Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 41 Kembali Lagi


__ADS_3

Waktu pulang tiba, Zahra keluar dari kelasnya dengan wajah berseri-seri. Deya mendekat ke arah anak itu.


"Mana Ayah? Dia keluar sebentar, ada yang harus dia kerjakan."


Wajah Zahra ditekuk ketika mendengar penjelasan dari Deya.


"Tidak lama kok, Ayahmu sebentar lagi juga datang kita bisa menunggunya di depan."


"Zahra, rumahmu di mana?" tanya seorang anak perempuan mendekati Zahra. Zahra lalu mengatakan alamat rumahnya.


"Itukan komplek perumahan mewah. Kamu benar tinggal di sana?" Zahra mengangguk.


Temannya sekarang berbeda dengan temannya di sekolah internasional yang dulu. Mereka menganggap Zahra itu biasa saja karena kebanyakan mereka juga dari kalangan atas sedangkan di sini mereka sangat antusias dengan Zahra. Semua yang Zahra kenakan terlihat bagus di mata mereka dan mendapatkan pujian.


Zahra yang tadinya insecure jadi mulai merasa percaya diri. Walau begitu dia tidak sombong karena pernah merasakan bagaimana tidak enaknya diejek dan dibully oleh temannya. Senang dan bahagia dia rasakan di hari pertamanya bersekolah.


Di depan sekolah banyak berjejer pedagang kaki lima yang menjual jajanan dan permainan anak, semuanya terlihat enak dan menarik. Namun, Zahra ingat jika dia tidak boleh memakan itu oleh keluarganya.


Dengan santainya, Deya mengajak Zahra untuk antri membeli makanan dan minuman di sana. Wanita itu membeli berbagai makanan.


"Ini apa, Kak kok warnanya merah, pasti pedas," kata Zahra mundur.


"Ini enak," kata Deya menusukkan tusuk gigi ke makanan itu. "Namanya cimol. Terbuat dari tepung aci bagus buat pencernaan," ujarDeya setengah berbohong. Bagus karena mengenyangkan.


"Pedas," Zahra ragu untuk mencicipi.


"Coba dulu jika tidak suka biar kakak yang makan," ujar Deya. Mau tidak mau Zahra mencicipinya. Dia merasa kepedasan pada awalnya tapi terasa enak jadi dia coba lagi.


Deya memberikan minuman susu kotak agar Zahra untuk meredakan rasa pedasnya.


"Enakkan," ujar Deya. "Sekarang coba ini. Namanya bakso pentol."


"Ck, baru sehari saja bersamamu keluar rumah, kau sudah meracuninya dengan banyak makanan itu."


"Ini enak, coba deh," kata Deya memasukkan cimol ke mulut Edward dengan paksa. Zahra tertawa


"Enakkan, Yah?" ucap Zahra setelah melihat Ayahnya mengunyah nya.

__ADS_1


"Enak tapi-." Edward merasa aneh dengan tekstur dan rasanya.


"Tapi apa yang kau pikir benar selamanya tidak selalu benar. Kau lihat banyak yang membeli dan semuanya sehat saja. Jika kau sakit perut berarti perutmu yang bermasalah. Ada makanan itu harus kita syukuri bukannya di caci. Jika sering mencaci makanan malah membuat tubuh tidak sehat karena makanan itu juga enggan untuk dimakan oleh kita."


Edward tidak bisa menyampaikan argumennya. Dia membiarkan anak serta istri simpanannya membeli makanan yang mereka suka dan mengkonsumsinya.


"Jangan terlalu banyak nanti perutmu sakit."


"Kau sudah berpikir akan sakit perut makanya perutnya akan sakit karena sugesti itu sudah masuk ke tubuh," ujar Deya lagi.


Edward hanya bisa menghela nafas. Istrinya ini memang penurut tapi ada saatnya jika dia beragumen tidak bisa terbantahkan.


***


"Sayang, bagaimana hari pertamamu di sekolah?" tanya Mama Claudia pada Zahra.


"Baik, semua teman baik padaku walau awalnya melihatku dengan aneh. Namun, mereka tertarik dengan kursi roda ku katanya keren dan bagus, bisa jalan sendiri tidak seperti yang pernah mereka lihat," tutur Zahra antusias ketika pertama kali masuk ke dalam rumah.


Dia tidak nampak tertekan malah terlihat riang dan bersemangat. Mama Claudia melihat tangan Zahra memegang makanan berwarna merah dalam bungkus plastik dan ada makanan lainnya di letakkan di atas paha.


"Apa itu Zahra?" tanya Mama Claudia mengernyitkan dahi.


"Itu tidak higienis dan sehat Zahra, itu makanan orang pinggiran, tidak layak untuk dikonsumsi," ucap Soraya yang keluar dari dalam rumah. Dia merebut makanan itu dari tangan Zahra melihat dengan jijik lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Bu, kok dibuang, aku suka itu."


"Ck, siapa yang mengajarimu membeli makanan itu? Ibu tidak pernah memberikanmu makanan dengan nilai gizi rendah dan dengan bungkus plastik menjijikkan seperti itu," ujar Soraya.


"Saya yang mengajaknya membeli makanan itu." Deya maju ke depan. Edward yang baru saja memarkir kendaraannya melihat ketegangan antara kedua istrinya.


"Eh, siapa kamu beraninya mengajari anak saya hal yang tidak baik!"


"Saya cuma pelayan yang bekerja di rumah ini. Saya akan minta maaf jika mengajarkan hal tidak baik pada Zahra. Tetapi sayangnya, saya tidak melakukan kesalahan itu."


"Mama membayar orang sepertinya yang tidak bisa mengurus Zahra dengan baik?" kata Soraya pada Mama Claudia.


"Aku yang membawanya kemari," bela Edward.

__ADS_1


Soraya membuang muka dan tersenyum mengejek.


"Baru ku tinggal rumah ini dua bulan tetapi sudah kacau semua." Deya yang mendengar mengangkat dua alisnya. Soraya yang dia lihat di televisi itu berbeda dengan Soraya yang dia lihat di rumah ini. Jika dilayar televisi dia melihat sosoknya sangat anggun, baik dan bijaksana. Ini malah kebalikannya, dia wanita yang keras kepala dan egois serta mau menang sendiri, pantas saja selalu bertengkar dengan Edward.


"Kacau kau bilang? Kau pergi malah semua membaik. Zahra mau kembali ke sekolah dan dia terlihat bahagia tidak selalu murung. Mama lihat, Soraya datang dan wajah Zahra terlihat kembali tertekan. Ibu macam apa itu!" Edward yang kesal lalu membawa Zahra masuk ke dalam rumah meninggalkan Soraya.


Deya tidak mau membuat masalah lebih banyak lagi. Dia mengikuti langkah kaki Edward sambil menundukkan kepala diiringi tatapan tajam Soraya.


Mama Claudia melihat ke arah menantunya. "Aya, seharusnya kau pulang ke rumah dan mengurus Zahra. Dia membutuhkan kasih sayangmu."


"Ma, aku," Soraya terdiam tidak mau mengatakan apapun.


"Semua orang tidak ada yang sempurna Aya, kau dan Edward pun begitu. Kesempurnaan itu ada jika ada saling pengertian dan menerima diantara kalian. Zahra sangat membutuhkanmu dan Edward bersama-sama."


"Katanya kau ingin memperbaiki semuanya, jadi mulailah mengambil lagi hati suamimu dan Zahra."


"Ed, tidak akan memaafkan aku karena telah pergi dari rumah ini."


"Mama tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya dan tidak ingin mencampurinya. Itu persoalan internal rumah tangga kalian dan kalian sendiri yang harus memperbaikinya jika ingin tetap bersama."


"Seperti kata Mama tadi di dalam, jika Edward akan melakukan semuanya demi kebahagiaan Zahra. Apalagi kalian itu sepasang suami istri yang saling mencintai. Maka, akan mudah membujuk Edward untuk menerimamu kembali ke rumah ini. Jangan menyerah."


Soraya menganggukkan kepala.


"Pelayan tadi?"


"Oh, Deya, dia tadinya mahasiswi yang sedang magang di perusahaan Edward. Zahra butuh mentor untuk membantunya belajar, jadi dia membawanya kemari."


"Kok bisa? Karyawan magang dipekerjakan menjadi mentor," tanya Soraya curiga.


"Entahlah, Mama juga tidak tahu prosedurnya tetapi Zahra terlihat nyaman bersamanya dan dia bisa membawa diri di rumah ini dengan baik. Anaknya juga sopan."


"Apakah Edward ada hubungan dengan gadis itu?"


"Tidak mungkin, Aya, Mama tidak pernah mereka berduaan dan Edward selalu menjaga jarak dengannya. Lagipula dia gadis dari kalangan bawah, tidak cocok dengan selera Edward."


"Edward sangat mencintaimu," ujar Mama Claudia menepuk pundak Aya.

__ADS_1


Soraya tahu itu jika suaminya memang sangat mencintainya. Edward tidak pernah sekalipun melirik wanita lain dan selalu setia padanya. Malah dia yang tidak setia pada suaminya. Betapa bodoh dirinya.


__ADS_2