Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 49 Cemburu


__ADS_3

"Tanya sendiri pada Tuan Edward mengapa dia membawa saya ke rumahnya. Saya sendiri tidak tahu alasannya hanya mengikuti semua yang dia perintahkan. Saya hanya seorang mahasiswa yang tidak bisa melawan perintah atasan perusahaan."


Soraya menatap tidak percaya pada pernyataan Deya. "Apa kau sedang mencoba membohongiku?"


"Untuk apa? Bagaian mana saya yang berbohong pada Anda. Saya sendiri bertanya dalam hati mengapa saya di pekerjaan di rumahnya. Jika hal itu membuat Anda tidak nyaman makan Anda bisa mengutarakan pada Tuan Edward dan saya bisa kembali lagi ke perusahaan."


Soraya menghela nafas panjang. Menatap jauh ke depan.


"Hubunganku dengan suamiku sedang tidak baik-baik saja. Aku coba untuk merubahnya demi Zahra. Banyak kesalahan yang kulakukan dan aku coba untuk memperbaikinya. Tapi Edward seperti tidak memberiku kesempatan untuk itu."


"Bersabar saja Nyonya, mungkin Tuan butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri."


Soraya menunduk dan mengangguk. Untuk sesaat mereka terdiam.


"Zahra yang lebih membutuhkan perhatianmu dari pada, Tuan." Soraya menoleh, menatap ke arah Zahra.


"Masalah pertengkaran itu?"


"Bukan hanya itu. Anak itu butuh dukungan Anda untuk bangkit dari keterpurukannya. Dia sempat mengatakan ingin bisa pulih dan berjalan lagi tapi takut untuk memulainya. Kalian sebagai orang tua bisa memberi semangat dan dukungan sehingga dia mempunyai tekad untuk bisa berjalan normal lagi."


"Benarkah?" tanya Soraya. Deya mengangguk.


"Saya mengajaknya sekolah agar dia bisa bergaul dengan teman sebayanya. Dunianya jadi lebih berwarna karena mempunyai teman dan ruang lain. Kenapa sekolah biasa? Karena di sekolah biasa Zahra akan diterima dengan baik karena dia dari kalangan atas. Pengalamannya dulu bersekolah membuat dia takut untuk pergi ke sana. Dia trauma dengan bully yang anak-anak di sekolah favorit itu lakukan."


Soraya mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


"Jika dia di rumah terus, dia hanya akan terpaku pada masalah rumah saja. Dunianya sempit hanya seputar orang tuanya dan para pekerja rumah."


"Tadinya aku sangat marah padamu karena membawa Zahra ke sekolah ini, tetapi setelah mendengar penjelasan mu. Aku sadar jika pikiranku tentangmu itu salah. Aku tidak tahu mengapa Edward membawamu ke rumah, tapi aku bisa melihat perubahan dalam diri Zahra yang membuatku senang."


Deya tersenyum canggung melihat ke arah lain lalu mengisi paru-parunya dengan udara karena sudah merasa sesak sedari tadi.


Soraya melihat ke arah jam tangannya. "Aku punya janji dengan manager ku. Jadi aku akan mengantarmu kembali ke sekolahan. Nanti siang aku akan menjemput kalian lagi dan kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Zahra serta berkonsultasi tentang tindakan apa yang tepat agar Zahra bisa pulih kembali."


Deya mengangguk mantap, dia merasa senang Soraya bisa memahami perkataannya. Dia berharap dengan ini hidup Zahra ke depannya akan lebih baik lagi nantinya.


Tapi jika itu terjadi dan rumah tangga Edward kembali membaik, bagaimana nasibnya ke depan?


***


"Mau ke rumah sakit."


"Rumah sakit?"


"Katanya kau ingin kembali lagi bisa berjalan dan ingin mengikuti terapi."


Zahra menatap ke arah Deya. Wanita itu menganggukkan kepala.


"Ibu akan menemanimu sampai kau bisa berjalan lagi, tetapi jika kau tidak mau Ibu tidak akan memaksa."


"Aku mau, aku ingin bisa berjalan dan berlari lagi seperti kawanku."

__ADS_1


"Sungguh? Ibu senang sekali mendengarnya," pekik senang Soraya. Deya ikut tersenyum tetapi entah mengapa hatinya malah bersedih. Sejatinya, dia takut tersingkir pada akhirnya.


Dua jam kemudian setelah mendaftar dan antri menunggu, akhirnya mereka menemui dokter yang selama ini merawat Zahra.


"Benar kau mau melakukan terapi?" tanya Dokternya lagi. Sudah beberapa tahun semenjak Zahra kecelakaan, anak itu tidak pernah mengikuti terapi. Hanya awalnya saja dan dia menyerah karena merasakan sakit yang teramat sangat.


"Iya Dok, kata Kak Deya sesuatu terkadang dijemput dengan rasa sakit dulu baru kemudian menemukan kemenangan. Sakit itu yang akan mengajari kita untuk bersyukur akan nikmat yang Tuhan berikan."


"Wah, kakakmu ini memang pandai." Dokter itu melihat ke arah Deya. Dia mengenal siapa dia karena ayahnya dulu juga sering terapi di rumah sakit ini.


"Dia bukan kakakku," ujar Zahra lagi.


"Lalu siapamu?" tanya Dokter Anwar melipat tangannya di dada.


"Dia...." Zahra menatap ke arah Deya.


"Dia adalah temanku," lanjutnya. Deya tersenyum.


"Bukan sekedar teman, ehm... sahabat," imbuhnya menatap balik Deya dengan wajah berbinar.


"Saya hanya mentornya saja, Pak Dokter."


Soraya tersenyum tetapi dalam hatinya menyimpan rasa cemburu. Mengapa Deya yang baru saja ditemui oleh Zahra bisa langsung akrab dengannya? Apakah pelet yang dimiliki wanita itu sehingga bisa membuat anaknya lebih melihat ke arah gadis itu dari pada dia ibunya.


Peernya akan semakin bertambah banyak. Dia menatap Zahra yang lebih senang memegang tangan Deya daripada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2