Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 54 Menggoda Suami


__ADS_3

"Jadi kau sudah memikirkan semuanya?"


"Wanita adalah kaum pemikir. Mereka melakukan semuanya sesuai dengan perasaan hatinya," ujar Deya.


"Kau sangat dewasa, jalan pemikiran mu bahkan lebih tertata daripada pikiranku."


"Aku tidak ingin salah melangkah. Awal kita menikah memang main-main tetapi aku tidak ingin bermain-main dengan masa depanku. Kau tahu mengapa? Jika aku gagal, maka keluargaku akan menangis perih untukku dan aku tidak ingin itu terjadi."


Edward memeluk Deya dan menyesap leher wanita itu.


"Mas, apa kau tidak akan bekerja hari ini?" tanya Deya.


"Sebenarnya aku hanya berada di sini bermanja-manja denganmu," ujar Edward mulai nakal lagi.


"Jadi libur?"


"Berangkat siang," ucap Edward. Menciumi wajah Deya berkali-kali. "Hanya menemui satu klien penting saja."


"Mas, sudah dong. Apa tidak bosan? Kan semalam sudah."


"Mana ada kata bosan, Deya?" balik Edward.


Deya mulai kewalahan menghadapi serangan dari Edward. "Mas, aku mau mandi dan sarapan. Aku sangat lapar."


"Kita mandi bersama saja," Edward mulai melepaskan lagi baju yang Deya gunakan.


Tubuh Deya sebenarnya sudah teramat lelah hanya saja setiap sentuhan Edward selalu bisa membuatnya melayang.


***


ini yang membuat Deya senang, berada di rumahnya sendiri. Dia bebas melakukan apapun termasuk melayani suaminya dengan baik. Dia merasa menjadi istri sesungguhnya bila berada di rumah ini. Tidak seperti di rumah Edward yang besar, untuk berpapasan dengan pria itu saja dia harus berpikir sepuluh kali. Bukan karena takut tetapi banyak mata usil yang akan bisa menangkap arti tatapan keduanya atau bahasa tubuh mereka walau tidak saling bersentuhan.


Deya mulai menghangatkan masakan rendang instan di microwave. Sebelumnya dia telah menggoreng kerupuk dan menumis kangkung. Makanan yang ingin dimakannya dari kemarin, makanan khas warga pribumi.


Edward sendiri sedang menelfon Satria tentang pekerjaan di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang santai untuk menonton televisi. Pria itu nampak serius, menjelaskan setiap detail hal apa saja yang harus Satria lakukan nanti.


Dia menatap suaminya tanpa kedip. Merasa beruntung karena mempunyai Edward yang tampan dan kaya. Semua hal bisa dia dapatkan. Bahkan cinta yang tadinya tidak dia miliki kini Edward berikan. Lalu apa lagi yang kurang? Hanya statusnya saja yang masih abu-abu.


Edward menawarinya sebuah pernikahan sah, tetapi dia menolaknya. Itu karena dia ingin mengambil hati orang tua Edward terlebih dahulu, setidaknya orang tua suaminya tidak akan memandang mata padanya. Lawannya adalah Soraya, wanita cantik, elegan sama-sama dari keluarga berada serta seorang artis besar yang punya nama. Dia sendiri belum bisa menyaingi Soraya dalam hal apapun. Wanita itu punya segalanya termasuk pendidikan tinggi. Deya mende***.

__ADS_1


Deya memberi tanda pada Edward untuk makan. Pria itu membalas dengan bahasa isyarat untuk menunggu sebentar lagi.


"Ya, kau datang ke kantornya dan tanyakan tentang pembayaran yang tersendat. Jika mereka tidak mau melakukan pembayaran itu, kita tangguhkan pengirimannya."


"Okey, temui aku setelah pertemuan ku dengannya Mr. Jhonson." Edward menoleh ke arah Deya yang sudah duduk manis di kursi makan dengan bosan.


"Aku ada di apartemen bersama dengan Deya.''


" Biarkan saja, tidak usah katakan apapun pada Soraya. Aku sudah muak dengannya." Edward berjalan mendekati Deya.


"Ya, seperti itu saja. Aku tutup teleponnya."


Deya menengadah dan tersenyum. "Aku lapar...," rajuknya manja.


"Ayo, kita makan." Mereka mulai makan bersama.


"Kapan kau akan kembali kemari, De?"


"Secepatnya."


"Zahra sudah tahu jika kau akan pergi. Dia merasa sedih."


"Bukankah ibunya sekarang ada di rumah menemaninya. Dia pasti tidak akan kesepian lagi."


"Aku juga menyayanginya, bukan karena dia anakmu. Aku menyayanginya karena sikapnya yang selalu manis. Aku bahkan merasa menjadi seorang ibu jika bersamanya. Lucu kan padahal kau tahu sendiri umurku masih muda."


"Tidak lucu, kau memang melakukan semuanya dengan hati sehingga membuat semua orang tersentuh. Mama dan Papa juga menyukaimu karena itu aku berani untuk mengajakmu menikah karena kupikir mereka akan setuju dengan rencana ini."


"Lalu bagaimana dengan istri sahmu?"


"Aku akan menceraikannya?"


"Hanya karena kesalahpahaman?"


"Ada begitu banyak masalah yang ada diantara kami dan aku tidak ingin membuka aibnya karena sama saja membuka aibku sendiri. Kau cukup tahu jika aku dan Soraya tidak bisa bersama lagi."


"Bahkan demi Zahra?"


"Kami tetap akan bisa menjadi orang tua yang baik walau terpisah."

__ADS_1


"Apanya yang baik. Zahra baru saja sembuh dari kondisi psikisnya yang buruk dan kau akan bercerai. Bukankah itu akan membuat dia merasa down lagi?"


"Ada kau yang akan menggantikan Soraya di rumah. Kau bahkan jauh lebih baik dari Soraya dalam menjaga Zahra. Ibunya selama bertahun-tahun tidak bisa membuat anaknya kembali pulih, kau yang baru datang bisa membujuknya. Itu suatu bukti jika Zahra lebjh butuh kau daripada ibunya."


"Seorang ibu kandung tetap yang terbaik untuk anaknya. Apapun kondisinya!" tegas Deya.


"Huh, jika kita membicarakan masalah ini yang ada hanya pertengkaran saja dan aku tidak suka itu."


Pernyataan Deya membuat pikiran Edward berubah. Gadisnya ini benar-benar memikirkan semuanya dengan detail hingga urusan Zahra yang bukan anaknya saja dia pikirkan masak-masak. Jika wanita simpanan lainnya pasti akan menyuruh sang pria bercerai dengan istri sahnya dan minta diresmikan hubungan mereka. Mereka tidak akan memikirkan nasib anak-anak dari pasangannya. Namun, Deya berbeda. Dia malah lebih memikirkan Zahra daripada dirinya. Perasaannya terlalu lembut membuat Edward tidak tega untuk menyakitinya.


Semua yang Deya katakan memang benar adanya. Wanita itu butuh identitas baru, nama baik sehingga layak untuk dipertemukan dengan siapapun. Orang pasti akan bertanya darimana asalnya dan mengapa mereka menikah. Jika yang pikirannya sempit langsung akan menghujat keduanya karena mengira jika Edward hanya tertarik pada fisik Deya yang memang cantik dan menarik daripada berpikir kenapa dia lebih memilihnya dari Soraya.


"Kau mau ku antarkan ke rumah?" tanya Edward.


"Kau ingin membuat masalah apa?" balik Deya.


Edward tertawa. Kalau begitu biar sopir yang mengantarmu sampai ke depan kompleks.


"Itu sama saja! Aku akan naik taksi online saja," ujar Deya.


"Aku tidak percaya. Kau selalu memilih naik ojek motor dari pada mobil," sungut Edward.


"Itu lebih efisien, menghemat waktu karen anisa meliuk di tengah padatnya kendaraan kota Jakarta yang sedang melintas. Memakai mobil seringkali macet lama."


"Aku hanya tidak suka kau berboncengan dengan lelaki lain. Bagaimana jika mereka cari-cari kesempatan?"


"Ulu-ulu... suamiku sedang mengambek. Tukan ojeknya pada sopan kok, cuma jika tidak sengaja bersentuhan kan rejeki mereka. Ibaratnya kita sodaqoh," goda Deya senang melihat Edward cemberut.


Pletak! Kening Deya disentil dengan keras oleh Edward.


"Kau menolak ku belikan mobil tapi jangan menolak ku belikan motor. Aku tidak mau kau dekat-dekat dengan pria lain."


"Posesif sekali Bang, aku itu mau berkendara bukan pacaran sama mereka! Enakan bonceng, g mikir jalanan daripada nyetir sendiri."


"Kau itu terlalu banyak alasan."


"Ditambah kalau tukang ojeknya ganteng dan wangi, asik tahu Mas," ujar Deya tertawa lari ke kamarnya sebelum Edward marah.


"Deya, awas kamu kalau lirik laki-laki."

__ADS_1


"Bukan lirik lagi, tapi peluk pinggangnya, takut jatuh."


"Deya!" teriak Edward habis kesabaran mengejar istri kecilnya yang lucu dan manis.


__ADS_2