
Entahlah semua terasa indah pada malam ini. Deya bisa tidur nyenyak dalam dekapan Edward. Ia juga merasa tenang dan nyaman ketika tidur bersama wanita itu.
Sejenak Edward memandang wajah teduh Deya.
Beberapa jam yang lalu sebelum Edward keluar dari rumahnya dan pergi ke rumah Deya.
Pintu kamar yang Edward tempati tiba-tiba terbuka ketika Edward sedang membuka kancing bajunya. Pria itu menoleh, melihat Soraya berdiri di depan pintu. Pintu di tutup.
"Kau sudah kembali?" tanya Soraya.
"Keluarlah, aku mau mandi," usir Edward halus.
"Kalau begitu biar aku siapkan air hangat untukmu," ujar Soraya.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Ed, aku sebenarnya ingin bicara padamu sedari kemarin, tapi kau selalu menolak dan mencari alasan untuk menghindariku."
"Baguslah kalau kau mengerti," ucap dingin pria itu menarik handuk dari lipatan di atas tempat tidur yang tadi sudah Mr. Lee siapkan.
Dia melangkah pergi ke kamar mandi. Langkahnya terhenti tatkala tangan Soraya memeluk pinggang pria itu.
"Ed, beri aku kesempatan lagi untuk kedua kalinya. Aku kini telah sadar jika aku melakukan banyak kesalahan padamu dan Zahra.
" Aku memberimu kesempatan menjadi ibu yang baik bagi Zahra." Pria itu membiarkan Soraya menyandarkan kepalanya di punggung. Dalam hati dia juga merasa iba dengan kegigihan Soraya untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Dia melakukan segala cara agar bisa menyenangkan Zahra. Dia melakukan kewajibannya sebagai ibu yang baik dan mulai merubah sikapnya yang arrogan pada semua orang. Dia juga berusaha melayani Edward dengan baik hanya saja Edward memberi penghalang tebal bagi hubungan dirinya dan Soraya, sehingga wanita itu tidak bisa menembusnya. Serta menjaga jarak diantara mereka walau mereka berada di satu rumah.
"Tapi kau membuat tembok tebal bagi hubungan kita, kau selalu menjauh dariku dan tidak tersentuh."
Edward melepaskan pelukan Soraya di pinggangnya. Dia melangkah ke depan. Namun, Soraya menarik bajunya
"Tidak, Ed kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Edward menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya. Raut wajahnya nampak tersenyum mengejek.
"Tidak kau bilang? Apa alasan aku tidak bisa melakukan ini padamu!"
"Aku tahu aku salah, tapi aku sudah berusaha meminta maaf padamu. Akan melakukan apapun demi melakukan hubungan kita."
__ADS_1
"Sudah terlambat." Edward hendak melangkah pergi ke kamar mandi. Soraya bergerak cepat berdiri di depannya dengan tatapan mengiba.
"Kenapa? Bukankah katamu kau sangat mencintai aku?" tanya Soraya. Air matanya meleleh sudah.
"Dulu, sebelum kau tidur dengan pria lain. Walau saat itu aku merasa marah dan jijik tapi aku pikir kau hanya sedang khilaf. Aku masih bisa memaafkanmu."
"Kalau begitu ijinkan aku untuk memperbaiki diri," mohon nya.
Edward tertawa sinis seraya menggelengkan kepala.
"Itu dulu, sebelum kau pergi dari rumah ini tapi setelah kau lebih memilih pria lain daripada aku." Wajah Edward nampak penuh kebencian ketika menatap Soraya, membuat wanita jgu terkejut.
"Bagimu, aku ini bukan pria berharga di situ aku sadar jika kau tak pernah layak menerima cintaku lagi. Segilanya aku, aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Tapi kau yang merusaknya terlebih dahulu. Kini kau temui, akibatnya."
Edward lalu menyingkirkan Soraya dari depannya sehingga terhuyung ke samping dan hampir jatuh jika dia tidak bisa menjaga keseimbangan.
Edward masuk ke dalam kamar mandi. Mata Soraya sendiri memerah, menangis tanpa suara menatap nanar ke depan.
Soraya melangkah terhuyung ke luar dari kamar tamu yang Edward tempati. Dia mengusap air matanya ketika melihat Zahra di deoannya.
"Ibu hanya sedang bicara dengan Ayah tapi tidak sampai bertengkar. Ibu merasa bersalah karena menelantarkanmu selama ini."
"Ibu tidak pernah menelantarkan aku. Ibu selalu bersamamu setiap hari."
Soraya menganggukkan dan memeluk Zahra. "Ingat satu hal Zahra seburuk apapun aku adalah ibumu yang tidak akan mungkin berniat buruk pada anaknya. Seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya."
Zahra mengangguk.
"Ibu sangat sayang padamu, Nak," ucap Soraya. Zahra balas memeluk Soraya dengan erat.
Edward yang merasa suntuk mencari keberanian Deya tanpa bertanya pada siapapun. Lama dia berputar di rumah namun sosok itu tidak dilihat olehnya. Hal itu membuatnya semakin kesal. Edward lalu mengecek keberadaan Deya melalui GPS yang dipasang di handphone wanita itu tanpa sepengetahuannya.
"Ternyata kau di sana," gumam Edward sendiri. Dia tersenyum tipis.
"Ed, apakah kau mau teh?" tawar Soraya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
Edward terdiam, terpaku bagai anak kecil yang ketahuan mencuri. Dia menatap layar di handphonenya lalu mematikan baru membalikkan tubuh.
"Kau tidak perlu berpura-pura menjadi wanita lain hanya untuk menarik simpatiku."
Edward lantas pergi melangkah keluar dari rumah itu tetapi di lantai bawah dia bertemu dengan Zahra.
"Ayah, aku sudah membuat satu lukisan, lihatlah... baguskan?" tanya Zahra memperlihatkan anak kecil yang digandeng oleh ayah dan ibunya.
Edward tersenyum kecut. Gambar itu mewakili perasaan Zahra yang ingin agar orang tuanya bisa bersatu. Namun, semua kembali lagi ke hatinya. Dia merasa sakit ketika membayangkan Soraya disentuh oleh pria lain.
Jauh di lubuk hatinya dia menegaskan diri bahwa hanya Deya yang lebih patut menerima cintanya dari pada Soraya. Rasa sakit ini sepertinya tidak bisa hilang begitu saja, membuat dia tidak bisa menerima Soraya kembali lagi dalam hidupnya.
"Itu indah sekali," cetus Soraya dari belakang Edward.
"Ya, aku menggambarnya dengan hatiku. Coba lihat, ini aku kecil yang masih butuh kedua tangan kalian untuk berpegangan. Aku akan limbung jika salah satu dari kalian melepaskan tanganku. Aku akan jatuh jika kalian melepaskan genggaman tanganku."
Edward tersenyum kecut.
"Ayah akan terus memegang tanganmu, Nak." Edward mengecup kening Zahra.
"Ibu juga," kata Soraya mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Ayah, Kak Deya katanya pergi sedari siang tadi. Dia hanya pamit pada Mak Saroh."
"Kak Deya mungkin sedang memberikan laporan ke Universitasnya karena masa magangnya sudah hampir habis."
"Berarti Kak Deya tidak akan tinggal di sini lagi? " tanya Zahra terkejut. Edward menggeleng.
"Tidak ada Kak Deya kan ada Ibu, Sayang," ujar Soraya.
"Tetap berbeda Ibu. Kalian berbeda," tegas Zahra menekuk bibirnya.
"Kalau begitu, kita akan bicara pada Kak Deya apakah masih ingin tinggal di sini setelah masa magangnya selesai atau berhenti dari pekerjaan ini."
Soraya tersenyum dan mengangguk. "Lihat, Ayahmu juga senang dan tidak keberatan jika Kak Deya akan tinggal di sini lebih lama. Buka begitu suamiku," ujar Soraya.
__ADS_1