Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 89


__ADS_3

Royhan mengikuti langkah kaki Angga yang sedang menggendong Dafi menuju ke gerai toko terbaru milik Angga di sebuah mall. Hari ini adalah hari pembukaan toko tersebut. Sebenarnya Angga berharap Deya datang tapi kata wanita itu dia ingin merapikan rumahnya terlebih dahulu. Selain itu, Deya juga belum percaya diri memperlihatkan wajahnya di depan semua orang. Dia masih takut dan trauma akibat hujatan yang dilakukan para netizen seluruh negeri ini karena menganggapnya sebagai perusak rumah tangga orang.


"Kau terlambat," ujar ibu Angga.


"Aku harus menunggu Deya menyiapkan Dafi terlebih dahulu." Ibu Angga menyentuh gemas pipi Dafi dan menciumnya


"Mana Deyanya?"


"Dia baru saja pulang dari berbelanja furnitur dan keperluan rumahnya."


"Ck, padahal Ibu sudah berharap dia mau datang."


"Ya, sudah kita mulai saja acara potong pitanya."


"Roy, titip Dafi sebentar dulu ya," kata Ibu Angga lembut.


"Iya Tante, Dafi aman di tanganku."


"Biar Dafi aku gendong saja, Bu, Aku sudah janji akan menjaga Dafi dengan baik," ucap Angga.


"Terserah kamu saja, asal dia nyaman dan senang."


Ketika Dafi diajak masuk ke kerumunan orang-orang, anak itu menangis keras sehingga Royhan membawanya jauh dari keramaian. Dafi memang tidak suka dengan suasana bising dan ramai karena dia biasa tinggal di tempat yang tenang dan hanya berinteraksi dengan orang-orang itu saja. Keluarga Pak Seto serta 10 karyawan Deya.


Royhan membawa Dafi ke gerai makanan yang tidak jauh dari toko milik Angga. Memesan es krim. Mereka lalu duduk di salah satu meja makan yang tersedia.


"Jangan bilang Ibu jika Om membelikan es krim ya," ujar Royhan. Dafi menganggukkan kepala. Mulutnya belepotan es krim. Royhan mengelap nya dengan tissue.


"Om, itu apa?" tanya Dafi melihat orang memakai kostum superhero.


"Itu robot, pahlawan bangsa."


"Yang melawan musuh? Baik apa jahat?"


"Kalau melawan musuh ya robot baik. Coba Dafi kasih tahu Om, warna robot itu apa?"


"Bilu," jawab Dafi.


"Kok bilu sih, itu kuning," ujar Royhan.


"Kalau itu apa?" tunjuk Dafi pada gerobak es krim.


"Itu merah."


Royhan mengacak kepala Dafi dengan gemas. "Itu benar, kau memang benar-benar pintar."


"Roy," panggil seorang perempuan dari arah samping membuat Roy menoleh dan matanya membelalak lebar. Dia menelan salivanya dengan sulit.


"Zah-ra, kau ada di sini, dengan siapa?" Roy melihat ke sekitar.


"Sendiri hanya dengan Pak Sopir." Zahra menunjuk pada seorang pria tinggi besar dengan wajah serius yang berdiri tidak jauh dari nya. Mantan sopir kak Deya dulu.


"Maaf, ya aku sudah selesai mau pulang dulu, sedang di tunggu oleh Kak Angga."

__ADS_1


"Eh, kok cepat-cepat. Kita belum bicara."


"Maaf, aku harus pergi nanti dicari oleh seseorang." Royhan menoleh ke arah Dafi. "Dafi, kita pergi dulu yuk, nanti dicari ma Om Angga."


Zahra melihat takjub pada Dafi yang masih asik memakan es krim nya yang baru separuh termakan. Wajah Dafi seperti tidak asing.


"Eh, dia adikmu lagi?" tanya Zahra pada Royhan. Royhan takut jika Zahra tahu siapa Dafi sebenarnya. Dia bingung menjawab apa.


"Aku anak Ayah Eto," jawab Dafi yang sering mendengar orang-orang memanggil Pak Seto dengan Ayah Seto.


Royhan langsung mengangkat Dafi. "Maaf Ra, aku harus pergi." Zahra ingin memanggil namun tertahan.


"Eh, ice ceam Afi...," rengek Afi menatap ke arah Ice creamnya.


Zahra menatap ke arah Dafi hingga jauh.


"Bukankah itu keluarga Nyonya Deya, Non?"


"Iya."


Sopir tersebut langsung mengambil handphonenya. Namun, Zahra mengambil handphone milik Sopir.


"Kita ikuti saja mereka, biar tahu di mana rumah Kak Deya." Zahra mengikuti kemana Royhan pergi.


"Nona tidak marah pada Nyonya?"


"Aku rindu dengan Kak Deya." Sopir itu menaikkan satu alis mengikuti langkah kaki majikannya.


Tiga tahun yang lalu. Setelah Deya pergi dari hunian apartemen miliknya.


Deya mendatangi tempat dimana Zahra dirawat. Dengan langkah tegas dia masuk ie dalam.


"Selamat pagi," sapa Deya tersenyum lebar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Pagi juga," jawab Mama Claudia mendekat ke arah Deya dan memeluk.


"Pagi sekali kau datang?" tanya Mana Claudia.


"Biar tidak tertabrak kemacetan jalan raya."


"Hallo, Zahra?" Deya mendekat ke arah Zahra namun anak itu memalingkan wajah penuh kebencian. Hal itu, membuat Deya sedih karena dia sempat dekat dengan anak itu.


Deya meminta waktu pada Mama Claudia untuk bicara dengan Zahra. Mama Claudia mengerti.


"Zahra, Oma pergi keluar dulu ya, mau beli buah-buahan." Zahra nampak keberatan tapi tidak mengatakan apapun.


"Deya titip Zahra sebentar ya, Mama mau keluar. Oh ya, tolong suapin Zahra juga." Mama Claudia menyerahkan baki berisi makan pagi untuk Zahra pada Deya.


Deya mengangguk, lalu menatap kepergian mertuanya. Dia duduk di sebelah Zahra yang masih enggan menatapnya. Deya seperti tidak peduli dengan sikap Zahra yang terang-terangan memusuhinya kini.


"Zahra masih marah pada Kak Deya?" tanya lembut Deya, menyendokkan makanan lalu di berikan pada Zahra. Zahra tidak merespon.


"Marah boleh, tapi jangan menyakiti diri sendiri. Kalau sakit Zahra sendiri yang merasa tidak enak badan."

__ADS_1


"Aku benci Kakak!" timpal Zahra.


Deya tersenyum sinis. Menghela nafas.


"Wajar kok. Namun, Kakak sayang pada Zahra."


"Bohong. Itu cuma cara kakak yang ingin merebut Ayah dari Zahra," curah hati Zahra melihat ke arah Deya.


"Kata siapa? Kakak yakin bukan Zahra yang berpikir seperti itu pada Kakak. Namun, apapun itu yakinlah Kakak menyayangi Zahra."


"Kalau begitu kembalikan Ayah pada Zahra," kata gadis itu mulai parau.


"Kakak tidak pernah mengambil Ayah dari Zahra. Buktinya, Ayah menunggumu di sini sampai berhari-hari."


"Tadi malam Ayah pergi, pasti ke rumah kakak kan?"


"Ayah lelah ingin beristirahat sebentar nanti juga datang lagi kemari."


"Kakak sudah punya keluarga yang saling menyayangi kenapa harus ambil Ayah? Zahra hanya punya Ayah dan Ibu, itupun selalu bertengkar."


"Sebenarnya kalau Zahra mau, Zahra bisa tinggal dengan Kakak dan Ayah, tetapi Ibu Zahra juga butuh Zahra. Kakak tidak mau egois, Kakak ingin Zahra bisa bahagia hidup bersama dengan Ibu Zahra. Bukankah itu yang Zahra inginkan dulu?"


"Tapi Zahra ingin bersama Ayah dan Ibu, mereka tinggal bersama dan bahagia."


"Kakak tidak bisa memaksa Ayah untuk tinggal bersama dengan kalian."


"Kenapa? Kata Ibu, Kakak ingin menguasai Ayah. Ayah akan lupa pada Zahra kalau Ayah punya anak lagi dari Kakak."


Sesaat Deya terkejut dengan kejujuran Zahra. Berarti pikirannya memang benar jika Zahra terhasut dengan ucapan Soraya. Deya tersenyum kecut.


"Kakak tidak ingin menguasai Ayah, jika Zahra mengijinkan Kakak ingin kita bisa bersama dengan damai. Namun, sepertinya tidak bisa."


"Apa Kakak mau mengambil Ayah?" tanya Zahra ketakutan. Deya meletakkan baki berisi nasi itu ke atas nakas.


"Dengarkan Kakak. Dari awal Kakak tidak pernah ingin merebut Ayah Zahra. Ketika kita bersama dulu tanpa Ibumu, apakah Kakak pernah mencoba merebut perhatian atau waktu Ayah ketika kalian bersama?"


Zahra menggeleng. Dia mengatup bibirnya rapat seperti ingin menangis.


"Zahra yang Kakak kenal dulu baik, bukan Zahra yang murung dan pemarah. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Coba tanyakan pada Zahra sendiri. " Zahra ingin menyela. "Eits sekarang Zahra belum mengerti tetapi nanti ketika waktu berlalu, Zahra akan tahu mengapa Zahra yang riang ketika bersama Kakak menjadi seperti ini."


"Apa yang Zahra lihat terkadang tidak sepenuhnya benar, " melihat ke atas, "sudahlah." Deya menghela nafas mengatasi rasa sesak di dada karena berat baginya melakukan ini.


"Kakak kemari hanya ingin pamit pada Zahra, ingin pergi dari kehidupan kalian. Kakak melakukan ini karena ingin melihat Zahra bahagia lagi seperti dulu. Bersemangat ketika melakukan sesuatu."


"Kakak harap setelah Kakak pergi, Zahra bisa hidup bahagia bersama Ayah dan Ibu Zahra. Juga ingin Zahra memaafkan Kakak karena mengambil banyak waktu Ayah kemarin."


Entah mengapa air mata Zahra turun dengan deras. Deya bangkit dan menyeka air mata Zahra. Setelah itu mengangkat wajah Zahra.


"Kakak harap setelah Kakak pergi, Zahra tidak pernah menangis lagi. Satu lagi, jaga Kakak titip Ayah Zahra. Jangan biarkan dia sedih. Temani dia jika sedang sendiri," ucap Deya serak. Menyeka air matanya sendiri.


Zahra memeluk Deya, menumpahkan kesedihannya. Dia sebetulnya sayang Deya hanya saja pikiran jelek yang sudah Soraya tanamkan di otaknya, membuat dia membenci Ibu sambungnya.


Mama Claudia yang berada di luar ruangan ikut menyeka air matanya. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang baik dan benar tapi yang pertama ingin dia lakukan hanya menyelamatkan Zahra terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2