Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 30 Kulit Merah


__ADS_3

Deya dan Edward akhirnya berdua di lift. Rahang Edward berkedut dengan pupil mata yang semakin menggelap. Wajahnya mengeras seketika membuat Deya salah tingkah.


"Aku hanya berusaha menutupi hubungan kita," kata Deya memecah keheningan. Aura dalam ruang lift itu semakin dingin dan mencekam.


"Aku tidak atau lebih tepatnya belum siap jika ada yang tahu tentang hal ini. Aku menjaga nama baikmu sebagai pimpinan perusahaan."


Edward tetap diam hingga pintu lift terbuka. Berjalan terlebih dahulu meninggalkan Deya yang mengikuti di belakangnya.


Edward memang tidak mengiyakan jika dia adalah paman Deya, lebih memilih untuk diam. Hanya mengatakan jika mereka sudah terlambat bekerja. Deya lalu meminta maaf pada Angga karena meninggalkannya, mengikuti Edward.


Ini belum sebulan mereka bersama tetapi ada banyak masalah yang mulai timbul. Deya hanya tidak ingin timbul konflik yang besar. Hubungannya dengan Angga bisa putus dengan mudah tetapi jika keluarga Edward tahu tentang affair ini, mereka tidak akan menerimanya. Akan banyak teror yang dilayangkan, bukan hanya dirinya saja yang salahkan tetapi kedua orang tuanya juga akan dikaitkan dengan masalahnya.


"Kenapa?" tanya Katrina tanpa suara melihat bosnya membanting pintu ruangan. Deya hanya mengangkat bahu meletakkan tas di atas meja lalu duduk.


"Apa yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Deya.


"Buatkan kopi dulu untuk Pak Edward."


Deya menghela nafas. Dia lalu pergi ke pantry untuk membuatkan secangkir kopi.


Deya menatap ragu ketika akan mengetuk pintu ruangan Edward. Dia melirik ke arah Katrine yang sedang sibuk mengetik. Menatap kembali pintu yang terbuat dari kayu keras berwarna hitam. Deya menghela nafas mengumpulkan kekuatan agar bisa bersabar menghadapi kemarahan pria itu.


Dia mulai mengetuk. Tidak ada jawaban. Dua kali mengetuk tidak pula ada jawaban. Katrine menatapnya. Dia memberi kode agar langsung masuk saja. Deya meringis ini kali pertamanya membuat Edward marah. Kesalahannya dibilang parah juga tetapi situasi yang membuatnya melakukan hal itu.


Deya hendak mengetuk lagi ketika pintu ruangan dibuka oleh Edward. Deya hendak menawarkan kopi tetapi Edward melewatinya.


"Kat, aku ada pertemuan penting dengan Mr, Jhonson untuk meninjau langsung pengiriman barang kita. Jika Satria mencariku, suruh hubungi aku langsung saja karena setelah pertemuan ini aku akan pergi makan siang dengan Nyonya Patrick dari Singapura. Mereka meminta pengiriman batubara secepatnya padahal ekspor pertambangan sedang dikendalikan oleh pemerintah."


"Baik, Tuan."


"Pak, kopimu," tawar Deya penuh harap tetapi Edward melewati tanpa menatap ke arahnya. Hati Deya merasa sakit. Dia menatap kepergian Edward dengan wajah pias. Kembali ke tempat duduknya dengan bahu diturunkan.


"Kau akan dapat balasan setimpal karena berani melakukan itu padaku," geram Edward dalam hati ketika melihat Deya dari dalam pintu lift.


***


"Ya, Alloh, De, gue kangen banget ma elo. Kita satu gedung tapi nggak pernah ketemu sama sekali. Kok elo bisa dapat magang di lantai atas tempatnya Om Presiden direktur yang gantengnya anjay nggak ketulungan," ucap Raisa kalau bertemu dengan Deya di kantin perusahaan

__ADS_1


"Asli gue nggak tahu mau di tempat kan kemana ma pimpinan hanya mengikuti prosedur yang ada."


"Enak nggak kerja ma petinggi kantor?"


"Sama aja," jawab Deya. Tidak mungkin jika dia bercerita jika pekerjaan yang diberikan tergolong ringan. Dia hanya di suruh membantu membuat laporan atau mengetik sesuatu. Edward yang melarang Katrine membuatnya lelah atau sibuk bekerja. Itu tidak adil tetapi semua keputusan pria itu yang buat.


"Elo mau makan apa, De?" tanya Raisa.


"Gue soto aja sama teh hangat." Mereka mulai memesan makanan dan duduk di kursi.


"Kalau gue ketemu ma atasan yang super duper cerewet. Ada aja kesalahan di semua pekerjaan gue, kayaknya tu orang nggak seneng banget lihat gue duduk berleha ria. Selalu cari celah memberi kerjaan lebih. Untung ganteng jadi nggak gue cekek lehernya," tutur Raisa panjang lebar.


Deya tertawa. "Loe kasih kissing aja, nanti dia jadi lembek."


"Ish, dia kayak cowok dingin banget nggak pernah keliatan mlirik cewek. Kayak anti ma kita ini. Pa lagi ma cewek cantik dia milih minggir. Apa dia mikir kita yang cewek saingannya kali ya?"


"Jadi loe kira dia pelangi yang bertebaran di dunia pria?"


"Sepertinya. Dia seperti tak tersentuh walau ada." Raisa membayangkan pria yang dia bicarakan.


"Kok gue jadi penasaran siapa dia ya?"


Mereka lalu menyantap makanan yang mereka pesan.


"Tadi gue ketemu ma Angga. Dia sama nyokapnya kemari. Ternyata selain jualan di tanah abang, ayahnya Angga juga punya sedikit saham di perusahaan ini. Gile cuyyy, calon mertua loe orang kaya."


"Uhuk... uhuk...," Deya tersedak mendengarnya. Dia mengambil jus jeruk milik Raisa.


"Itu minuman gue," ujar Raisa.


"Ye lah pelit amat ma teman sendiri loe pesan lagi sana gue yang bayarin."


"Bukan gitu. Masalahnya banyak yang ngantri buat beli ini," tunjuk Raisa dengan matanya.


"Minta sedikit aja loe perhitungan kita kan bestie forever."


"Becanda."

__ADS_1


"Loe nggak kangen ma Angga?" tanya Raisa.


"Kangen," ucap Deya hambar karena sejatinya sudah ada yang mengisi hari-harinya sehingga tidak pernah teringat akan Angga.


"Kok loe nggak penasaran atau setidaknya kaget, ada Angga di sini."


"Gue dah ketemu Angga tadi di parkiran."


"Kenapa loe nggak cerita, diam aja dari tadi?"


Deya mengangkat bajunya.


"Kalian bertengkar?"


Deya menggeleng.


"Lalu?"


"Aku merasa seperti tidak ada masa depan dengan Angga. Orang tuanya sepertinya ingin menjodohkan Angga dan Nungki."


"Poor Deya. Kau harus membuktikan diri jika layak bersanding dengan Angga. Kalian itu pasangan serasi contoh pasangan yang langgeng diantara para mahasiswa fakultas kita."


"Jodoh kita tidak tahu, Sa." Deya mengaduk-aduk minumannya sambil melamun sedih. Satu tangannya mulai menyibak rambutnya ke belakang.


"De, ini apa?" tanya Raisa pada tanda merah tua di leher Deya. Wajah Deya pucat pasi, langsung menutup tanda merah di kulitnya.


"De, apa ini perbuatan Angga?" tanya Raisa penasaran.


"Wah, hubungan kalian sudah sedalam apa? Aku jadi penasaran."


"Kita kembali yuk, waktu istirahat sudah selesai nanti kau dimarahi oleh Mister Ice mu itu."


"Mister Ice," ulang Raisa lalu mengerti jika itu panggilan untuk atasannya yang dingin itu.


Deya berjalan cepat meninggalkan Raisa. "De, tunggu dong."


"Ayok cepat, aku juga takut Bu Katrine marah jika aku sampai telat ke ruangan." Deya bernafas lega karena bisa lolos dari pertanyaan Raisa.

__ADS_1


"Dasar Tuan Recehan, bikin tanda tidak tahu tempat mana aku nggak lihat tadi. Parah... parah... di mana dia? Masih marah nggak ya? Telepon dulu, nggak?" batin Deya bermonolog dalam hati.


__ADS_2