Istri Simpanan Presiden

Istri Simpanan Presiden
Bab. 27 Komitmen


__ADS_3

Deya berbaring di tempat tidur, berfokus pada pria yang berdiri hanya menggunakan boxer dan menjulang di seberang ruangan. Pria itu membelakanginya dengan kedua tangan berada di atas kepala menatap keluar jendela kaca yang besar.


Hujan dan petir jatuh diantara kaca itu sehingga cahayanya terkadang masuk ke dalam kamar mereka yang besar dan gelap. Dia sedang melamun walau berdiri di depan jendela kaca dengan banyaknya kilat menyambar bukan pilihan yang tepat.


Dia mungkin memikirkan pernikahannya. Deya sempat mendengar sebagian obrolan Edward dengan orang tuanya. Walau dia tidak tahu apa masalahnya tetapi Deya cukup tahu jika pernikahan Edward sebenarnya dalam masalah.


Melihat Edward sedang gundah membuat Deya merasa simpati. "Mas." Deya tahu jika Edward sedang membutuhkannya saat ini dan Deya juga butuh dia.


Menurut berita yang beredar **** mampu melepaskan oksitosin atau 'love hormone'. Pelepasan hormon ini berkaitan dengan rasa dekat dan intim, merasa lebih baik. Barangkali ini pula alasan mengapa Deya mulai lebih memikirkan Edward setelah berbagi waktu yang penuh gairah dengannya. Dia mulai peduli dengan perasaan pasangannya.


Deya takut jika rasa ini akan membuatnya jatuh cinta lalu dia akan di buang begitu saja setelah Edward bosan atau setelah hubungan mereka diketahui oleh semua orang. Itu pasti akan menyakitkan untuknya. Setelah semua kebersamaan mereka.


Edward berbalik berlahan untuk menatapnya. Rahangnya yang tajam tertutup bayangan gelap, tulang pipi dan alis yang tinggi menunjukkan suatu kelegaan yang hebat. Edward ingin menolaknya itu terlihat di rahang yang kencang dan bibir yang menipis.


Deya sama sekali tidak mempercayainya. ada terlalu banyak kepedihan, terlalu banyak konflik di mata Edward itu tiba-tiba seperti menghancurkan hatinya. Dia menepuk kasur di sampingnya. "Kembalilah ke mari.''


Ke tempat dia bisa memeluknya, berbagi kehangatan dan kerasnya yang menghentak tubuhnya. Membawanya dalam dunia yang tidak dia mengerti, kenikmatan yang baru dia kenal dalam beberapa hari ini. Mungkin jika dia berusaha untuk mencintainya, Edward akan menemukan kedamaian dalam pelukannya.


"Kumohon," merasakan kelegaan saat Edward kembali lagi menyeberangi ruangan dan berbaring disampingnya.


"Kakimu dingin," ucap Deya kembali menempelkan tubuh polosnya ke dalam pelukan Edward. Menyelimuti pria itu dengan selimut yang dia gunakan.


Dia tidak akan tahu betapa lembut tubuhnya jika tidak bersentuhan dengan tubuh sekeras baja milik Edward. Dia bingung harus mengatakan apa untuk meredakan ketegangan di wajah suaminya.


"Seharusnya kau tidur," kata Edward muram.


Edward pendiam dan Deya mulai merasa nyaman karenanya tetapi kali ini kebisuan lelaki ini mengganggunya.


"Kau bisa mengatakan apa yang mengganggumu."

__ADS_1


Edward menatap langit-langit. Deya menatap wajah yang memikat dan membuat dia terpana ketika pertama kali melihatnya. Hidung mancung yang kuat, rahang yang bersih dan mata yang dalam dan misterius.


Dia kini mulai suka untuk memandangnya. Ketenangan dan kepercayaan diri pria itu membuat rasa aman dan damai ketika bersamanya.


Deya mendes** dengan berat dan menyentuh dada Edward. "Berbagilah padaku agar beban di dadamu sedikit terangkat."


Edward tetap diam selama sesaat. "Ini bukan hal yang mudah untuk kulewati dan aku merasa gagal."


"Apa yang tidak berhasil?" tanya Deya penasaran.


Otot-otot di rahang Edward mulai mengetat. "Ini antara aku, kau dan Soraya serta Zahra."


"A-apa maksudmu?"


"Aku menyayangimu De walau kita baru saling mengenal tetapi aku punya keluarga sendiri. Aku tidak bisa menawarkan komitmen lebih karena itu pasti akan menyakitimu lebih dalam lagi. Aku juga tidak bisa meninggalkan keluargaku hanya karena ada kau di sisiku." Dia menghindari tatapan mata Deya.


"Tidak!" tolak Edward keras tetapi ragu. "Astaga Deya sekarang hanya dirimu yang bisa membuatku menatap dunia dengan indah."


"Lalu apa maksudmu kau tidak bisa menjalankan komitmen seperti ini? Aku tidak meminta komitmen darimu?"


"Mungkin sekarang tidak tetapi esok hari, kau pasti menuntut untuk menjalani hubungan ini dengan status istri sah secara resmi." Deya menyadari itu bahwa apa yang dikatakan Edward ada benarnya juga. Suatu hari dia mungkin lelah hanya menjadi simpanan dan ingin meresmikan hubungan mereka.


Orangtuanya juga pasti akan menanyakan kepastian hubungan mereka dan apakah dia tidak akan pernah punya anak dengan pria ini? Ini semua terlalu rumit. Sesuatu yang dia sangka mudah malah akan memperumit masalahnya.


"Apakah menurutmu hubungan ini salah?" tanya Deya penuh harap.


"Tadinya aku hanya ingin membalas semua yang istriku lakukan dengan menjalin hubungan tanpa komitmen denganmu. Namun, aku takut dengan perasaanku sendiri. Kau terlalu manis untuk disakiti tetapi aku malah melukaimu. Aku merusak masa depanmu. Itu bukan sesuatu yang bisa dimaafkan dengan mudah."


Deya sulit untuk berpikir dengan deru darah yang bertalu-talu di pikirannya. "Aku tidak pernah meminta sebuah komitmen denganmu." Ada rasa putus asa dalam suaranya. Hatinya mulai terasa tercabik-cabik.

__ADS_1


Apakah Edward akan membuangnya sekarang?


"Tapi itulah yang akan kau inginkan nantinya." Edward menyapukan tangannya ke wajah, terlihat menderita. "Itu tidak akan terjadi jika kau terus bersamaku. Selamanya kau hanya akan menjadi yang kedua, disembunyikan. Aku tidak cocok untuk hubungan jangka panjang. Kukira aku bisa melakukannya dan aku ingin nyatanya aku tidak akan pernah bisa."


Edward mendadak bangkit dari tempat tidur menyambar pakaiannya dari dalam lemari.


"Dengar seharusnya kita tidak bertemu. Maafkan aku!" ucap Edward. Edward menarik celananya ke pinggang lalu memakai kemejanya. Sedangkan Deya hanya terpaku sendiri di atas ranjang.


Edward menyambar jas dan melangkah ke pintu.


"Tunggu!" Deya menyambar selimut guna menutupi tubuhnya yang polos.


"Kau tidak bisa melakukan ini setelah semua yang kita lakukan!"


"Kita bisa bicarakan masalah ini lagi," lirih tertahan Deya.


"Tidak ada yang perlu untuk dibicarakan."


"Kau begitu sempurna untuk kumiliki hingga aku akan sulit untuk melepaskanmu jika kita terus bersama."


Kain yang menutupi tubuh Deya mengenai benda tajam di ranjang membuatnya terjatuh. Dia langsung berdiri dan mengejar Edward. Ini seperti mimpi buruk untuknya.


"Aku akan menyerahkan semua ini padamu dan akan ditransfer sejumlah uang ke dalam kartu yang kau gunakan," tutur Edward memakai sepatu di depan pintu utama.


Amarah yang buta bergolak dan membuat Deya meledak bagai peluru yang keluar dari sebuah senjata api.


"Jika kau ingin membuangku begitu cepat mengapa kau harus bersusah payah menikahiku. Kau bisa cari wanita lain yang bisa kau miliki dalam waktu satu jam saja! Tidak perlu memberikan perhatian lebih dan rasa nyaman lalu...." Deya tidak bisa mengatakannya dadanya sudah terasa penuh sesak.


"Kau benar, aku hanya sekedar mampir memperoleh suatu keberuntungan karena mendapatkan sesuatu yang kau jaga sepenuh hati. Kau pun tidak merugi karena kau mendapatkan uang yang kau inginkan bahkan melebihi apa yang ada dalam pikiranmu." Edward tidak tega untuk mengatakannya tetapi dia harus melakukannya agar Deya tidak mengejarnya lagi. Jika sampai mereka bersama lagi, dia yakin tidak akan pernah bisa melepaskan Deya selamanya.

__ADS_1


__ADS_2