Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 80


__ADS_3

Edward yang baru saja datang ke rumah terlihat emosi. Dia mengepalkan tangan, wajahnya tegang dan mengeras, kulit putihnya kini terlihat memerah. Dia berjalan terus tanpa menghiraukan sapaan para pelayan termasuk dari Mr. Lee.


Edward langsung pergi menuju kamar Soraya. Membukanya dengan keras sehingga pintu terbanting ke dalam.


"Ed?" gumam Soraya dengan wajah sedih.


"Ayah!" panggil Zahra. Mereka sedang berbaring setelah menangis bersama. Sebenarnya hanya Zahra saja yang menangis karena Soraya menambah luka Zahra saja dengan dramanya.


"Dimana Deya?" tanya Edward.


"Jadi kau kemari hanya untuk bertanya tentang perempuan itu?" tanya Soraya menyeka air matanya. Zahra semakin memeluk dalam ibunya.


"Ayah keterlaluan tidak pernah ingat kami lagi. Hanya dia... dia terus," imbuh Zahra penuh emosi.


"Bukan maksud Ayah seperti itu hanya saja...," Edward menatap ke arah Soraya.


"Tadi Kak Deya marah-marah pada Ibu. Ibu meminta maaf tetapi Kak Deya tidak mendengarkan bahkan ibu sampai berlutut di kaki Kak Deya tetapi dia tidak mau mendengarkan malah pergi."


"Deya sudah pergi?" tanya Edward membuat Zahra semakin kesal.


"Ya, dia sudah pergi apa ayah mau ikut pergi juga? Silahkan. Lupakan ada aku dan ibu di sini yang menunggu kedatangan Ayah."


Edward terdiam menatap Zahra. Mengapa anak ini bisa se frontal itu padanya. Biasanya selalu lembut dan menurut padanya.


"Apa kau meracuni anak kita?" tanya Edward pada Soraya.


"Apa maksudmu?" tanya Soraya. "Kau tega sekali menuduhku seperti itu."


"Kau itu...." Edward berdecak sambil menggelengkan kepala. Jika Zahra sampai melihat pertengkaran mereka itu tidak baik bagi kesehatan psikisnya.


Edward mendekat ke arah Zahra yang nampak terluka. Memegang kepala dan mencium kening anak itu dengan lembut.


"Ayah ingin bicara dengan ibumu."


Zahra menatap ke arah ibunya. Nampak bingung.


"Mr Lee cepat bawa Zahra pergi dari kamar ini. Aku ingin berbicara berdua saja dengan Soraya."


"Ayah?"

__ADS_1


"Zahra, ku mohon kali ini saja. Menurut pada Ayah. Ini untuk kebaikanmu, kebaikan keluarga kita."


Dengan langkah berat Zahra pergi keluar bersama dengan Mr. Lee.


"Tutup pintunya," perintah Edward. Mr Lee mengikuti semua perintah Tuan Edward. Lamat-lamat dia masih mendengar Zahra mengatakan sesuatu.


"Apa yang akan Ayah lakukan pada Ibu, Mr Lee?"


"Berdoa saja semoga semua akan membaik."


Lalu langkah kaki menjauh dari kamar itu. Edward lantas menatap tajam Soraya.


"Apa yang terjadi tadi?"


"Tidak terjadi apapun."


"Tidak? Kenapa rasanya aku tidak percaya yang kau katakan?"


"Tidak ada pertengkaran seperti yang kau harapkan. Dia pergi setelah diusir oleh Zahra." Soraya menyeka air matanya.


"Itulah yang ingin aku tanyakan. Kenapa bisa Zahra sampai bisa membenciku dan Deya?"


"Aku tidak tahu mungkin karena kau mengabaikannya."


"Masalah yang kubuat, semua itu salahmu? Kenapa kau jadi menyalahkan aku?"


"Aku kira kau tahu apa maksudku, Aya. Kau membuat kisruh perusahaan. Kau membuat orang tuamu menarik saham dari perusahaan ku dan menimbulkan goncangan di dalamnya.


" Kau juga membuat opini publik jika Deya adalah pelakor yang harus dibasmi. Kau menyewa beberapa komunitas untuk membuatnya seperti itu. Kau juga yang mengerahkan orang-orang untuk menyerang keluarga Deya dengan dalih kebencian masyarakat. Jadi tidak usah sok terlihat sebagai korban karena nyatanya kau adalah pemain di dalam cerita kita ini."


"Jika kau hanya menyeret aku dan Deya saja itu tidak masalah tetapi kau juga memasukkan keluarga Deya ke dalamnya. Membuat cerita seolah kau adalah korban dari hubungan kami. Sekarang kau menyeret Zahra dalam masalah ini."


"Aku tidak melakukannya, dia sendiri yang menderita karena kelakuan ayahnya yang lebih memilih tinggal bersama simpanannya daripada menemani putrinya.


"Doktrin itu pula yang coba kau tanamkan pada Zahra. Kau ingin dia membenci aku, Ayahnya! "


"Sama sekali tidak. Aku hanya ingin kau kembali lagi ke rumah ini seperti dulu."


"Tidak ada yang bisa sama, Aya!"

__ADS_1


"Setidaknya kau bisa memberi kesempatan kedua padaku untuk memulai dari awal."


"Maaf Aya aku telah banyak memberi kesempatan padamu namun kau membuang semua kesempatan itu."


"Apa bagusnya Deya di matamu hingga kau begitu membelanya? Yang tidak ku miliki? Apa karena dia lebih muda?"


Edward tertawa hambar.


"Berkacalah Soraya. Deya memang tidak sesempurna dirimu dalam bentuk fisik namun dia juga wanita jelek, dia cantik apa adanya tanpa operasi atau polesan. Yang istimewa darinya adalah yang tidak pernah kau lakukan. Melayani dan merawatku dari ujung kaki hingga rambut dengan tangannya sendiri. Tanpa bantuan orang lain. Sehingga aku merasa hanya butuh dia di dunia ini."


Nampak raut wajah kecewa dari Soraya.


"Kau kejam Ed?"


"Aku hanya mengatakan apa adanya Soraya. Menyadarkan mu jika kau tidak sesempurna yang kau pikirkan. Suami butuh wanita untuk selalu berada di sisinya bukan wanita yang selalu sibuk dengan tournya atau grup sosialita yang kau miliki."


"Dia tidak sempurna tetapi berusaha untuk mengiringi setiap langkahku. Dia selalu ada untukku."


"Diam Ed? Jangan kau bicarakan lagi tentang wanita keparat itu!" teriak Soraya geram.


"Kenapa? Aku bicara soal kenyataan hal yang tidak ingin kau dengar."


"Ed, aku mencintaimu jangan tinggalkan aku," pinta Soraya menggenggam baju Edward


"Jika kau cinta, kau tidak akan mendua."


"Tapi kau juga telah mendua, tidak bisakah kau memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan kita. Aku rela kau menikah lagi dengannya," ucap Soraya.


"Kau mengatakan hal itu juga pada Deya, nyatanya kau malah menyerangnya dengan apik dan terstruktur rapi. Bagaimana ku bisa kembali mempercayai dirimu?"


"Ed, Kumohon!" teriak Soraya menambah kencang tarikan nya hingga beberapa kancing baju Edward tertarik dan lepas.


Edward melepaskan tangan Soraya dari pergelangan tangannya dan melemparkan tubuh Soraya ke tempat tidur.


"Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kau hidup berbahagia dengannya, Ed. Kau hanya milikku," ucap Soraya mulai menggila.


"Aku punya hati yang tidak bisa dipaksakan Aya," ucap Edward.


"Kalau begitu lebih baik aku mati saja dari pada kehilanganmu! Ya, lebih baik kau mati saja bersamaku agar tidak ada lagi wanita lain diantara kita. Selamanya kau milikku dan aku milikmu," ucap Soraya melemparkan lampu duduk di meja ke arah Edward. Untung Edward bisa menepisnya. Dia lantas mengambil pisau dari dalam laci. Melukai pergelangan tangannya dengan cepat setelah itu mengarahkan pisau tepat ke jantung Edward. Edward menekuk tangan Soraya dan memegang pisau itu.

__ADS_1


Di saat itu Zahra melihat ayahnya memegang pisau dan darah ibunya keluar dari tangan dan mengalir deras. Zahra terpaku, lalu pingsan.


Di saat yang sama Soraya juga hilang kesadaran.


__ADS_2