
Dengan dada berdebar Edward mendatangi rumah Deya. Dia tetap memegang stir mobil walau mobil sudah berhenti sedari tadi.
"Kenapa duduk saja, ayo keluar," ajak Deya.
"Bagaimana jika Dafi takut, menolak atau marah padaku karena tidak pernah ada di dekatnya?"
"Ck hentikan semua pertanyaan bodoh itu, Dafi akan senang kau datang karena kau ayah yang dia tanyakan selama ini."
Edward menoleh dan memandang Deya. "Ayo turun, kalau tidak aku masuk sendiri."
Edward mengusap wajahnya. "Dia tidak mengira jika Angga adalah ayahnya kan?"
"Jika kau tidak datang sekarang mungkin besok Dafi akan mendapatkan Angga sebagai ayahnya." Edward menajamkan matanya pada Deya.
"Bercanda jangan marah, nanti gantengnya ilang."
"De, aku nggak suka kamu bercanda seperti itu."
"Maaf, cup cup...." Deya mengecup pipi Edward yang tegang lalu menatapnya, memiringkan kepala dengan wajahnya yang imut. Mengkerut kan hidung dan tersenyum. Hal yang selalu membuat Edward luluh dan mengusap kepalanya.
Dia beruntung dengan mudah bisa membawa Deya kembali ke hidupnya. Deya masih tetap sama seperti dulu yang menggemaskan dan manja tetapi dewasa dalam pemikirannya. Dia beruntung memilikinya, dia tidak akan mendapatkan kesempatan lagi seperti ini jika melepaskan wanita yang paling sempurna di matanya.
"Setelah ini kita pulang ke rumah."
"Kita lihat nanti," jawab Deya membuka pintu mobil.
"Kok?"
"Sekarang atau tidak!" Deya lantas berjalan membuka pintu gerbang. Edward keluar dari mobil merapikan pakaiannya.
Dadanya berdetak kencang ketika melangkahkan kaki masuk ke rumah Deya.
Ibu...," panggil Dafi menyerbu Deya. Memeluk pinggangnya.
"Nak Angga kesini mencarimu tadi De," kata Ibu Ratmi yang tidak tahu ada Edward di belakang Deya.
"Dia bi.... lang... Nak Edward." Ibu Ratmi menjatuhkan sapu yang ada ditangannya. "Yah... Yah...." Bu Ratmi memanggil Pak Seto yang ada di dalam rumah.
Edward mendekat lantas mencium tangan Bu Ratmi. "Bu," sapanya.
"Bagaimana...." Ibu Ratmi melihat ke arah Deya. Deya tersenyum. Dia mengikuti semua perkataan ibunya.
"Ibu itu siapa?" tanya Dafi. Edward lantas membalikkan tubuh menunduk ke arah Dafi. Mengulurkan tangan.
"Hai Dafi," ucapnya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Ini ketiga kalinya dia melihat Dafi, yang pertama sebagai badut yang kedua sebelum dia pergi keluar kota menatap anak itu dari jauh. Namun, ini pertama kalinya dia menyapa anak itu langsung sebagai dirinya sendiri.
Dafi ikut melambaikan tangannya. "Hai." Lantas menatap ke arah Ibunya.
__ADS_1
Deya berjongkok merapikan kerah baju anaknya. "Ehm kemarin Dafi tanya tentang Ayah kan?" Anak itu mengangguk. Deya menghela nafas. Sibuk merangkai kata yang tepat untuk anak itu.
Edward ikut berjongkok di depan Dafi. Ibu Ratmi memegang tiang rumah sedangkan Pak Seto baru saja keluar dari dalam rumah.
"Sekarang Ibu panggil Ayah Dafi untuk datang kemari," lanjut Deya menatap Edward. Dafi mengikuti arah pandang Deya.
"Ayah?" ulang Dafi menatap Edward. Edward memejamkan mata dan mengangguk. Mengulurkan tangannya.
"Ya, dia Ayah Dafi, ganteng seperti Dafi kan?" ucap sesak Deya. Beban di hatinya kini sudah mulai terangkat karena bisa mengenalkan Dafi pada Edward. Rasa bersalah karena menjauhkan kedua orang itu kini semakin berkurang. Dia sadar jika Dafi butuh ayahnya. Edward dari dulu sudah menunggu seorang anak darinya, apalagi dia putra yang Edward inginkan dan impikan dari dulu.
Dafi melihat ke arah Pak Seto. "Ayah Eto?"
"Dia kakung bukan Ayah, Sayang," terang Deya. Dafi melihat lagi pada Edward dan mendekat.
"Ayah?"
"Aku ayahmu Nak, Ayah yang selalu menunggu hadirmu selama ini," ungkap Edward memeluk Dafi erat. Mencium bahu anak itu dan menghirup aromanya. Hal yang dia tunggu selama ini. Suasana menjadi haru seketika. Deya menyeka air matanya. Menatap kedua orang tuanya yang menganggukkan kepala bahagia.
"Memang Ayah pelgi ke mana, kok tidak pelnah ada?" tanya Dafi setelah Edward merenggangkan pelukannya.
"Ayah bekerja jauh jadi tidak menemani Dafi," terang Deya. Dafi mengangguk, memeluk ibunya lagi dan menatap Ayahnya.
"Maaf, dia belum terbiasa," ucap Deya tidak enak.
"Tidak apa-apa."
"Nak Ed," panggil Ayah Deya.
"Setelah tiga tahun ternyata kita bertemu kembali."
"Maafkan aku, Yah, yang telah membuat hidup kalian sulit." Edward menunduk.
"Semua terasa mudah jika saling mendukung dan menjaga." Ayah Seto tersenyum lalu mengajak menantunya masuk.
Edward melihat ke arah Dafi, anak itu masih memeluk kaki ibunya nampaknya masih ragu untuk mendekat dengan Edward. Edward tersenyum masam.
Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Edward melihat keadaan rumah Deya yang masih belum tertata rapi dengan sempurna.
"Kami baru pindah seminggu lebih jadi belum selesai beres2, belum lagi ayah Deya sibuk mengurus dagangan Deya di ruko. Untung ada Raihan yang membantu sepulang sekolah," tutur Bu Ratmi.
"Aku juga tidak menyangka Deya akan sesukses ini," kata Edward menatap istrinya bangga.
"Dia mempunyai usaha online yang maju bahkan kemarin katanya Pak Gubernur datang menyambangi standnya," ungkap Pak Seto lalu bercerita panjang lebar tentang usaha Deya. Edward sebenarnya tahu hanya saja pura-pura tidak tahu dan berusaha menanggapi cerita Ayah Deya dengan baik. Bu Ratmi sendiri menyiapkan makan malam untuk keluarga bersama Deya.
"Kita pesan sate saja, ya, ibu cuma goreng ikan sama masak sayur asem tadi."
"Terserah Ibu saja," ucap Deya membuat minuman untuk suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana tiba-tiba kau dan dia bersama?" akhirnya Bu Ratmi tidak tahan bertanya tentang masalah ini pada Deya.
"Mas sudah dua hari tidak terlihat, aku khawatir dan menengok nya. Ternyata benar, kami berbicara dan aku mengikuti saran Ibu untuk kembali lagi."
"Mengikuti saran Ibu atau kau memang merindukannya?" ledek Ibu Ratmi pada sangat anak.
"Ih, Ibu." Wajah Deya merona merah. Ibu Ratmi tertawa.
"Ibu senang kalian kembali karena kalian terlihat serasi. Lagipula Nak Edward juga terlihat sebagai pria bertanggung jawab yang sayang keluarga. Kau akan menyesal jika melepaskannya. Hanya saja Ibu khawatir juga masalah dulu akan terulang kembali."
"Bismillah, Bu. Kata Ayah asal saling menjaga dan mendukung semua bisa teratasi. Dulu aku tidak terlalu percaya pada diriku dan Mas Ed, tapi setelah mengenalnya dan melihat kesungguhan hati serta cintanya yang tidak luntur, aku yakin dengan pilihanku untuk tetap bersamanya."
"Ibu akan selalu mendukung apapun yang kau pilih."
Deya memeluk Ibunya. "Terimakasih, Bu, karena selalu ada untuk Deya setiap waktu."
Edward sendiri masih menatap ke arah Dafi yang duduk bersama dengan Pak Seto memainkan mobil-mobilan di tangannya. Sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Ayah Eto," panggil Dafi.
"Ini kakung, itu Ayah Dafi." Dafi menatap Edward lekat lantas melihat lagi pada Pak Seto.
"Kakung, Dafi mau susu," ucap anak itu.
"Oh ya, Ayah lupa membawa banyak makanan dan minuman. Ayah juga punya banyak mainan hanya saja lupa untuk membawa kemari."
"Mainan?" ulang Dafi semangat.
"Ya, ada satu masih di mobil. Namun, Ayah juga sudah menyiapkan satu kamar penuh mainan untukmu." Mendengar banyak mainan mata Dafi berkilat.
"Dafi sudah punya banyak, itu," tunjuk anak itu pada mainan yang berserakan di lantai dan satu kardus besar berisi mainan anak itu.
"Wah, kau benar. Itu sangat banyak sekali, ehm Ayah boleh lihat," kata Edward senang, anak itu mulai meresponnya.
"Boleh." Dafi mulai memperlihatkan mainannya. pada Edward. "Ini kereta api, Ibu membelikannya waktu Dafi ulang tahun kemarin. Bagus, kan. Ini mobil kecil warnanya kuning, Ayah Eto," Dafi melihat ke arah kakeknya,"eh, kakung beli untuk Dafi."
"De, tolong ambilkan jajan yang kita beli tadi di jalan."
"Ya, Tuhan kenapa aku juga lupa," kata Deya.
"Oh ya, kenapa tidak membawa Nak Zahra juga? Dia juga dari sini tadi."
"Kaka Ara," ulang Dafi. Deya dan Edward saling memandang.
"Zahra kemari?"
"Ya, setiap hari dia kemari, apa tidak pernah mengatakan apapun pada Nak Edward?"
__ADS_1
Edward menggelengkan kepala. "Dia tinggal bersama Mama dan Papa."
Dafi mengambil sekotak mainan tentara. Menyerahkan pada Edward, "Hadiah dari Kak Ara." Edward tersenyum senang dan lega. Zahra sepertinya telah menyayangi Dafi sebagai adiknya.