Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 133 Jangan pergi Bunda.


__ADS_3

"Zahra!" panggil Papa Paris. Edward menegakkan tubuhnya.


Zahra menoleh ke sumber suara. Kakeknya dari Ibu datang mendekat. Dia memeluk Zahra.


Zahra nampak kebingungan.


"Apakah dia sudah tahu?" tanya Paris dengan suara parau.


Edward melihat ke arah lain dengan wajah yang mengeras.


"Memang ada apa Kakek? Apa Ibu juga ada di sini?" tanya Zahra.


Ibu Soraya memeluk suaminya dengan erat dan menyeka air matanya. Paris berjongkok dan menatap ke arah Zahra.


"Ibu Soraya dan Bunda itu dalam satu mobil."


Waktu terasa berhenti berputar bagi Zahra. Dia melihat ke arah Ayahnya. Mencari sebuah jawaban. Edward nampak mengusap sudut matanya. Sambil mengambil nafas dalam. Dadanya terasa sesak dan berat.

__ADS_1


Bagaimanapun sudah bertahun-tahun dia hidup dengan Aya, sulit baginya membenci Soraya sepenuh hati karena ada saat terbaik yang pernah mereka lewati bersama. Walau dia saat ini kecewa dan marah, tetapi melihat Zahra dia merasa lemah. Tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini pada anak itu.


"Apa yang Kakekmu katakan itu benar," ucap Edward dengan suara tercekat. Nafasnya terdengar berat.


Untuk sesaat dia terdiam memikirkan kata yang tepat. Sedangkan Zahra menantikan suatu hal buruk yang terlintas dipikirannya.


"Tuhan sangat mencintai ibumu sehingga harus diambil terlebih dahulu." Akhirnya ucapan itu meluncur dari bibir **** Edward.


Zahra mundur beberapa langkah. Walau dia sempat menduganya tetapi ini juga menjadi pukulan berat baginya. Beberapa waktu ini hubungan mereka sedikit membaik. Ibunya terlihat sangat mencintainya, tidak menduga akan terjadi ini.


Tiga hari kemudian


Zahra duduk di sebelah ranjang dimana Deya terbaring lemah. Mulutnya tertutup oleh alat bantu pernafasan sedangkan beberapa kabel, selang dan alat penunjang kehidupan lainnya terpasang di tubuhnya.


Zahra memegang tangan satu tangan Deya dengan erat.


"Apa Bunda juga mau meninggalkan aku seperti ibu? Apa Bunda akan membenciku karena Ibuku yang menyebabkan Bunda seperti ini? Jadi Bunda tidak ingin bangun? Jawab aku Bunda?"

__ADS_1


Kepala Zahra di letakkan di tempat tidur dan terisak. Dia lantas melihat wajah Deya dan mengusapnya pelan.


"Bunda yang mengajariku cinta, bahagia, tertawa dan berbagi sayang. Bunda memberikan aku seorang adik yang lucu seperti Dafi walau kadang menyebalkan karena suka menangis. Bunda juga menemaniku setiap saat, mengantar jemput ku sekolah dan mengurus ku seperti anak Bunda sendiri."


"Kini setelah aku terbiasa dengan kehadiran Bunda, apakah Bunda juga akan ikut pergi Ibu meninggalkan aku? Zahra mohon, jangan ikuti anjuran Tuhan untuk pergi meninggalkan Zahra, walau Tuhan mengatakan itu dilakukan karena cinta dan ingin Bunda ada sisinya."


"Zahra masih butuh Bunda di sini. Dafi juga.... Ayah... Bunda bangun dan lihat Ayah hanya bisa termenung dan menangis setiap saat menatap Bunda. Jangan seperti ini, bilang pada Tuhan jika Bunda masih ingin bersama kami agar nanti kita bisa bersama lagi."


Suasana hening seketika hanya isak Zahra saja yang terdengar.


Setitik air mata keluar dari sudut mata Deya dan mengalir hingga ke rambutnya.


"Pulang, Bunda, Zahra rindu, rindu pelukan Bunda. Zahra mohon...," ungkap Zahra dengan suara bergetar.


Edward yang mendengar dari balik pintu yang terbuka sedikit merasa perih. Dia tidak menyangka anaknya sangat menyayangi Deya. Dia terpukul ketika ibu kandungnya meninggal, tetapi kedatangan Zahra setiap hari ke rumah sakit menandakan bahwa dia lebih sedih melihat Deya terbaring lemah di sana


Di pemakaman Soraya Zahra tidak menangis. Entah mengapa Edward tidak tahu, mungkin karena dia tahu kejadian aslinya dari berita di media televisi atau internet.

__ADS_1


__ADS_2