
Ketika melihat dia garis berwarna merah muda Edward langsung memeluk Deya dan mengangkatnya. Bagai sebuah oase di padang pasir. Edward merasa kehamilan Deya kali ini adalah berkah dari Tuhan setelah melalui banyak sekali masalah yang ada.
"Terimakasih, Sayang." Edward mengecup seluruh wajah Deya berkali-kali. Setelah puas lalu menatapnya dalam.
"Kenapa kau masih merasa sangat bahagia padahal ini anak ketiga mu? Bukan anak pertama yang membuatmu merasa wow karena menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya."
"Kenapa? Karena aku sangat mencintai. waktu kehamilan Dafi yang pertama kau tidak mengijinkan aku untuk berada di sampingmu. Aku merasa berhutang besar padamu karena itu."
"Hutang?" tanya Deya tidak mengerti.
"Hutang perhatian. Itu pasti tidak adil bagimu karena menghadapi kesulitan dalam kehamilan sendiri. Aku ingin membayarnya kali ini."
"Aku yang bersalah karena meninggalkanmu tidak percaya padamu. Maafkan aku," kata Deya menunduk.
"Jangan pernah ulangi lagi. Jika kau lakukan aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan hidup tanpamu atau tidak."
Deya memeluk pinggang Edward erat. Meletakkan kepala di tempat ternyaman, dada Edward.
Mereka lantas pergi keluar kamar. Turun ke lantai bawah dengan posisi Edward memegang tangan Deya erat, berjalan terlebih dahulu. Hal itu membuat wajah Soraya nampak tidak senang, tapi dia menyembunyikan dalam senyum palsu.
"Adek-adek sudah makan semua belum?" tanya Edward pada anak-anak panti. Dia tersenyum lebar dan hangat pada semua orang yang hadir di sana. Begitu juga dengan Deya. Soraya ikut mendekat ke arah Deya dan berdiri di sampingnya.
"Sudah," jawab anak-anak yatim itu serempak. Soraya mengabadikannya dalam Handphone. Secara mengejutkan, Deya mengambilnya.
"Ini acara keluarga bukan acara pansos. Jika ingin berbuat baik simpan bukan untuk dipublikasikan. Namun, jika kau ingin mempertontonkan sebuah cerita hidupmu jangan tentang keluarga ini. Kami sudah tenang hidup tanpa hingar-bingar pansos yang kau buat," bisik Deya.
"Aku hanya ingin menyimpannya sebagai kenangan. Hanya itu saja tidak lebih," lirih Soraya bagai orang yang lemah dan tertindas membuat hati Deya semakin geram.
"Simpan saja di hatimu. Edward dan keluarga ini hanya masa lalumu akui saja kesalahanmu." Soraya menatap wajah Deya yang ramah dan manis di depan semua orang. Dia tidak menyangka Deya yang dulu begitu lugu dan mudah diperdaya kini telah berubah menjadi harimau betina yang menahan kemarahannya.
"Oh, aku tahu kau belum mau menyerah lalu mencuri kesempatan ini untuk terus mendekati Edward. Jangan harap karena aku yang ada di depan. Terus terang aku sudah muak dengan semua sandiwaramu itu," ucap terang dengan lirih Deya sambil memeluk Soraya dan tersenyum pada semua orang. Mereka yang melihat merasa bahwa istri dan mantan istri Edward terlihat akur dan bahagia. Nyatanya masih ada persaingan yang terselubung dan peperangan dalam batin yang terjadi pada keduanya.
__ADS_1
"Kau salah sangka, De, sungguh aku hanya ingin dekat dengan Zahra dan menjaga tali silaturahmi dengan keluarga Edward."
Deya menghela nafas. "Tidak perlu cari muka dengan melakukan hal ini. Sudahlah aku lelah. Hmm aku punya kejutan untukmu. Nanti ya kami akan mengumumkannya setelah ini." Deya tersenyum meledek. Berjalan mendekati Edward, memeluk lengan pria itu mesra dan melirik pada Soraya, setengah mengejek. Seakan dia berkata jika Edward adalah miliknya.
"Zahra kemari, Nak," panggil Edward. Zahra lantas berada di tengah Deya dan Edward.
"Sayang masih kurang Dafi di sini," ujar Edward.
"Kata Ibu akan dibawa kemari besok," kata Deya.
"Aku sudah rindu sekali dengan anak itu. Seminggu kita tidak bertemu."
"Dafi bahagia kok kalau bersama Uti dan Kakungnya."
Edward kembali melihat ke arah anak-anak panti dan semua orang yang ada dalam ruangan. Dia menghela nafas.
"Zahra, Ayah memberi tugas lebih padamu mulai sekarang."
"Ini tugas berat karena bebanmu akan bertambah." Zahra nampak bingung melihat ke arah Ayahnya.
"Kau akan punya adik lagi. Bunda sedang hamil. Jadi kau mulai sekarang harus sering membantu Bunda mengurus Dafi serta jaga Bunda biar tidak terlalu lelah bekerja."
Zahra membuka mulut lebar dan tersenyum, memeluk Deya.
"Wah, jadi ramai dong. Tadinya aku sendiri lalu ada Dafi kini tambah satu adek lagi. Pasti ramai."
"Jangan suka meledek Dafi lagi," kata Deya menyentil hidung Zahra. Anak itu mengerutkan hidungnya menatap Ibu sambungnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Bunda ku yang cerewet." Zahra mencium pipi Deya. Soraya yang melihat memalingkan wajah ke samping.
"Menantu keluarga Xavier hamil lagi?" tanya Papa Adam tiba-tiba yang baru masuk ke ruangan dengan mendorong Mama Claudia.
__ADS_1
"Hmm kedatangan kalian memang membawa berkah. Nanti aku akan memberikan sumbangan bagi pembangunan panti."
"Terimakasih, Pak Adam. Kami juga berterima kasih karena diterima dengan baik oleh keluarga Bapak," ucap Pengasuh Panti asuhan.
"Ini ada rejeki sedikit yang akan kami bagikan untuk adik-adik," kata Deya yang memperlihatkan banyak amplop berisi uang di tangannya.
Anak panti saling memandang karena mereka telah diberi satu tas berisi hadiah dan uang dari Soraya. Deya lalu mulai membagikan uang itu kepada semua anak panti satu persatu dan khusus kepada Ibu Panti amplop lebih tebal.
"Ini untuk Ibu. Bisa untuk menambah uang belanja untuk ke depannya."
"Terima kasih Bu. Semoga kehamilannya kami ini Ibu dan calon adek bayi senantiasa diberi kesehatan dan selamat hingga melahirkan nanti."
"Amiin," ucap mereka serempak.
Setelah acara selesai para penghuni panti berpamitan pulang, begitu juga dengan Soraya serta Ibunya.
"Aya, besok jika ingin kemari, aku harap kau hubungi Deya terlebih dahulu karena dia yang mengurus Zahra dan rumah ini."
Soraya tertegun. "Atau kalau ingin bertemu Zahra biar Pak sopir yang mengantar."
Wajah Soraya memucat seketika.
"Maaf, tapi aku hanya menjaga perasaan semua orang karena kita sudah berpisah tidak baik jika masih terlihat selalu bersama. Aku juga punya Deya yang harus aku jaga perasaannya. Bukan Deya melarang kau bertemu dengan Zahra atau bertemu dengan keluarga ini. Lebih kepada kau harus meminta ijin padanya," ucap tegas Edward.
Soraya tersenyum kaku dan kecut. "Aku mengerti. Maaf jika kedatanganku mengganggu kalian. Aku permisi pulang." Soraya lantas pergi masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya dari tadi.
Deya menyandarkan kepala di lengan Edward, pria itu mengusap lengan Deya lembut.
"Apa yang kau lakukan benar, Nak. Kau harus punya batasan untuk orang luar masuk ke rumah ini." Papa Adam menepuk lengan Adam.
Sedangkan Mama Claudia tersenyum samar dan tidak terlihat. Sayang dia tidak bisa mengatakan semua yang ada di pikirannya.
__ADS_1