Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 120 Liburan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Edward benar-benar menekuk wajahnya. Sesekali terlihat dia menghela nafasnya keras. Seperti menahan emosi di dada. Deya menahan tawanya. Dia menjaga jarak dengan Angga demi menjaga perasaan suami.


"Senang bertemu mantan?"


"Hmm."


"Kok hmmm," kata Edward sewot.


"Lalu harus jawab apa? Jawab tidak dikira bohong jawab tambah marah. Susah kalau ngomong sama orang yang sedang jealous."


"Aku cemburu dengan pria itu, nggak level," ucap Edward melihat ke arah lainnya. Deya menahan tawanya.


Deya melihat notifikasi chat masuk dari handphonenya. Rupanya dari si sulung.


Sulung : 'Kenapa Ayah, Bun?'


Zahra memanggil Deya dengan Bunda mulai hari ini atas perintah Edward untuk membedakan panggilan ibu kandungnya dan Deya.


Bunda : 'Ada Om Angga.'


Sulung : 'Cemburu?'


Bunda : 'Tahu sendiri bagaimana Ayahmu.'


Sulung :'Aku aja yang dekati Om Angga biar Ayah tidak cemburu.'


Bunda : 'Hush kamu masih kecil. Nggak boleh ngomong begitu.'


Sulung : 'Ih, Bunda. Kan cuma ngobrol biar Ayah nggak melirik ke Om Angga lagi karena Om Angga lihat ke arah Bunda melulu. Emang dikira mau ngapain? Aku kan masih bayi.'


Bunda : 'Terserah kamu saja.'


Zahra lalu pindah di kursi kosong dekat Angga, mengajaknya bicara. Edward melihat dengan tatapan tidak suka.


"Itu Zahra ngapain?"


"Ngobrol."


Tatapan Edward menjadi sipit dan tajam memperhatikan kedua orang itu berbicara. Deya yang ada di sampingnya dan duduk bersama dengan Dafi menyerahkan Dafi pada Edward.


"Kamu sama Ayah ya." Dafi menganggukkan kepala.


"Sayang kamu gantian pegang Dafi dong, tanganku capai," kata Deya agar suaminya tidak sibuk memperhatikan Angga.


Edward lalu pasrah, mengajak anaknya bermain permainan di tablet. Untung jarak waktu yang diperlukan untuk sampai di Bandara Ngurah Rai tidak lama. Hanya dua jam kurang sedikit. Jadi drama cemburu Edward tidak terlalu lama.


"De," panggil Angga. Deya mendekat diikuti Edward.


"Selamat ya, kau sudah kembali lagi bersama dengan suamimu."


"Terimakasih, aku juga berharap kau bisa menemukan jodoh secepat mungkin."


"Amin. Aku ikut bahagia jika kau bahagia." Deya mengangguk.


"Tolong jaga Deya dengan baik jika tidak aku akan ambil dia kembali."

__ADS_1


"Aku akan bahagiakan dia, jadi kau jangan harapkan Deya kembali padamu. Dia sudah jadi hakku dari dia belum lahir," ungkap posesif Edward membuat Zahra menahan tawa karena baru tahu betapa galaknya sang Ayah jika sedang cemburu. Padahal Angga tidak melakukan apapun.


Deya sendiri mencubit pinggang suaminya. "Mas ini apaan sih."


"Angga aku pergi dulu ya."


"Jaga dirimu baik-baik," balas Angga.


Deya menarik tangan Edward. Sedangkan Zahra melambaikan tangan pada Angga. "Dah, Om Angga, sampai ketemu lagi. Ingat jika aku mampir toko, Om, gratiskan baju untukku."


"Beres, datang saja ke toko kapan pun kau mau, jika Om ada kau boleh ambil baju yang kau suka."


"Beres," ujar Zahra mengacungkan jempolnya.


Deya dan Edward menginap di salah satu hotel dekat dengan pantai Nusa Penida, Bali. Edward menyesal mengapa tidak membawa salah satu pelayan ibunya untuk menemani mereka di sana. Bayangan malam Honeymoon bersama dengan Deya lenyap karena si kecil tidur bersama dengan mereka. Apakah dia akan menyuruh Dafi tidur bersama dengan Zahra saja ya? Pikir akal bulus Edward.


"Kenapa diam saja sedari tadi Mas?" tanya Deya ketika mereka akan berjalan ke sebuah restoran di pinggir pantai.



Restauran itu ber pemandangan indah dengan latar belakang langit malam di pinggir pantai. Sangat romantis sebenarnya.


"Aku hanya membayangkan membawamu makan malam hanya berdua denganmu, lalu berdansa di atas pasir pantai dibawah sinar bulan lalu melakukan malam panas denganmu. Namun...."


Deya tertawa. "Ini lebih asik karena kita bisa menikmati kebahagiaan bersama dengan anak-anak." Deya melihat Zahra dan Dafi yang sedang asik berfoto di sisi yang lain dari restoran.


"Ya kau benar. Hanya saja kita belum pernah melakukan honeymoon selama kita menikah."


"Karena itu?"


"Hmm."


"Ck, nanti malam kita harus tidur bersama Dafi."


Deya tertawa lagi. Jadi karena itu suaminya menekuk wajah.


"Ya sudah nanti aku akan suruh Zahra tidur bersama Dafi meminta kasur tambahan."


"Apakah itu tidak apa-apa?"


"Asal Zahra nya mau."


"Syukurlah kalau begitu. Akhirnya dapat susu juga," gumam Edward.


"Apa?"


"Tidak apa-apa, Sayang." Edward tersenyum lebar sekarang. Mereka lalu memanggil anak-anak untuk mendekat.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Edward pada dia anaknya.


"Udang yang besar aku suka itu," kata Dafi.


"Namanya Lobster, Dek," terang Zahra.


Dafi menirukan ucapan Zahra dengan lidahnya yang masih cadel. Semua tertawa.

__ADS_1


"Kau pesan apa, Sayang?" Deya melihat buku menu lantas menunjuk pada menu kepiting jumbo.


"Kau yakin mau ini?"


"Hmm, aku sudah belajar bagaimana membuka cangkangnya. Nanti kau lihat ya," kata Deya mengingat makan malamnya dengan Soraya dulu yang disertai insiden kecil karena Deya tidak tahu bagaimana cara memakan kepiting untung Edward membantunya jadi tidak memalukan.


"Zahra?"


"Aku suka semua jenis seafood apapun itu aku akan memakannya."


Edward lantas memesan banyak makanan untuk mereka. Dafi meminta duduk di pangkuan Edward dan minta disuapi oleh Ayahnya.


Deya sendiri membantu Zahra makan. Tidak seperti keluarga broken home. Tidak ada sekat antara ibu sambung dan anak tirinya. Keduanya seperti sahabat lebih tepatnya.


"Coba minuman ini, Bun lezat," kata Zahra menyerahkan lemon jus yang cocok dengan makanan seafood.


Deya menutup mulutnya. "Gigi Bunda sensitif sekarang kalau minum dingin langsung ngilu. Ibu minum teh hangat ini saja," ujar Deya.


"Gigi Bunda Bolong karena banyak makan permen," ucap Dafi polos, membuat semua tertawa.


"Gigi Bunda berlubang karena malas sikat gigi kalau malam."


"Benarkah begitu, Bun?" tanya Zahra.


Deya menghela nafas. "Gigi Bunda mulai keropos ketika hamil Dafi, kata Dokter katanya itu bawaan hamil. Jadi selama beberapa bulan gigi Bunda sakit dan nggak ada obatnya."


Edward menatap Deya sedih. Dia menggenggam satu tangan Deya erat. "Maaf aku tidak ada di sampingmu, tidak bisa menjagamu semasa kau hamil Dafi dan melahirkannya. Pasti semua itu berat untuk kau jalani."


"Sudah terlewat dan aku baik-baik saja. Kau tidak usah menyesali dan bersedih karena hal itu."


Edward bangkit dan mencium pucuk kepala Deya. "Jangan pergi lagi, aku akan berjanji akan menjaga dan merawatmu sebaik mungkin." Menatap istrinya dalam.


Deya mengangguk.


Setelah makan mereka berjalan-jalan di pantai terlebih dahulu, menikmati deburan ombak sambil melihat beberapa orang bernyanyi dengan petikan suara gitar. Zahra dan Dafi nampak sangat senang. Deya sendiri menyandarkan kepala di bahu suaminya.


"Indahnya jika hidup selalu seperti ini." Edward menoleh menatap ke arah Deya. Tangan mereka saling bertautan satu sama lain. Seru nafas Edward menerpa wajah Deya. Lama kelamaan bibir mereka saling berdekatan dan mereka berciuman di depan umum secara singkat.


Setelah ciuman itu wajah Deya nampak memerah karena malu. "Kenapa wajahmu memerah begitu seperti ini pertama kalinya kau kucium?"


Deya memukul lengan suaminya. "Malu ah, banyak orang lihat."


"Biar saja mereka tahu siapa istriku."


Deya merasa lega karena hubungannya dengan Edward tidak disembunyikan lagi dari dunia. Kini semua orang mengenalnya sebagai istri dari Edward Xavier menggantikan Soraya si aktris cantik dan berbakat.


Seseorang terlihat menyalakan kembang api besar, membuat langit di pantai Nusa Penida bertambah indah.


"Wah, bagus sekali Bunda," kata Dafi.


"Kau suka? Besok kita beli dan nyalakan lagi di sini."


"Memang berapa lama kita akan berlibur, Yah?"


"Empat hari. Mungkin seminggu sampai kita puas mengelilingi tempat wisata di pulau ini."

__ADS_1


"Asik," teriak kedua anak itu.


__ADS_2