
Udara pagi hari berhembus dingin membuat Deya menenggelamkan diri lebih dalam dada Edward. Semalam pria itu tidak bisa tidur hanya diam menatap kosong ke depan. Sepertinya apa yang Soraya lakukan sangat mengguncang hati dan jiwanya, tetapi dia mencoba untuk bersikap tegar.
Andai Soraya tidak melakukan itu, pasti dia adalah makhluk paling beruntung karena mempunyai suami yang mencintainya dengan tulus serta anak yang manis seperti Zahra. Namun, tidak ada hidup yang sempurna semua penuh lika-liku.
"De, bangun sudah adzan subuh," panggil Edward yang sudah memakai baju koko.
"Mas sudah sholat?"
"Sudah, tadi mas membangunkanmu, tapi kau malam memejamkan mata lagi."
"Iyakah?" Dengan malas Deya bangkit tapi tangannya di tarik Edward memeluk dan menciumnya.
"Terimakasih. Aku tidak tahu bisa bangkit atau tidak jika kau tidak bersamaku."
"Pasti, bisa karena Mas adalah pria yang kuat dan ada Tuhan yang akan selalu ada di hati orang-orang yang ingat padanya." Deya lantas pergi ke kamar mandi.
Edward sendiri memilih berbaring sambil melihat handphonenya. Menatap foto Deya yang dia curi tadi malam sewaktu wanita itu tertidur.
Jika semua masalah ini tidak terjadi maka dia mungkin tidak akan mengenal Deya. Dia merasa Tuhan berbaik hati karena membawa Deya tepat ketika dia sudah merasa lelah dan lemah. Wanita itu seperti pelita yang menerangi harinya kini. Senyumnya mencerahkan dunia dan gelak tawanya adalah irama jiwanya membuat api semangat dalam diri bangkit kembali.
Deya mulai melakukan salam setelah sholat. Melipat mukena dan meletakkan di laci.
"Ada apa?" tanya Deya karena Edward tidak melepaskan pandangannya darinya. Edward lantas memejamkan mata. Deya sendiri turun ke bawah menyiapkan makan pagi untuk mereka.
Satu jam kemudian dia telah menyelesaikan semua pekerjaan dapur. Melihat jam di dinding. Kenapa suaminya belum juga turun? Deya kembali ke kamar atas. Membuka pintu kamar dan menemukan suaminya sedang tidur pulas di tempat tidur. Suaminya memang tidak tidur semalam karena ketika dia memejamkan mata suaminya masih menatap layar televisi dan ketika terbangun suaminya sudah rapi dengan pakaian sholatnya.
Deya menyingkirkan rambut yang menutupi kening lalu mengecupnya pelan sembari menghirup aroma suaminya yang khas dan selalu membuatnya tenang.
Setelah itu, dia mengambil tugas kuliah yang terbengkalai, mulai membuat skripsi.
Edward terbangun karena silau oleh pancaran sinar matahari yang menerangi kamar mereka. Terasa hangat. Dia mengusap mata lalu melihat ke sekitar.
"Jam berapa ini?" Edward bangkit bersandar di sandaran ranjang.
"Sepuluh kurang," jawab Deya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bangunkan aku?" Deya memutar tubuhnya menatap suaminya.
"Kau terlihat pulas, aku tidak tega." Deya menutup laptop dan merapikan kertas di atas meja sofa.
"Aku akan buatkan kopi baru. Kopimu tadi, sudah dingin."
"Kau akan kerja atau tidak?" tanya Deya.
"Sebenarnya malas hanya saja ada rapat penting dengan jajaran petinggi perusahaan serta dengan para pemilik saham."
"Iya tadi Katrine sudah memberitahuku." Edward menaikkan satu alis menatapnya. "Aku menelfon nya memberitahu jika kemungkinan besar kau akan terlambat bekerja."
"Seharusnya kau membangunkanku," gerutu Edward bangkit ke kamar mandi.
"Seharusnya kau tidur dulu baru bekerja."
"Rupanya kau sudah jadi bosnya sekarang."
"Aku bos di rumah ini dan kau harus menurut padaku. Ini demi kebaikan dan kesehatanmu."
"Baiklah, wanita selalu menang dan lelaki harus mengalah."
"Aku belum mendapatkan jatahku semalam Deya, sekarang berikan." Kejar Edward.
"Sudah siang kau harus ke kantor." Tubuh Deya ditangkap dengan mudah oleh Edward. Mata mereka terkunci satu dengan lainnya.
"Tidak sebelum kau...." Bibir Edward terlebih dahulu bersilaturahmi ke bibir Deya meminta sambutan lebih dan bukan hanya sekedar itu.
***
Edward terkejut ketika melihat banyak wartawan ada di depan kantornya. Satria dan beberapa sekuriti mendekat ke arah pintu, menghalangi para wartawan untuk mendekat ke arah Edward.
"Ada apa ini?" tanya Edward.
"Apakah Anda tidak membuka pesan dari saya Tuan?" Edward menggeleng. Dia keluar dari mobil, melewati para wartawan yang mulai bertanya padanya.
__ADS_1
"Tuan benarkah rumor yang beredar jika Anda akan menceraikan istri Anda, Soraya?" tanya seorang wartawan. Edward menatap bingung pada Satria.
"Minggir-minggir beri jalan," perintah Satria agar para wartawan memberi jalan majikannya.
"Apakah ini karena ada pihak ketiga?"
"Siapa wanita berbaju hitam yang bersama Anda di sebuah restoran? Apakah itu pihak ketiga yang dimaksud?"
Beragam pertanyaan dilancarkan membuat Edward menarik nafas panjang. Apakah ini sebuah kebetulan ataukah Soraya yang telah merencanakannya? Pikiran buruk itu berkelebat dalam diri Edward.
Dia langsung masuk ke dalam lift meninggalkan para wartawan yang terus mencecarnya dengan semua pertanyaan perihal perceraiannya dengan Soraya.
"Video, gambar apa yang mereka maksud?" tanya Edward. Satria langsung memperlihatkan video dalam handphonenya dimana Edward tengah berjalan bersama dengan seorang wanita dan memeluk pinggangnya.
"Br***sek, siapa yang menyebarkan berita ini?" umpat Edward.
"Tidak tahu, Tuan. Kami sedang mencari tahu. Berita ini ada tadi malam. Coba cek pesan dari saya, Tuan."
"Sudahlah, kau urus berita ini agar tidak menyebar kemana-mana."
Pintu lift mulai terbuka. Di depannya sudah ada Katrine yang menunggu dengan wajah tegang.
"Tuan Adam dan Nyonya Claudia sudah ada di ruangan Anda sekarang, Tuan."
Edward menghembuskan nafas kasar. Dia lantas berjalan masuk ke ruangannya. Dia sempat melihat para petinggi perusahaan yang sedang menatap ke arahnya serta Mario yang melihatnya dengan senyum jahat.
'Tunggu pembalasanku nanti," gumam Edward lirih menatap tajam sahabat yang kini menjadi musuh nyata baginya.
Edward lantas pergi ke ruang kerjanya. Di sana nampak Ayahnya sedang duduk di sofa sedangkan ibunya berdiri di depan Pak Adam menatap ke arah Edward. Wajah mereka nampak marah dan kecewa.
"Ck... wanita itu bahkan membuat etos kerjamu berubah, kau jadi pria pemalas sekarang!" ungkap Adam. Edward memeluk sang Mama dan mencium pipi. Lalu bergantian pada Papanya.
"Maaf Papa." Edward tidak akan menyembunyikan apapun dari orang tuanya biarlah semua masalah menjadi terang.
"Oh, jadi benar berita di luar jika kau sudah punya simpanan hingga mengajukan surat cerai pada menantuku?" tanya Claudia bersedekap.
__ADS_1
Edward duduk di sofa melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Kedua orang yang paling dihormati menatap ke arahnya, menunggu jawaban dari Edward.
"Ternyata benar, Pa? Insting mama memang benar, terasa janggal membawa seorang karyawati magang untuk bekerja di rumah. Sangat tidak beralasan. Namun, aku mencoba percaya pada putraku sendiri. Kali ini kau mengecewakan aku, Nak."