Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 78 Mantan


__ADS_3

Deya datang ke Universitas dengan di dampingi oleh pengawal yang menyamar sebagai mahasiswa. Dia bukannya tidak percaya pada Edward hanya saja ini adalah masalah dia dan universitas tidak selayaknya Edward ikut terlibat di dalamnya.


Dia memakai jaket hoodie dan juga celana panjang kolor serta wig berwarna pirang, masker yang menutupi wajahnya. Sehingga tidak ada yang menyangka jika itu adalah Deya.


Dia masuk ke ruang dekan setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan.


"Siang, Pak."


"Siang, silahkan duduk." Deya lantas duduk di depan Dekan dengan dibatasi oleh meja kerja yang penuh dengan tumpukan map.


"Bagus kau datang kemari. Itu artinya kau adalah mahasiswi yang bertanggung-jawab dengan semua hal yang kau lakukan."


Deya menunduk.


"Kau tahu mengapa aku memanggilmu?" tanya sang Dekan. Deya mengangguk.


"Itu sebenarnya ranah pribadi. Pihak universitas tidak berhak ikut campur. Tuan Edward juga sudah menjelaskan semuanya. Namun, ini sudah menjadi konsumsi publik. Banyak wartawan yang datang dan mencari informasi tentangmu. Nama universitas ini mulai dikaitkan dan kami gerah dengan semua pemberitaan itu. Hal yang paling buruk adalah ada satu berita yang beredar jika banyak mahasiswi di universitas ini yang menjual diri. Itu mencoreng nama baik kami di dunia luar."


"Saya mengerti Pak karena itu saya akan terima konsekuensinya."


"Walau apapun itu?" tanya Dekan.


"Ya, Pak." Bukankah, ini adalah pilihan hidupnya untuk menjadi wanita simpanan Edward jadi dia harus menerimanya.


"Aku minta kau keluar dari universitas ini dengan cara baik-baik sehingga jika ada awak berita yang datang kemari kami bisa menjawab jika kau sudah tidak berada di sini lagi."


Seketika dada Deya terasa sesak. Dia tidak bisa bernafas. Dia punya keinginan dan cita-cita yang ingin dia capai nanti setelah selesai kuliah. Namun, itu menguap seketika. Padahal dia sedang mengerjakan skripsinya. Tinggal satu langkah lagi dia mendapat gelar sarjana tapi harus dia tinggalkan keinginan itu.


Lalu apalah arti perjuangannya selama ini? Semuanya hanya mimpi yang tidak bisa dia raih.


"Saya telah membuat surat pengunduran diri saya dari universitas ini." Deya mengambil satu amplop dari dalam tasnya. Menyerahkan pada sang Dekan.


"Saya terima niat baikmu dan terimakasih atas kerja samanya tolong katakan pada Tuan Edward jika kami tidak bisa membantumu karena nama baik kami yang jadi taruhannya."


"Saya yakin dia pasti akan mengerti."

__ADS_1


"Saya kenal baik dengan Tuan Edward. Kami pernah satu sekolah dulu. Sebenarnya berat melakukan ini."


"Tidak apa-apa Pak. Ini adalah tugas Anda yang harus Anda jalani."


"Ya, sudah jika kau mengerti. Kami sebenarnya berat melepaskan mahasiswi berprestasi sepertimu. Padahal jika kau lulus bisa diprediksi bisa masuk dalam Cum claude.


" Saya sebenarnya inginkan itu terjadi dan itu juga impian saya tetapi nasib berkata lain."


"Saranku jangan berhenti mengejar mimpimu hingga kau bisa meraihnya."


"Iya, Pak."


"Kau bisa melanjutkan kuliahmu di tempat lain. Aku yakin suamimu pasti akan mendukung bahkan jika kau ingin kuliah di luar negeri."


Deya hanya mengangguk kecut saja."


Setelah itu Deya pamit pergi. Dia keluar setelah memakai masker dan kacamatanya lagi. Dia pengawal yang sedang duduk di sekitar sana ikut berdiri dan mendekat.


"Apakah sudah Nyonya?"


"Nyonya, apakah sudah selesai?" Deya menghela nafas dan mengangguk.


Mereka lantas pergi keluar dari Universitas. Sekilas dia melihat kawan-kawannya sedang bercanda dan berteriak bahagia. Sesuatu yang Deya rindukan selama ini. Kebebasan itu.


Kini dia bukan Deya yang dulu lagi. Tidak bebas berbuat apapun lagi semaunya. Ada namanya dan nama Edward yang saling bersambung. Dia tidak ingin menambah beban Edward dengan semua masalahnya. Dia tahu suaminya sedang berjuang agar dia diterima oleh semua orang terutama keluarganya. Namun, tidak ada respon.


Zahra anak itu bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja atau sedang sedih dan kesepian seperti dirinya. Deya ingin sekali melihatnya tetapi takut mendapat penolakan dari anak itu.


Seseorang mendekat dari arah belakang tubuhnya dan menyentuh bahunya membuat Deya terkejut dan menghentikan langkah.


"Deya, kau kah itu?" tanya seseorang yang suaranya terdengar akrab di telinga. Suara yang tidak pernah didengarnya kini.


Tubuh Deya menegang seketika. Matanya memerah. Dia tidak berani menoleh ke belakang untuk menunjukkan wajah di depan pria yang telah dia khianati.


"Hei, kau jangan dekati dia," ucap pengawal Deya. Namun, Angga tidak menghiraukan.

__ADS_1


"De," teriak Angga membuat semua orang di sekitar mereka menoleh ke arah Deya.


Deya menunduk. Dia lantas melanjutkan langkahnya pergi dari sana.


"Kenapa, De? Seharusnya kau jujur padaku aku pasti bisa membantumu keluar dari masalah bukannya meninggalkan aku dengan cara seperti ini," ucap Angga berjalan mengikuti Deya.


Wanita itu mengusap air matanya. Dalam hatinya pun masih ada nama Angga mengingat hubungan cinta mereka yang telah terjalin lama. Jadi tidak mudah baginya mengganti sosok Angga dengan pria lain,termasuk Edward. Walau Edward yang memiliki tubuh dan jiwanya kini. Dia masih berusaha untuk mengubur Angga dalam-dalam. Namun, kini ketika melihatnya lagi itu terasa menyakitkan.


Satu pengawal Deya menghalangi Angga untuk mendekat ke arah Deya.


"De, aku mencintaimu," teriak Angga tidak peduli dengan pandangan setiap orang. Teman-teman Deya yang mendengar teriakan Angga dari jauh menatap ke arahnya.


Deya lantas pergi dari sana tanpa mengucap sepatah katapun. Sayup-sayup dia mendengar namanya di sebut oleh Angga namun dia tetap berjalan. Meninggalkan Angga bersama dengan kenangannya. Dia hanya berharap Tuhan memasukkan Edward dalam hatinya dan membuat dia menjadi satu-satunya pemilik hatinya hingga akhir hayat. Dia tidak ingin mengkhianati suaminya walau itu dalam hati. Dia hanya menikah sekali seumur hidup jadi berusaha agar pernikahan ini tidak gagal di tengah jalan walau cobaan dahsyat menghantam pernikahan mereka yang baru seumur jagung.


Kepala Deya mulai terasa pening mendengar suara berbisik para mahasiswa yang melihat ke arahnya dengan tatapan sinis dan menuduh. Mungkin mereka telah provokasi oleh berita yang Soraya buat. Dia harus membuat pelajaran pada wanita itu. Nampaknya kata-kata yang dia lontarkan tempo hari kurang sehingga wanita itu masih saja memancing dalam keruhnya suasana ini.


"Nyonya kita mau kemana?" tanya pengawal Deya ketika mereka semua ada di dalam mobil.


"Ke rumah Mas Edward, rumah utama."


"Nyonya kau yakin!" ucap pengawal itu. "Apakah kita juga harus menghubungi Tuan Edward?"


"Tidak perlu, aku ingin berbicara antar wanita saja."


"Aku rasa keinginanmu tidak akan tercapai mengingat sifat Nyonya Aya yang labil. Anda tahu sendiri seperti apa dirinya. Aku takut Anda di serang olehnya."


"Lalu apa gunanya kalian di sisiku!"


"Baiklah jika itu keinginan Anda. Hanya saja saya, pikir ada baiknya Anda menghubungi Pak Edward terlebih dahulu."


"Tidak, dia sedang ada rapat penting dengan para pemegang saham. Ada masalah dengan kepemimpinannya, ada yang berusaha untuk menjatuhkan suamiku lewat masalah ini. Aku tidak ingin menambah masalahnya."


"Baik, Nyonya, saya mengerti."


"Namun, kita mampir ke sekolah Zahra dahulu. Aku ingin melihatnya."

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


__ADS_2