
Tiga tahun kemudian
Edward menatap kosong ke depan. Berdiri sendiri di jendela kamar condonium miliknya. Tempat dimana dia melepaskan rindu pada Deya. Hanya di sini kenangan tentang Deya masih tersimpan indah.
Tidak ada yang berubah dari tempat ini. Seprai, korden, semua barang-barang yang ada di rumah ini masih ada di tempatnya tidak bergeser sedikitpun. Edward tidak ada yang ingin berubah dari semua hal berbau tentang Deya. Bahkan aroma Deya yang suka bau-bauan buah masih terasa jelas di setiap ruangan yang ada dua rumah ini.
Di luar jendela kaca yang besar terlihat petir saling menyambar di langit yang gelap, berwarna abu-abu meneteskan hujan deras, terbawa angin yang berputar menjadi badai.
Edward memejamkan matanya, tak terasa setetes buliran bening itu turun begitu saja di saat dia mengingat seseorang yang kini tinggal jauh darinya.
Seseorang yang selalu ada di sampingnya setiap hari. Walau sebentar, namun itu terasa berharga untuknya. Saat paling indah yang pernah dia alami sepanjang hidupnya kini hanya menjadi kenangan saja.
Deya tempat ternyaman ketika dia lelah dan lemah. Membuatnya tersenyum kembali dengan keceriaan yang dia buat.
Edward menghela nafasnya yang terasa berat. Menggenggam sebuah cincin nikah yang sedianya dia berikan untuk wanita itu ketika dia ingin meresmikan hubungan mereka secara sah di mata negara.
"Kenapa kau tidak mau bersabar sebentar saja." Hati Edward tercabik kala mengingat terakhir kalinya dia melihat Deya.
Dia sudah merasa ada yang aneh dengan Deya namun dia abaikan. Andai saja dia lebih peka maka dia wanita itu tidak akan pergi darinya.
Ingin dia memutar waktu, melewati saat terakhir mereka bersama. Merasakan kehangatan tubuh Deya yang dia rindukan. Namun, tidak mungkin terjadi. Dia harus menerima keputusan Deya walau ini terasa berat untuknya.
Edward berjalan ke tempat tidur. Berbaring dan menghirup aroma dari seprai. Membayangkan kejadian tiga tahun lalu. Saat mereka berbaring saling berpelukan, bercerita tentang tempat yang ingin Deya kunjungi.
"Aku akan membawamu ke tempat yang kau inginkan tinggal katakan saja."
"Karena itu kau harus jadi pria hebat yang uangnya tidak terbatas agar bisa membawakan ku kemana saja termasuk pergi ke bulan," seloroh Deya bergurau.
"Aku bukan hanya ingin membawamu ke bulan bahkan ke surga. Aku ingin menjadikanmu yang terakhir untukku selamanya agar kita bisa bersama di dunia dan akhirat."
"Amiin. Kalau kita jodoh, kita tidak akan terpisahkan," ucap Deya yakin.
"Aku yakin kau adalah jodohku. Kalau tidak kita tidak akan menikah."
__ADS_1
"Kau juga menikah dengan Mbak Aya, itu artinya kau jodohnya."
"Sudah kukatakan aku tidak ingin meneruskan pernikahan itu dengannya. Aku hanya ingin dirimu."
"Bertahan dan jalani saja dulu, demi Zahra. Aku tidak ingin melihatnya terluka lebih dalam lagi."
"Kenapa aku punya istri sebaik dirimu."
"Karena kau juga baik. Katanya pria baik akan menikahi wanita baik pula. Jika kau pikir aku baik maka itu karena kau juga baik."
"Istriku sangat pandai dan solekhah."
"Suamiku sangat menggemaskan dan menyebalkan."
"Lho kok?"
"Hmmm, jika ingin sesuatu tidak bisa menahannya."
"Ingin apa?" tanya Edward, menggelitik tubuh Deya.
Hingga Edward terbangun keesokan harinya. Melihat ke sekitar yang kosong. Dia lantas mencari sosok Deya yang biasanya ada di dapur. Namun, dia tidak mencium aroma kopi atau masakan yang biasanya ada.
Edward berjalan, menuruni tangga. Instingnya mengatakan ada yang tidak benar di sini. Lampu setiap ruangan masih menyala dan jendela kaca belum ada yang terbuka. Edward membalikkan tubuh melihat langsung ke arah dapur. Tidak ada Deya.
Deg! Rasa takut mulai timbul. Netranya melihat ke sekeliling ruangan.
"Deya, kau dimana? Jangan membuatku takut." Edward berteriak memanggil nama Deya berkali-kali mencari ke setiap sudut rumah.
Perkataan Deya semalam yang mengatakan kata pisah tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Apalagi ketika dia mengingat ucapan Ayah Deya yang mengatakan akan menjaga Deya sampai kapanpun.
Netra Edward tertuju pada handphone miliknya yang ada di atas meja ruang tamu. Dia menyalakannya dan melihat ada beberapa chat dari Deya yang mulai dia baca.
'Assalamualaikum.'
__ADS_1
'Mas, maaf. Aku tidak bisa pamitan secara langsung denganmu. Bukan karena aku tidak sayang tetapi aku tidak sanggup.'
'Maafkan semua kesalahanku baik yang disengaja atau tidak disengaja. Maafkan aku pula yang telah membuat hubunganmu dengan Zahra menjadi pecah. Aku pergi bukan karena aku tidak menyayangimu tetapi aku ingin kehidupanmu membaik seperti sebelumnya.'
'Jangan mencariku karena walau kau temukan aku, aku tidak ingin kembali karena satu alasan. Ini tidak mudah bagiku dan dirimu tapi ini harus ku lakukan karena aku sendiri ingin menemukan kedamaian serta ketenangan untukku dan keluargaku.'
'Aku harap kau mengerti.'
'Sungguh berat bagiku untuk meninggalkanku dan aku tahu pasti berat pula bagimu. Namun, ini semua demi kebaikan kita.'
'Seperti kataku tadi malam jika aku memang tercipta untukmu kita pasti akan bersama lagi. Namun jika tidak, relakan aku hidup bahagia dengan pilihanku sendiri.'
'Salam sayang dariku. Kenanganmu akan selalu tersimpan erat dalam hatiku. Cintamu akan selalu kubawa dan kujaga.'
'Wa'alaikum salam. Selamat tinggal, Mas. Cobalah untuk hidup bahagia tanpa ku.'
'Oh ya satu lagi. Aku ambil semua uang darimu tetapi aku berikan sertifikat rumah keluargaku sebagai gantinya. Aku tidak ingin disebut sebagai wanita yang ingin uang darimu walau awalnya begitu. Namun cintamu yang besar menyadarkanku bahwa uang itu tidak lebih berharga dibandingkan dirimu.'
"Tidak, Deya jangan lakukan ini," ucap Edward dengan perasaan tidak karuan. Tangannya gemetar melakukan panggilan pada Deya namun handphone wanita itu berbunyi dari arah kamar. Edward langsung naik ke atas. Di sana dia menemukan handphone Deya ada di dalam laci beserta sertifikat rumahnya.
"Akh!" raung Edward keras, seperti singa yang kesakitan. Menarik rambutnya ke belakang.
Kenangan kejadian tiga tahun lalu berkelebat terus dalam ingatannya, tidak bisa dia hapus walau sejenak. Dia sangat merindukan Deya dan menginginkan dia kembali. Merajut hari indah dengannya. Bahagianya jika ada Deya Deya yang ada di sampingnya. Jujur sampai saat ini dia tidak bisa merelakan kepergian Deya. Masih terus mencari dalam diam. Dia tidak ingin cintanya usai sampai di sini.
Menanti dia untuk kembali. Berharap suatu saat mereka akan bersama lagi .
Edward sudah mencari Deya ke Bali karena itu hal yang dia dengar terakhir kali mereka berbicara. Deya ingin pergi ke sana. Namun, pencariannya belum menemui hasil.
Edward mendesah.
"Jika kau masih sendiri dan kutemukan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tetapi jika kau sudah menikah dengan pria lain, aku akan melepaskanmu. Karena bagiku, bahagiamu adalah hal penting bagiku."
***
__ADS_1
Sorry... sorry bagi kalian yang tidak ingin Ed dan Deya berpisah tetapi ini sesuai skenario yang othor tulis untuk editor. Skenario, kok... ha... ha... cerita atau alurnya. Doakan Deya secepatnya ketemu lagi dengan Edward ya....
Masukkan favorit dan beri like serta komentar. Sayang kalian semuanya.