
Setelah insiden kecil di seminar. Deya kembali beraktivitas seperti biasa. Pak Dekan hanya memberinya peringatan tidak lebih. Deya bisa bernafas lega karena masalah ini.
Akhir pekan ini, Deya diajak oleh Angga ke sebuah restoran mewah. Mereka akan merayakan ulang tahun Angga yang ke dua puluh satu.
Angga menjemput Deya di rumahnya dengan sepeda motor sportnya. Pak Seto yang memang sudah mengenal Angga lama menerima kehadirannya dengan baik.
"Katanya kalian mau pergi untuk merayakan ulang tahunmu. Bapak tidak punya kado apa-apa ini," ujar Pak Seto.
"Restu Bapak saja sudah cukup," ucap Angga.
"Wah, Bapak selalu merestui apa yang Deya lakukan cuma kalau untuk menikah sebaiknya setelah Deya lulus kuliah dulu."
"Lama dong, Pak! Kalau tunangan dulu boleh, Pak?"
"Itu tergantung keluarga Nak Angga, mau menerima keluarga kami atau tidak."
"Mama dan Papa tidak melarang hanya saja sama seperti Deya, mereka ingin Angga menyelesaikan kuliah dulu lalu bekerja membantu ayah berjualan di tanah Abang," ujar Angga.
"Nah, itu. Orang tua pasti ingin anaknya mencari pengalaman hidup sebelum berpisah dan hidup mandiri dengan pasangannya. Kami ingin ketika anak kami sudah menikah nanti kondisi ekonomi sudah berjalan dengan baik. Bukannya menikah baru memikirkan pekerjaan dan mencari uang. Setidaknya punya pegangan hidup," imbuh Pak Seto. Angga menganggukkan kepala.
"Tapi kembali lagi semua tergantung takdir, bisa saja kalian menikah muda. Jika sudah ditetapkan demikian, maka jalani saja InsyaAllah semua yang diniati baik nanti juga akan berjalan dengan baik."
"Tetapi sesuatu yang direncanakan itu lebih baik daripada sesuatu yang berjalan secara mendadak atau tergesa-gesa begitu kan, Ayah?" Deya keluar dari kamarnya dan memeluk leher Pak Seto dari belakang.
"Wah, calon istri siapa ini cantik sekali," ledek Angga.
"Kamu itu sukanya meledek."
"Memang cantik ya, Pak."
Seto menganggukkan kepala. Angga dan Deya lantas berpamitan pergi.
"Sudah cantik begini naik motor? Tidak berperikemanusiaan."
"Mobil sedang dipakai Ibu dan Ayah pergi keluar."
"Tidak apa-apa sih cuma nanti dandanan ku awut-awutan apa kamu nggak malu?"
"Buat apa malu, orang cantik begini kok. Aku yakin jika kamu baru bangun tidur pun pasti sudah cantik melebihi bidadari surga."
"Mulai lagi...."
"Jika tadi bilang naik motor kan aku pakai celana panjang. Apa aku ganti baju saja."
__ADS_1
"Nggak usah ini sudah cantik banget kok. Cantik maksimal malah."
"Berarti yang kemarin enggak maksimal nih?"
"Udah yuk naik, nanti nggak jadi makan malamnya."
Mereka naik motor sport itu, Angga melepaskan jaketnya untuk menutupi paha Deya yang tersibak. Motor mulai dilajukan membelah jalanan ibukota.
Sesampai di lokasi Deya menjadi Insecure sendiri melihat restoran mewah yang ada di depannya.
"Ini... apa kamu nggak salah membawaku kesini." Deya merapikan penampilannya.
"Sekali-kali nggak apa-apa kan. Ini hari istimewaku dan ingin ku rayakan bersamamu." Angga memegang tangan Deya memasuki restoran mewah itu.
Mereka masuk ke dalam dan duduk di salah satu sudut restoran, saling berhadapan. Itu adalah restoran china menyajikan berbagai macam makanan khas China terutama sea food. Makanan kesukaan Deya. Mereka mulai memesan makanan. Pelayan lalu pergi setelah menerima daftar makanan yang telah dipesan.
"Aku takut makan di sini, kau lihat harganya... satu mangkuk mie sea food saja sama dengan lima belas mangkok bakso. Ini pemborosan."
"Tidak untukmu, aku akan melakukan apa saja asal kau senang dan bahagia."
Mata Deya berbinar mendengarnya.
"Aku punya kado untukmu."
"Seharusnya kau tidak usah memberi kado untukku. Kau sudah ada bersamaku dan menemani hari-hariku saja sudah membuat ku bahagia."
"Ya, sudah kalau tidak mau aku masukkan lagi hadiahnya."
"Eits jangan. Ini sudah diberikan untukku masa dimasukkan kembali."
Angga membuka bungkus kado itu dan menemukan sekotak pena mahal.
"Deya ini kan?"
"Ini bukan apa-apa jika dibanding dengan apa yang telah kau lakukan selama ini untukku. Aku memilih pena ini agar setiap kau menandatangani sesuatu kau akan ingat jika aku selalu mendukung yang kau lakukan."
Angga langsung memeluk Deya dan mengecup kening wanita itu.
"Ini sangat berharga untukku, aku akan selalu menjaganya."
Deya mengangguk. Mereka lantas makan sambil membicarakan banyak hal. Deya melihat seseorang yang sangat dikenalkan masuk ke restoran ini bersama beberapa orang. Deya mulai tersedak.
"Uhuk!"
__ADS_1
"Kau kenapa?"
"Tidak ada apa-apa hanya saja orang yang mengisi seminar itu ada restoran ini juga. Kau lihat yang di sana," tunjuk Deya pada Edward yang masuk ke sebuah ruangan VVIP.
"Sudah biarkan saja. Jangan membuat masalah lagi."
"Mood makanku jadi hilang seketika."
"Sudah jangan perdulikan dia. Kita makan saja dengan tenang di sini. Aku ingin berfoto denganmu untuk diabadikan dan dijadikan foto kenangan untuk kita nantinya."
"Memang kita akan berpisah pakai kata kenangan."
"Kenangan kita merayakan ulang tahunku ini. Sini Ya," Angga mendekat ke arah Deya lalu mereka saling berdekatan dan berfoto ria dengan berbagai gaya romantis juga unyu. Sejenak Deya melupakan jika Edward ada di tempat itu. Dia masih kesal karena dipermalukan Edward di kalangan seluruh mahasiswa universitas tempat dia belajar.
"Ya, maaf. Mama memberi pesan agar aku segera pulang sekarang."
"Yah, Angga padahal makanan kita saja belum habis separuh."
"Aku akan bayar makanannya, kau pulang naik taksi ya."
"Ck... kok gitu," Deya mulai merajuk.
"Maaf Ya, aku tidak bisa menolak keinginan Mama."
"Ya, sudah kau pergi saja dulu. Aku akan memakan makananku sayang kan sudah dipesan ditinggal begitu saja. Padahal semua ini mahal kan?"
"Ya, sudah aku pulang dulu ya, Ya."
Deya menghela nafas dan mengangguk. "Selamat Ulang Tahun Cintaku Sayangku, semoga semua keinginan baikmu semua terkabul. Aku yang ada di sini selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
"Terimakasih, Sayang." Angga mencium dahi Deya sebelum pergi keluar restoran.
Deya mulai memakan pesanannya dengan sedih. Hubungan mereka sebetulnya bukan tidak direstui oleh orang tua Angga hanya saja keluarga Angga tidak pernah bersikap hangat pada Deya. Mereka lebih suka bersikap cuek dan tidak perduli ketika bertemu dengan Deya.
Mungkin kali ini Angga diajak makan malam dengan orang tuanya untuk merayakan ulang tahun Angga. Deya tidak tahu. Dia hanya menjalani hari ini karena tidak tahu seperti apa hari esok.
Ketika Deya sedang makan sambil melamun Edward datang menghampiri. Wajah Deya ditekuk ketika pria itu duduk di depannya.
"Kok sendiri mana kekasihmu?''
"Sudah pulang!"
"Ck, tidak bertanggungjawab. Bukan pria yang bisa diandalkan."
__ADS_1
"Lalu kau sendiri apa pria baik yang bisa diandalkan? Kau itu egois selalu melakukan sesuatu seenaknya sendiri. Kau kira apa yang kau lakukan padaku tempo hari juga hal yang baik? Mempermalukan aku di depan umum dan kini datang, seolah kau tidak melakukan kesalahan apapun!''