Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 134


__ADS_3

Sudah sebulan Deya terbaring lemah di rumah dan belum sadarkan diri. Edward meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Deya ke rumahnya dengan semua alat yang menunjang kehidupannya.


Sebulan lebih juga Edward tidak pernah meninggalkan Deya, selalu berada di sampingnya. Membuat semua yang melihat ikut prihatin dan sedih.


"Nak, Ed, makan dulu, dari tadi pagi Ibu lihat Nak Ed belum makan barang satu suap pun."


"Bagaimana saya bisa makan jika melihat keadaan Deya seperti ini."


"Nak Ed harus kuat demi Deya dan anak-anak. Kalau Nak Ed tidak memperhatikan diri sendiri nanti Deya juga akan sedih."


"Kalau dia tahu, aku sedih maka dia harus bangun lagi," kata Edward memegang tangan Deya dan menciumnya.


Rambut pria itu sedikit panjang dan tidak terurus, tidak seperti Edward yang terlihat rapi dengan rambut pendeknya yang selalu mengkilap. Wajah pria itu juga di penuhi ****** yang sebagian berwarna putih, wajah nampak kusam tidak terawat. Sangat menyedihkan.


Bu Ratmi sudah tidak tahu harus mengatakan apa agar Edward mau makan. Dia sudah melakukan segala cara, tetapi tetap tidak bisa membuat pria itu makan walau hanya sedikit.

__ADS_1


Edward hanya minum kopi atau biskuit kecil yang disajikan selebihnya tidak memasukkan makanan apapun ke mulutnya.


Bu Ratmi pergi meninggalkan Edward. Pria itu naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Deya. Memeluk tubuh kurus istrinya yang tinggal kulit dan tulang.


"Jika kau tiada maka ajak aku turut serta bersamamu, tetapi jika kau masih ingin menjalani hidup ini maka berilah tanda padaku bahwa kau akan bertahan. Jangan diam saja ini menyiksaku. Kau boleh marah atau mengomel padaku, bahkan ngambek, tapi jangan diam seperti ini. Aku merindukanmu," bisik Edward lirih di telinga Deya.


Oleh karena lelah, Edward memejamkan matanya dan tertidur. Di saat itu tangan Deya mulai bergerak pelan. Kelopak matanya mulai bergetar lalu membuka pelan. Dia melihat sekitar, teringat jika ini adalah kamarnya.


Mendengar dengkuran kecil Edward yang ada di sampingnya. Lalu hendak menoleh tetapi sulit untuk digerakkan. Seketika dia merasa tubuhnya seperti sakit semua. Remuk dan kaku.


Deya lantas menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, ada selang infus, ditangannya dan nafasnya seperti ada alat bantu.


Sekuat tenaga Deya ingin memanggil Edward namun suaranya tidak keluar juga. Apa yang terjadi padanya?


Di saat itu terdengar suara pintu di banting dan terkena tembok membuat Edward terkejut dan bangkit.

__ADS_1


"Dafi, kau harus hati-hati."


"Ibu... Ibu bangun," teriak Dafi berlari naik ke tempat tidur. Edward menoleh melihat ke arah Deya. Sejenak Edward tertegun membuka mulutnya lebar. Tidak bisa menggambarkan kegembiraan dihatinya.


Tangan Edward gemetar menyentuh pipi Deya dan tersenyum lebar, air mata keluar begitu saja.


"Kau membuatku takut," kata Edward pada akhirnya mencium pipi Deya dalam. Deya masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Yeay, Ibu bangun... Kakak Ibu bangun," teriak Dafi senang.


Deya ingin mengatakan sesuatu tetapi suaranya masih tercekat. Keluar sedikit.


"Jangan dipaksa, aku tahu kau akan bilang jika mencintaiku," kata Edward membuat Deya tertawa sambil menangis.


Keluarga Edward dan Deya yang langsung masuk ke kamar setelah mendengar suara Dafi ikut terharu. Mereka menangis tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2