
Untuk pertama kalinya semenjak sidang digelar pertama kali, Deya datang menghadiri sidang untuk menemani Zahra memberikan kesaksiannya. Dia juga akan diminta kesaksiannya jika dibutuhkan.
Deya menatap Edward sebelum turun dari mobil. Di luar beberapa wartawan sudah menunggu kedatangan Edward dan keluarganya.
"Zahra, kau baik-baik saja kan?" tanya Edward melihat ke belakang.
Zahra mengangguk tapi genggaman erat tangan Zahra di tangan kanannya semakin erat. Deya menatap dengan lembut pada anak itu.
"Aku akan turun terlebih dahulu baru kalian."
Deya mengangguk. Dia memasang maskernya sampai ke hidung serta tak lupa memasang kacamata hitam.
Edward mulai turun terlebih dahulu, dia membantu Deya dan Zahra keluar dari mobil. Para wartawan mulai mengambil gambar mereka bertiga. Deya langsung memeluk Zahra. Satu tangannya menghalangi sinar kamera lampu mengenai Zahra. Satu tangan Zahra memeluk pinggang belakang Deya dan satu tangan lainnya diletakkan di leher ibu sambungnya. Seperti mencari perlindungan.
Edward merentangkan tangan memeluk keduanya dari belakang tubuh Zahra dan Deya. Seperti sedang menjadi perisai keduanya.
Kejadian itu sebenarnya sudah membuat orang menebak jika Zahra dekat dengan Deya. Deya tidak seperti yang digambarkan di dunia maya yang menjadi pelakor jahat karena mengambil suami orang dan menguasai semuanya.
Pakaian Deya pun terlihat biasa saja namun terlihat anggun dan berwibawa. Tidak ada barang mencolok terlihat menempel di tubuhnya kecuali cincin berlian mewah yang tersemat di jari manis wanita itu. Cincin pernikahannya dari Edward yang baru dia peroleh setelah mereka bertemu kembali untuk kedua kalinya.
Beberapa pertanyaan mulai diteriakkan oleh para wartawan. Deya sama sekali tidak tertarik untuk menjawabnya. Satu pertanyaan terakhir membuat dia menoleh ke arah seorang reporter wanita.
"Apakah Anda bahagia karena telah memiliki semua yang wanita inginkan?"
Edward meminta Deya tidak menjawab karena itu hanya pertanyaan pancingan tetapi Deya melepaskan pelukannya pada Zahra dan maju ke depan orang yang bertanya. Menurunkan masker.
__ADS_1
"Kebahagiaan itu bukan karena melulu soal harta, kebahagiaan itu letaknya ada di hati. Mengapa orang mencoba bunuh diri padahal dia punya segalanya? Karena dia tidak mensyukuri yang ada. Lalu meremehkan kehadirannya. Ketika kebahagiaan itu pergi dan hilang lalu dipungut orang lain, dia baru berteriak jika itu punyanya. Sayangnya, apa yang sudah dibuang dan diambil orang lain maka itu bukan lagi haknya. Jadi syukuri nikmat apapun yang kau punya agar tidak hilang didepan matamu sendiri."
Mendadak gerombolan emak-emak datang, membawa poster dan berteriak keras.
"Lenyapkan pelakor dari negeri ini! Mereka hanya sampah yang tidak layak dipelihara," seru mereka. Deya menoleh. Pengawal Edward langsung meningkatkan kewaspadaan. Deya langsung dibawa masuk ke dalam bersama dengan Zahra. Namun, sebuah lemparan batu mengenai kepala Deya. Wanita itu mengaduh kesakitan. Darah mengalir dari dahinya.
"Deya!" teriak Edward terkejut. Memeluk wanita itu. Lalu melihat keadaannya. Air mukanya nampak sangat khawatir, melihat belahan hatinya terluka. Edward langsung menyuruh pengawalnya membuat pengamanan lebih dan membawa Deya ke ruang tunggu.
Bukannya bersimpati para wartawan itu malah berebut mengabadikan momen itu. Edward semakin bertambah berang, tetapi Deya mengusap tangan Edward agar bersabar.
Di depan pintu Mama Claudia dan Papa Adam ikut dalam acara persidangan. Mereka penasaran dengan hasil sidang kali ini. Sebenarnya, Edward sudah melarang ibunya ikut persidangan takut jika emosi ibunya bangkit dan membuat tekanan darahnya meningkat drastis. Namun,mertua Deya bersikeras untuk ikut.
Mama dan Papa Edward nampak cemas melihat darah mengalir dari dahi Deya hingga menetes ke kerah kemeja putih yang dia kenakan.
"Biadap sekali mereka," geram Edward, membersihkan luka Deya. Dia memerintahkan Satria untuk mencari pelaku pelemparan batu..
Sidang akan dimulai. Semua orang lantas masuk ke dalam. Edward duduk di depan bersama dengan pengacaranya sedangkan Deya duduk bersama dengan Zahra dan kedua mertua yang sangat memperhatikannya.
Soraya masuk hendak memberi salam pada kedua mertuanya, tetapi Mama Claudia malah memalingkan muka walau tangannya tetap terulur. Papa Adam tersenyum tidak semangat.
Soraya lantas memeluk Zahra. "Zahra, Ibu sangat merindukanmu."
Zahra juga rindu Ibu," jawab Zahra diplomatis tidak ingin menyakiti ibunya.
Sidang dimulai. Soraya dengan berat hati berjalan ke arah kursinya. Zahra kembali duduk bersama dengan Deya.
__ADS_1
Sidang berlangsung alot. Berkali-kali Mama Claudia nampak menyeletuk marah dengan tuduhan yang dilayangkan Soraya pada Edward.
Kini giliran Zahra yang maju ke depan. Dia menatap ke arah Ayah dan Ibunya bergantian. Lantas ke arah Deya.
"Katakan apa yang ingin kau katakan jangan takut pada apapun karena aku akan selalu mendukungmu. Jika kau ingin tinggal bersama Ibumu tinggal katakan saja jika kau merasa nyaman bersama dengan Ayah maka Ibu sambung ini akan menyayangimu seperti anaknya sendiri. Atau jika kau ingin hal lain tinggal ungkapkan. Tidak akan ada yang menekan mu."
"Aku takut," bisik Zahra.
"Jika takut pejamkan matamu dan tutup telinga bayangkan kau sedang berbicara dengan cermin. Cukup jujur dengan hatimu."
Zahra mengangguk, bangkit ketika panggilan kedua tertuju padanya. Berjalan ke depan dengan kepala tertunduk dan bahu turun. Ada banyak yang dia pikirkan. Takut akan melukai hati ibunya dan membuat kecewa ayahnya. Dia tidak tahu mana yang benar.
Zahra mulai duduk di sebuah kursi depan hakim. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari dahinya. Warna matanya yang biasa bening kini memerah dan berkaca-kaca.
Hakim mulai bertanya pelan dengan Zahra, serta kedua pengacara dari pihak Edward dan Soraya.
"Bukankah hak asuh anak itu seharusnya jatuh kepada ibunya jika dia masih belum dewasa, Yang Mulia," ujar pengacara Soraya.
"Interupsi yang mulia. Hak asuh akan jatuh ke Ibu jika Ibunya normal dan menjaga anaknya dengan baik. Kenyataannya sang Ibu berselingkuh dengan pria lain selain itu Nyonya Soraya mempunyai penyakit kejiwaan menurut Psikiater yang telah menjadi dokternya dalam beberapa tahun ini, menurut dokter ahli spesialis kejiwaan Dokter Franda dia mendiagnosis Soraya mengidap gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) dan gangguan kepribadian histrionik."
"Orang dengan gangguan kepribadian ini mungkin memiliki kemarahan yang meledak pada waktu-waktu tertentu. Mereka cenderung pasif-agresif. Mereka mungkin memanjakan diri sendiri, sangat egois sehingga dia lebih mementingkan dirinya sendiri tinimbang orang lain termasuk suami dan anaknya sendiri. Mereka akan memastikan apa yang mereka inginkan akan tercapai."
"Benarkah seperti itu, mengapa itu tidak masuk dalam fakta atau bukti yang diberikan dari pihak Anda?" tanya Pak Hakim pada pengacara Edward.
"Sebenarnya klien saya tidak ingin membuka semua fakta yang ada agar Nyonya Soraya tidak merasa dipermalukan di sini. Namun, pancingan demi pancingan di media sosial oleh pihak yang tidak bertanggungjawab membuat Pak Edward membuka hal-hal yang menjadi penyebab dirinya tidak ingin lagi bersama dengan Nyonya Soraya. Hal keterlaluan yang menguji kesabarannya selama ini."
__ADS_1
Semua orang saling memandang. Termasuk orang tua Edward yang tidak tahu dengan kelainan jiwa yang diderita oleh menantunya.