
Deya kembali ke apartemennya. Sementara itu, Edward bersama Zahra pulang ke rumahnya. Ada rasa kehilangan namun dia harus mengalah karena dia yang kedua merebut Edward dari Soraya. Rasa bersalah melingkupi dadanya. Bagaimana jika hal itu terjadi padanya? Dia pasti tidak akan menerima perbuatan Edward.
Kosong dan sunyi Deya rasakan. Dia melangkah pelan membuka tirai jendela kaca dalam kamarnya. Menatap keluar, ke arah gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi menyentuh angkasa.
Rasanya dia bahagia tadi, ketika dia, Edward, Zahra dan keluarganya dalam satu rumah. Terasa ramai dan ceria. Semua berbeda dengan saat ini. Seperti kebalikannya. Dia tidak nyaman berada di hunian mewah ini sendiri. Lebih suka berada di rumahnya yang kecil namun penuh dengan kebahagiaan. Jika ada kesulitan mereka selesaikan bersama. Di sini, dia merasa sendiri, menjalani hari tanpa tahu arah ke depannya.
"Haruskah aku tetap menerjang badai untuk mencari kebahagiaanku sendiri? Tidak, Edward juga akan bahagia karena aku dan dia saling mencintai. Namun, Zahra, dia akan bertambah terluka jika aku menghancurkan kehidupan rumah tangga Edward."
Deya lalu melangkah ke tempat tidurnya. Duduk di tepi. Dia merogoh sesuatu dalam tasnya. Pil KB. Dia mulai ragu untuk mengkonsumsinya. Jika dia hamil, mungkin Edward akan memperjuangkannya sepenuh hati karena pria itu juga menginginkan seorang putra.
Namun, andai kata iya. Masa depan yang selama ini dia cita-citakan akan kandas di tengah jalan.
Tadi Zahra dan Edward mengantarnya ke apartemen sebelum pulang ke rumah.
"Ini tempat tinggal Kak Deya?" tanya Zahra.
Deya mengangguk. Zahra menghela nafasnya, nampak berpikir.
__ADS_1
"Apakah kita akan tinggal di sini juga, Ayah?" Zahra menengadah menatap ke arah Ayahnya. Edward menekuk satu kakinya hingga membentuk siku. Merapikan rambut Zahra yang menutupi wajah.
"Tidak, kita akan kembali, ibu membutuhkan kita terutama kau," terang Edward.
"Aku takut, Ibu akan marah lagi seperti kemarin. Namun, aku juga cemas dengan keadaan Ibu."
"Karena itu kita pulang agar Ibumu bisa lebih tenang," bujuk Edward. Zahra menatap ke arah Deya.
"Apakah setelah ini Kakak tidak akan ke rumah lagi untuk menemuiku?"
Deya tidak menjawabnya, malah menatap Edward untuk menolongnya.
"Yuk, sekarang kita pulang." Edward berdiri menghadap ke arah Deya.
"Ucapkan pamit pada, Kak Deya." Edward tidak akan memaksa Zahra untuk memanggil Deya ibu atau sejenisnya. Dia akan membiarkan Zahra nyaman dulu dengan gadisnya. Sejauh yang dia lihat. Zahra nampak tidak keberatan dengan hubungan ini.
Setelahnya mereka pulang dan meninggalkannya dalam kesendirian yang sunyi.
__ADS_1
"Mas Ed, dingin," panggil Zahra.
Deya mengacak rambutnya lalu menjatuhkan diri ke pembaringan melihat langit-langit kamar yang gelap. Hingga lama kelamaan kelopak matanya terasa berat dan terpejam.
***
Mobil berhenti di pelataran rumah Edward. Edward membuka pintu mobilnya, tetapi Zahra tetap tidak bergeming. Tatapan matanya kosong ke depan.
"Ada apa, Sayang?" Edward kembali lagi ke posisi duduknya semula menatap Zahra. Maka itu nampak menyeka setitik air di sudut matanya yang sayu.
Anak itu lalu mende***, terlihat seperti sedang memikirkan apa yang akan dia ucapkan.
"Jika Ayah bersama dengan Kak Deya apakah Ayah akan berpisah dengan ibu?"
Edward setengah terkejut, dia pikir ini akan semudah apa yang dia bayangkan. Zahra menerima hubungannya dengan Deya dan mereka meresmikan hubungan ini. Namun, sebelumnya dia akan menceraikan Soraya.
"Ayah tidak tahu, Nak!"
__ADS_1
"Kenapa tidak tahu? Bukankah Ayah yang akan memutuskan hal itu? Jika iya, maka aku akan ikut siapa? Apa hidupku akan kalian perebutkan nantinya seperti temanku lainnya?"