
Setelah selesai makan, Edward lantas bersiap untuk pulang tetapi Deya kembali memeluk, mencegahnya pulang.
"Tinggallah di sini walau satu jam saja. Rumah ini terasa sunyi dan sepi tanpamu."
"Kau punya hak untuk melakukan apapun di rumah ini bahkan membawa kekasihmu!" sarkas Edward.
Deya sudah mengira Edward akan bersikap seperti ini padanya. Namun, tuduhan itu masih saja terasa menyakitkan untuk didengar.
"Aku tahu, aku salah, dan sudah puluhan kali aku meminta maaf dan aku pun sudah jelaskan jika aku hanya ingin menutupi hubungan kita karena...," perkataan Deya terpotong oleh ucapan Edward.
"Karena apa? Karena kau malu berhubungan dengan pria tua sepertiku atau kau tidak ingin hubunganmu dengan dia putus karena status kita? Katakan Deya?" Deya melepaskan pelukannya.
"Menjadi simpanan itu memang tidak mudah. Jika ada yang tahu maka nasibmu akan habis seketika. Padahal kau juga bukan milikku sepenuhnya. Andai keluargamu tahu pun kau bisa membuangku dengan mudah. Aku tidak berhak menuntut untuk diakui apalagi untuk dicintai hanya saja aku minta kau menghargai aku."
"Kau meminta aku menghargaimu sedangkan kau?"
"Jika kau jadi aku, apa yang akan kau katakan padanya. Atau setidaknya jika istrimu memergoki kita bersama apa yang akan kau katakan padanya?" balik Deya.
__ADS_1
"Aku akan mengatakan jika kau istri keduaku!" jawab Edward lantang.
Deya terkejut dengan jawaban Edward. "Walau itu akan membuat masalah besar?"
"Itu jika kau sendiri tidak keberatan untuk mengakuiku sebagai seorang suami."
"Aku...."
"Aku tahu kau tidak siap dengan semua ini. Aku pun tidak memaksa Deya. Jika kau mau kita melangkah maju bersama karena aku tidak akan main-main denganmu."
Kini malah Deya yang ragu. Dalam hatinya masih takut dengan hujatan orang mengenai statusnya sebagai istri kedua mereka pasti akan menganggapnya wanita murahan yang telah merayu seorang pria demi segepok uang. Itu memang nyata, tetapi dia memang belum mempersiapkan mental untuk itu.
"Bisakah kita menundanya hingga aku lulus kuliah. Istrimu adalah publik figur jika dia tahu masalah ini dan membawanya keluar ini akan membuat problem besar dalam hidupku. Aku akan hancur. Citra diri, sesuatu yang kupunya akan hancur bagai debu di tiup angin, tidak bersisa. Aku bahkan bisa dikeluarkan dari sekolah jika itu sampai membuat nama tempat kuliahku tercoreng. Ini tidak mudah."
"Kalau kau keberatan untuk itu kita akhiri saja hubungan ini?"
"Bukan masalah keberatannya. Pertanyaannya apakah kau akan selalu ada di sisiku di saat semua itu terjadi?" Edward terdiam.
__ADS_1
"Bagaimana jika semua keluargamu meminta mu memilih antara aku dan mereka, apakah kau akan tetap memilih bersamaku?"
Edward terdiam.
"Itulah mengapa aku ingin kita merahasiakan ini semua. Aku tidak ingin semua orang tahu kebenarannya sebelum aku dan kau tahu apa isi hati kita berdua. Apakah kita saling mencintai hingga sanggup menembus semua masalah yang ada dengan bergandeng tangan? Ataukah seperti yang pernah kubilang jika aku hanya sekedar pemuas nafsumu saja yang bisa kau buang kapan pun kau mau."
"Deya!" seru Edward.
"Itu kenyataannya kan, kau tidak memasukkan aku dalam hatimu sehingga aku layak kau perjuangkan."
"Katakan, Mas! Apakah kau bisa mencintaiku sepenuh hati?"
"Kau diamkan? Itu artinya kau memang tidak serius membina hubungan kita ke arah yang lebih baik. Jika begitu, maka kita jalani saja seperti niat awal kita bersama. Kau butuh aku untuk menemanimu dan aku butuh kau sebagai sumber uangku. Anggap saja aku wanita murahan yang akan melayani mu hingga kau puas lalu membayar ku dan kau bisa pergi dengan nyaman tanpa harus terikat denganku."
"Pernikahan ini hanya formularitas agama saja agar apa yang kita lakukan halal dimata agama." Deya mengatakannya dengan suara lantang tetapi hatinya merasa perih sendiri.
Edward terdiam membuat Deya kecewa. Dia ingin agar pria itu memeluknya dan mengatakan jika mencintainya. Namun, yang ada Edward malah pergi dari condonium mewah itu tanpa mengatakan apapun yang bisa melegakan hatinya.
__ADS_1
Seketika Deya merasa pilihannya salah sekarang. Dia membuang Angga yang mencintainya dan memilih bersama pria yang tidak bisa mencintainya. Kaki Deya lemas, tubuhnya luruh ke lantai dan menangis. Setelah pintu rumah kembali tertutup, seiring dengan kepergian Edward.