Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 64


__ADS_3

Wajah Deya ditekuk terus ketika tahu jika selama ini Edward yang telah membuang obatnya. Dia tidak bisa menyalahkan pria itu tetapi rasa kesal jelas menghampiri.


Deya meletakkan piring berisi bubur oats di depan Edward. Lalu kembali ke dapur untuk mencuci piring bekas masakan.


"Kau tidak makan?"


"Nanti, belum lapar," jawab Deya. Bohong, perutnya sudah berdemo dari tadi. Kegiatan semalam itu membuat tenaganya terkuras habis. Namun, rasa gengsinya lebih besar dari pada rasa lapar yang sedang di deritanya.


Edward yang melihat wanitanya merajuk lalu mendatanginya, membalikkan tubuh Deya. Lalu mengangkat wajahnya dengan satu jari. Deya memalingkan wajah ke samping.


"Ulu... sayangku marah," goda Edward dengan suara manja. "Malah tambah cantik lho. Bikin gemas." Edward mencium wajah Deya membuat wanita itu kelabakan.


"Mas, udah dong," ujarnya. Menjauhkan kepala Edward dari dekatnya. Bukannya berhenti malah Edward memeluk pinggangnya erat.


"Mas, nanti tidak berangkat bekerja."


"Bagaimana bisa bekerja jika gadis kesayanganku masih berwajah manyun seperti ini. Bikin bibirnya tambah ****." Deya mulai kewalahan dengan serangan Edward.


"Udah Mas, geli, ampun... ampun...," ujar Deya.


"Kalau begitu temani aku makan." Edward menghentikan serangannya, namun tangannya tetap meremas bagian belakang favorit dari tubuh Deya.


"Hanya makan saja kan?"


"Apa mau makan yang lain?"

__ADS_1


"Apa semalam belum cukup?"


"Tidak pernah cukup, kau begitu nikmat, membuatku ingin, ingin lagi," ujar Edward menatap Deya lekat. Lalu dia mendaratkan satu kecupan cepat di bibir Deya.


"Seperti ini baru benar. Jangan seperti tadi lagi atau kubuat bibirmu bengkak."


"Ini saja sudah bengkak," ujar Deya.


"Habis kamu nakal dan manja," ujar Edward.


"Ish, bolehkan sama suami sendiri."


"Tentu bokeh, aku suka. Tapi jangan lakukan dengan pria lain apalagi siapa itu mantanmu atau Tuan Recehan yang sering menghubungimu."


"Siapa Tuan Recehan itu? Kenapa banyak sekali chat atau panggilan darinya?" ujar Edward cemburu. Deya menahan tawanya.


"Ada deh," jawab santai Deya.


"Awas kalau kau bermain api dengan pria lainnya."


"Ish mana berani nanti kehilangan suami baik dan tidak pelit seperti dirimu."


"Hanya itu?"


"Tampan juga."

__ADS_1


"Lalu?"


"Pintar membuatku menjerit di ranjang," jujur Deya. Membuat Edward tertawa lepas sesuatu yang jarang dan bahkan hampir tidak pernah dia lakukan.


Edward menepuk kepala Deya lalu membawanya ke tempat duduk. Dia mulai menyuapi Deya. Satu tangan yang lain menyentuh perut Deya


"Mungkin di sini ada bayiku jadi kau harus menjaganya jangan buat dia kelaparan karena aku ayahnya akan memenuhi semua kebutuhannya.


Hati Deya mendesir mendengar hal itu. Edward memang sangat menginginkan seorang putra darinya.


"Mas, jika keluargamu tidak setuju dengan pernikahan kita bagaimana?" tanya Edward.


"Sejauh ini Mama menyukaimu. Aku pikir sedikit bujukan bisa membuat mama setuju dengan hubungan kita. Papa orangnya realistis. Dia pasti akan setuju jika kau hamil calon pewaris keluargaku."


"Mas sebenarnya aku takut dan ragu dengan. ini. Aku takut ketika aku hamil kau akan mencampakkanku. Lalu kembali ke keluargamu."


"Jika seperti itu, aku tidak akan datang kemari."


"Oh ya, bagaimana keadaan Zshra? Apakah Nyonya Soraya masih marah-marah."


"Aku tadi menghubungi Mr. Lee kata mereka Aya dalam keadaan baik-baik saja, dan Zahra terlihat tenang bersama dengan ibunya."


"Syukurlah kalau begitu."


"Mas apa kau akan mengajukan cerai pada istrimu?"

__ADS_1


__ADS_2