
Hari berlangsung dengan cepat. Seminggu dua kali Zahra diantar oleh Soraya pergi menemui Dokter spesialis untuk melakukan terapi. Dia sudah mulai bisa berdiri dan berjalan beberapa langkah membuat keluarga itu bahagia.
Deya tertidur di kamarnya dengan pulas. Hari ini dia merasa lelah karena kesibukan rutinitas hariannya. Dia sering membantu Mak Saroh memasak, hitung-hitung sebagai bakti seorang istri pada suami walau tidak pernah terlihat oleh Edward. Mr. Lee juga tidak pernah memberi tanggapan jelek padanya sesuai dengan perjanjian yang ada.
"Aku paling geli masak ikan segar," ujar Deya menatap ke arah ember berisi ikan gurame ukuran jumbo, beratnya tiga kilogram lebih.
"Kau harus belajar!" ujar MR Lee. Ingin mengerjai Deya.
"Siapa yang mengharuskan?" balas Deya.
"Tuan Edward sangat menyukai ikan bakar madu."
"Bukan berarti aku harus memasaknya kan? Itu bukan pekerjaanku, lagi pula... mengambil ikan hidup dan membunuhnya.... Hi... aku tidak akan tega. Kau saja," Deya menggeser ember berisi ikan itu. Mr Lee yang menyukai kebersihan langsung mundur seketika takut kotoran mengenai pakaiannya.
"Singkirkan itu," tepis pria itu meringis, jijik.
"Aku akan memasaknya tapi kau ajarkan dulu cara memegangnya," ujar Deya menyeringai nakal. Ikan itu menggerakkan ekornya hingga air menyiprati sebagian celananya.
"Akh... ish...." Dia meloncat mundur ke belakang menjauhi ember itu.
"Kau tinggal pukul kepalanya dengan martil lalu mulai bersihkan."
"Cepat kerjakan. Huh, pakaianku."
Deya lalu menyenggol ember itu dengan kakinya sehingga ikan jatuh ke lantai lalu menyiprat ke seluruh lantai di belakang dapur.
"Aduh bagaimana ini?" ujar Deya pura-pura panik. "Pak bantu dong kalau tidak kulitnya akan terkelupas terkena lantai ubin."
"Gimana sih kamu? Kerja kok nggak becus!" umpat Mr Lee.
"Ih, mana pelayan yang lain."
"Cepat Pak!" teriak Deya yang coba memegang ikan yang loncat di lantai. Mr Lee akhirnya maju memegang tubuh ikan itu dengan cara dipeluk erat takut terlepas. Deya menahan tawanya.
"Nah sekarang taruh di ember, Pak." Deya meletakkan ember itu di dekat Mr Lee.
"Ya Alloh, Pak Lee? Kok peluk ikan segala," ujar Mak Saroh keluar dari pintu kamarnya yang bersebelahan dengan dapur.
"Jangan ngomong saja, bantu aku!" seru pria tua itu.
__ADS_1
Mak Saroh menahan tawanya. Dia lalu membantu Mr. Lee mengambil ikan dari tubuhnya dan meletakkan ikan itu di ember.
"Aku jadi harus mandi lagi," gerutu Mr. Lee meninggalkan tempat itu dengan tubuh basah kuyup dan bau anyir ikan. Sepanjang jalan dia mengomel. Deya dan Mak Saroh yang melihat lalu tertawa ketika Mr. Lee sudah menghilang dibalik tembok.
"Pasti kau nakal!" tuduh Mak Saroh.
"Aku tidak nakal, ikan itu yang ingin dipeluk oleh Engkong Lee."
"Mr Lee atau Pak Lee kok engkong," tabok Mak Saroh di lengan Deya. Ia pergi ke dapur, kembali lagi dengan martil di tangannya, memukul keras ikan gurame itu di bagian kepala. Deya meringis.
"Kejam, tak berperasaan!"
"Memang begini caranya."
"Ibu dan Non Zahra belum pulang, De?" tanya Mak Saroh.
"Belum." jawab Deya
"De, katanya kau akan pergi dari rumah ini?" tanya Mak Saroh. Dia membawa ikan itu ke dapur besar, meletakkannya di wastafel dan mulai membersihkan sisik ikan.
"Iya, magangku sudah hampir selesai dan pekerjaanku di rumah ini juga sudah selesai. Non Zahra sudah bisa berjalan dan dia sudah tidak begitu membutuhkan aku."
"Belum," jawab Deya.
"Dia pasti tidak setuju jika kau pergi."
"Tapi aku harus pergi," jawab Deya. Dia memang sudah merasa tidak nyaman berada di rumah ini. Bukan karena perlakuan buruk orang dalam rumah ini tetapi dia merasa iri melihat rumah ini terasa hangat dan bahagia. Walau dia ikut senang dengan kebahagiaan Zahra.
Dia jadi punya cita-cita membentuk rumah tangga sendiri dengan seorang anak yang akan menemani harinya. Dia akan kembali lagi ke apartemennya.
Dia ingin bebas berbuat apa saja di sana. Menikmati harinya tanpa rasa was-was jika ada yang melihat kemesraannya dengan Edward.
Entah mengapa dia tiba-tiba merindukan pria itu. Tuan Recehan nya semalam tidak datang ke kamarnya. Deya melihatnya masih di ruang kerja hingga tengah malam.
Deya melihat jam di tangannya. Masih jam tiga sore.
"Bu, aku mau pamit pergi dulu. Mau menemui teman di luar," ujar Deya.
"Mak ditinggal sendiri nih?"
__ADS_1
Deya hanya tersenyum, lebar memperlihatkan giginya yang gingsul.
Dia pergi ke kamar, membersihkan diri lalu memakai celana panjang dan kaos putih. Menenteng tas punggung.
Beberapa jam kemudian Deya sudah berada di apartemennya. Rumah yang sudah tiga bulan ini dia tinggalkan karena terus berada di rumah Edward.
Deya menghirup aroma apartemennya. Aroma buah-buahan yang sangat dia sukai. Beberapa hari sekali kata Edward apartemennya ada yang membersihkan dan merapikan jadi terlihat bersih dan rapi. Deya lalu melepaskan sepatu, dan meletakkan tasnya ke atas sofa pergi ke dapur meletakkan belanjaannya di atas meja. Mulai mengambil celemek dan memasak makanan yang dia rindukan.
Sayur asam, ikan asin goreng, tempe dan tahu goreng serta sayur pare dengan tambahan udang.
Semua makanan itu dia letakkan diatas meja. Menatanya seolah Edward akan datang, padahal dia tidak yakin pria itu akan datang atau tidak karena dia tidak memberitahu jika ada di apartemen.
Jam sudah menunjukkan setengah enam sore ketika Deya menengok ke dinding. Langit juga sudah terlihat berwarna oranye. Sebentar lagi pasti akan adzan maghrib.
Deya pergi mengambil tasnya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia mulai membuka pintu, mendekat ke arah tempat tidur dan menyentuhnya pelan. Tersenyum sendiri.
Pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setengah jam kemudian dia sudah memakai mukena, bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib. Di saat itu, kamarnya mulai terbuka. Sosok yang dia rindukan masuk ke dalam kamarnya dan tersenyum.
"Anak nakal. Aku mencarimu sedari tadi di rumah malah pergi melarikan diri ke sini."
"Aku rindu dengan rumahku sendiri apa itu salah?"
"Di sana juga rumahmu?" ujar Edward meletakkan kunci mobil di atas meja rias.
"Tunggu aku, kita sholat berjamaah," ujar Edward ketika mendengar suara adzan. Deya mengangguk dan akhirnya mereka sholat bersama.
Setelahnya, Deya mengambil tangan Edward dan menciumnya. Edward mencium dahi Deya.
"Aku rindu ini jadi ingin pulang," kata Deya meletakkan kepalanya di paha suami. Edward mengusap sayang kepala Deya, menunduk mengecup pipinya.
"Aku juga rindu kebersamaan kita di rumah ini."
"Gombal," ucap Deya. "Jika iya kenapa tidak pernah kau katakan."
"Tidak semuanya harus dibicarakan dengan kata-kata. Kedatanganku setiap malam ke kamarmu bukankah itu sebuah pernyataan.
"Kenapa kau tidak ke kamar istri sahmu saja?" tanya Deya.
"Entahlah, aku merasa muak bersamanya. Aku ingin berpisah dengannya dan menikahimu secara sah." Deya membuka mulutnya, menatap tidak percaya dengan perkataan suaminya.
__ADS_1