluruh sudut ruangan. Menyipitkan mata, sinis, ketika melihat foto kebersamaan Edward dan keluarga kecilnya, juga Zahra yang memakai topi kerucut. Mereka tertawa bahagia. Mungkin itu saat dimana mereka merayakan ulang tahun Edward kemarin. Batin Soraya. Dia mengalihkan pandangannya melihat ke arah Deya


"Aku kemari ingin bertemu dengan Zahra, melihat keadaannya. Kau tahu jika aku sangat merindukan anak itu."


"Aku faham dengan keinginan Mbak Aya tapi aku tidak bisa mengijinkannya sebelum Mas Ed menyetujuinya."


"Kau berani sekali melarangku bertemu dengan anakku!" suara Soraya mulai meninggi. Tangan pengacara memegang lengan Soraya memberi isyarat agar wanita itu tenang agar semua sesuai dengan rencana.


"Maaf, Mbak, aku tidak akan menghalangi Mbak bertemu dengan anak Mbak tapi Mbak harus menghubungi Mas Ed terlebih dahulu mengenai hal ini."


"Aku ibunya, Deya. Kau juga seorang Ibu pasti akan merasa sedih jika lama tidak berjumpa dengan anakmu. Pahami aku, De," kata Soraya dengan nada mengiba, sangat berbeda dengan ucapannya tadi.


"Maaf, Mbak bukannya aku menghalangi pertemuan Mbak dengan Zahra, tetapi aku lebih menghormati amanat yang suami berikan padaku. Termasuk soal Zahra."


"Kau jangan menjadi wanita jahat De, kau sudah mengambil suamiku, aku terima, kini kau juga akan mengambil Zahraku. Jangan seperti itu, De, kita sama-sama wanita, tolong fahami aku." Soraya nampak terisak, hal itu tidak menjadikan Deya gentar akan pendiriannya dan menyerahkan Zahra begitu saja. Pengalamannya bertemu dengan Soraya yang licik dulu membuat dia tetap waspada.

__ADS_1


Deya terdiam.


"Nyonya Deya, aku harap kau mengerti dengan keinginan Nyonya Soraya, dia hanya ingin bertemu dengan anaknya. Jangan kau halangi."


"Maaf, aku tidak bisa!" ucap Deya tegas.


Soraya melihat ke arah pengacara. Pengacara itu memberi kode dengan menganggukkan kepala.


Soraya bangkit lalu memanggil Zahra dan pergi menuju tangga.


"Zahra, Sayang, ini Ibu Nak." Deya dengan cekatan langsung berdiri di depan Soraya mencegahnya naik ke atas.


"Sudah kukatakan minta ijin terlebih dahulu dengan Mas Ed!" Menatap Soraya tajam. Mata mereka saling beradu dengan sengit.


"Minggir kau jangan cegah aku untuk menemui anakku, kau hanya Ibu tiri baginya."


Kata Ibu tiri terasa menusuk hati Deya tetapi dia tetap pada pendiriannya mencegah Soraya naik ke atas.


"Aku memang ibu tiri, tetapi aku berusaha melindunginya."


"Melindungi dari siapa, aku Ibu kandung yang tidak mungkin akan melukainya," teriak Soraya mulai kehilangan kendali.


"Benarkah? Haruskah aku buka di sini, di depan kamera yang kalian sembunyikan?" Deya menatap ke arah kamera yang ada dibalik tas milik sang pengacara. Mengangkat satu alisnya.


"Aku bukan Deya yang dulu, yang bodoh, yang diam saja melihat kau bertingkah di luar batas."


Wajah Soraya merah padam.


"Tetap saja kau salah jika menahanku bertemu dengan putriku. Aku ingin menemuinya dan membawanya pergi." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Soraya.


"Kau benar, kau punya hak untuk mengambil putrimu sedangkan dia tidak ada hubungan apapun dengan putrimu jadi dia tidak punya hak apapun. Kami bisa menuntutmu untuk ini Nyonya Deya."


"Silahkan tuntut aku," kata Deya menantang. "Aku tidak akan membiarkan Zahra pergi dari sini kecuali atas ijin suamiku." Deya semakin maju ke depan mendorong Soraya. p


Soraya mendorong tubuh Deya hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai.


"Ibu," gumam Zahra sambil menutup mulutnya erat. Dia langsung masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu. Dafi masih asik melihat handphone sehingga tidak tahu keributan yang ada dibawah.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Dafi melihat Zahra menangis. Zahra menggeleng memeluk adiknya erat. Dia takut dibawa kembali oleh ibunya.


__ADS_2